Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 April 2026

Dubes Iran Bertemu Jokowi di Solo, Bahas Perang dan Hubungan Bilateral?!

Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, melakukan kunjungan mendadak ke Solo, Jawa Tengah, dan bertemu dengan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), pada Rabu (1/4/2026). Pertemuan ini membahas situasi perang Iran dan memperkuat hubungan bilateral antara Indonesia dan Iran.

Dalam pertemuan tersebut, Jokowi menyampaikan rasa simpati kepada rakyat Iran dan dukungan terhadap keteguhan Iran dalam menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayahnya. Boroujerdi juga menyampaikan laporan komprehensif mengenai kondisi lapangan terkini, termasuk serangan terhadap kawasan sipil, infrastruktur vital, dan fasilitas ekonomi di Iran.

*Kunci Pertemuan:*

- *Dukungan Indonesia*: Jokowi menyampaikan dukungan terhadap Iran dalam menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayahnya.
- *Kerja Sama Bilateral*: Kedua pihak menegaskan pentingnya melanjutkan dialog, memperkuat kerja sama bilateral, dan memperluas hubungan antar masyarakat kedua negara.
- *Perdamaian dan Stabilitas*: Jokowi berharap perdamaian, stabilitas, dan ketenangan segera kembali ke kawasan Timur Tengah.

Pertemuan ini menunjukkan komitmen Indonesia dan Iran dalam memperkuat hubungan bilateral dan menjaga stabilitas di kawasan. ¹

