Pergunu Kota Depok Kecam Keras Serangan Israel ke Sekolah di Iran, 50 Pelajar Dilaporkan Tewas

Kota Depok, 28 Februari 2026 – Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Pimpinan Cabang Kota Depok mengecam keras serangan militer yang dilakukan oleh Israel terhadap wilayah Republik Islam Iran yang dilaporkan mengenai dua sekolah dan menewaskan sedikitnya 50 pelajar yang tengah mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Wakil Ketua PC Pergunu Kota Depok, Hakim Hasan, menyampaikan duka mendalam sekaligus keprihatinan atas peristiwa tersebut. Ia menilai serangan yang menyasar fasilitas pendidikan merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional dan nilai-nilai kemanusiaan universal.

“Kami mencermati situasi internasional saat ini dengan penuh keprihatinan. Serangan yang melanggar kedaulatan sebuah negara, terlebih sampai mengenai sekolah dan menewaskan para pelajar yang sedang belajar, adalah tindakan yang sangat tidak berperikemanusiaan,” ujar Hakim Hasan dalam keterangannya, Sabtu (28/2/2026).

Menurutnya, sekolah adalah ruang aman yang harus dilindungi dalam kondisi apa pun. Menjadikan fasilitas pendidikan sebagai sasaran serangan dinilai telah mencederai prinsip perlindungan terhadap warga sipil, khususnya anak-anak dan remaja yang tidak terlibat dalam konflik.

“Kami Persatuan Guru Nahdlatul Ulama PC Kota Depok mengecam dengan keras serangan Israel, termasuk pihak-pihak yang mendukung agresi tersebut. Dunia pendidikan tidak boleh menjadi korban konflik geopolitik. Anak-anak yang sedang menuntut ilmu adalah simbol masa depan peradaban,” tegasnya.

Hakim Hasan menambahkan, tragedi ini menjadi alarm keras bagi komunitas internasional agar lebih serius melindungi institusi pendidikan dari dampak perang. Ia juga menilai bahwa keterlibatan kekuatan besar dunia dalam konflik kawasan justru memperkeruh situasi dan memperbesar dampak kemanusiaan.

“Pergunu sebagai organisasi profesi guru di lingkungan Nahdlatul Ulama berdiri di atas nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang rahmatan lil ‘alamin. Kami menolak segala bentuk kekerasan terhadap warga sipil dan menyerukan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi serta dialog damai,” lanjutnya.

Ia pun mengajak para guru dan insan pendidikan di Indonesia untuk menanamkan nilai solidaritas kemanusiaan global kepada peserta didik, sekaligus memperkuat pendidikan karakter berbasis perdamaian.

“Peristiwa ini harus menjadi pelajaran bagi dunia bahwa ketika sekolah diserang dan pelajar menjadi korban, sesungguhnya masa depan kemanusiaan sedang terancam. Pendidikan harus dijaga sebagai ruang suci peradaban,” pungkas Hakim Hasan.