Rabu, 01 April 2026

Di Tengah Tekanan Global, Kemenpar Siapkan Strategi Jaga Target Pariwisata 2026

Kompassantri, Jakarta, 1 April 2026  Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan rencana kerja Kementerian Pariwisata tahun 2026 dalam Rapat Kerja bersama Komisi VII DPR RI, yang dipimpin oleh Ketua Komisi VII DPR, Saleh P Daulay. Pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjaga kinerja sektor pariwisata tetap solid, meskipun menghadapi tantangan global yang dinamis.
Dalam paparannya, Menteri Pariwisata menjelaskan bahwa program prioritas Kemenpar tahun 2026 diarahkan pada penguatan pariwisata berkualitas yang aman, berkelanjutan, dan berdampak pada ekonomi masyarakat. Salah satu fokus utama adalah peningkatan keselamatan berwisata melalui pelatihan berbasis kompetensi dan sertifikasi bagi pemandu wisata, penyusunan pedoman keselamatan destinasi, hingga pemetaan kawasan wisata rawan bencana. Selain itu, pemerintah juga memperkuat pengembangan lebih dari 6.200 desa wisata melalui pendampingan masyarakat, sertifikasi desa wisata, serta penguatan jejaring ekonomi lokal berbasis pariwisata.
Pariwisata berkualitas akan terus diperkuat dengan terus melanjutkan program Wonderful Indonesia Gastronomi, Wonderful Indonesia Wellness, Event by Indonesia dan pengembangan digitalisasi pariwisata Indonesia melalui program Torism 5.0 yang sudah dimulai sejak tahun 2025.
*Dinamika Global dan Pariwisata Indonesia*
Di tengah upaya penguatan program tersebut, sektor pariwisata global saat ini menghadapi dampak dari konflik di Timur Tengah. Penutupan wilayah udara Iran pada periode 28 Februari hingga 28 Maret 2026 menyebabkan gangguan penerbangan dari enam hub utama penerbangan internasional—Abu Dhabi, Doha, Dubai, Jeddah, Madinah, dan Muscat—yang berkontribusi pada pembatalan sekitar 770 penerbangan menuju Jakarta, Bali, dan Medan. Situasi ini diperkirakan menyebabkan potensi kehilangan sekitar 60 ribu kunjungan wisatawan mancanegara dengan potensi devisa yang tidak terealisasi mencapai sekitar Rp2,04 triliun.
“Dinamika geopolitik global tentu memberikan tekanan terhadap sektor pariwisata. Namun kami terus melakukan langkah-langkah mitigasi agar target kinerja pariwisata nasional tetap terjaga,” ujar Menteri Pariwisata.
Tekanan terhadap sektor pariwisata juga muncul dari kenaikan harga energi global. Harga minyak mentah dunia meningkat lebih dari 52 persen, dari sekitar 67 dolar AS per barel menjadi lebih dari 102 dolar AS per barel dalam kurun waktu satu bulan. Kondisi ini memicu kenaikan biaya transportasi melalui penerapan fuel surcharge oleh berbagai maskapai internasional serta peningkatan tarif moda transportasi lintas negara.
Menghadapi situasi tersebut, Kementerian Pariwisata telah menyiapkan sejumlah strategi mitigasi untuk menjaga pencapaian target 16–17,6 juta kunjungan wisatawan mancanegara pada tahun 2026. Strategi tersebut antara lain melakukan pivot pasar ke kawasan Asia Tenggara, Asia Timur, dan pasar medium-haul, memperkuat kampanye digital internasional, serta mengoptimalkan kerja sama dengan maskapai yang memiliki rute langsung ke Eropa dan Amerika. Pemerintah juga mendorong penyelenggaraan event lintas batas di kawasan perbatasan serta memperkuat promosi wisata nusantara guna menjaga tingkat hunian destinasi wisata di dalam negeri.
“Di tengah tekanan global, kita perlu bergerak lebih adaptif. Diversifikasi pasar, penguatan promosi, dan optimalisasi wisata nusantara menjadi kunci agar sektor pariwisata tetap menjadi penggerak ekonomi nasional,” jelas Menteri Pariwisata.
Lebih lanjut, Menteri Pariwisata menegaskan bahwa pencapaian target kinerja pariwisata nasional membutuhkan dukungan lintas kementerian dan lembaga. Pemerintah mendorong sejumlah langkah strategis seperti pemberian insentif penerbangan yang relevan, kebijakan bebas visa kunjungan, penambahan kapasitas kursi penerbangan, serta penguatan anggaran promosi pariwisata agar Indonesia tetap kompetitif di tengah persaingan global.
“Kami percaya bahwa dengan kolaborasi seluruh kementerian dan lembaga, serta dukungan DPR RI, sektor pariwisata Indonesia akan tetap tangguh dan mampu menjaga kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional,” tutup Menteri Pariwisata.
Dalam pandangannya Ketua Komisi VII, Saleh Daulay mengapresiasi strategi mitigasi yang disiapkan Kementerian Pariwisata dalam menghadapi perkembangan dinamika global. Di sisi lain Komisi VII meminta penguatan konektivitas dan pergerakan wisatawan nusantara di tengah situasi ketidakpastian global pada saat ini.
Sementara itu anggota Komisi VII dari Fraksi PDIP, Putra Nababan meminta Kementerian Pariwisata untuk mempelajari pola shifting akibat perubahan strategi ini, karena ada perbedaan behaviour antara wisatawan yang long haul (Eropa dan Amerika) dan medium haul (Asia Timur dan Asia Selatan) dan short haul (ASEAN).
Putra secara spesifik meminta pemerintah segera memberikan bebas visa terutama untuk wisatawan Tiongkok dan Australia agar shifting strategi Kementerian Pariwisata ini menjadi kebijakan nasional.
“Jangan ada ego sektoral lagi, kami mendukung Ibu Menteri harus memimpin pemberian bebas visa oleh pemerintah bagi wisatawan terutama Tiongkok dan Autralia”, kata Putra Nababan.
*Biro Komunikasi*
*Kementerian Pariwisata*
*Klik, follow, dan subscribe website & medsos kami👇🏻*
Website https://kemenpar.go.id/ 
Instagram @kemenpar.ri
Twitter/X @KemenPariwisata
Tiktok @kemenpariwisata
Facebook Kementerian Pariwisata RI 
Youtube Kementerian Pariwisata

Selasa, 31 Maret 2026

Skakmat di Selat Hormuz: Mengapa Trump 'Kehilangan Nyali' dan Terjebak Taktik Atrisi Iran?

Kompassantri-Dunia internasional sedang menyaksikan drama geopolitik yang menegangkan di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kini berada dalam posisi yang sangat sulit terkait konfrontasi militer dengan Iran. Ibarat pepatah "maju kena, mundur pun kena," kebijakan Trump di Selat Hormuz dinilai penuh kontradiksi dan berisiko meruntuhkan martabat AS sebagai negara adidaya. Di satu sisi, Pentagon terus mengerahkan ribuan pasukan tambahan, namun di sisi lain, Trump secara mengejutkan membuka opsi untuk mengakhiri kampanye militer meskipun jalur vital energi dunia tersebut masih terblokade rapat.
Dilema Ironis Washington: Pengerahan Pasukan vs. Narasi Mundur
Keputusan Trump untuk mempertimbangkan pengakhiran misi militer terasa sangat ironis mengingat fakta di lapangan. Pentagon baru saja mengerahkan 17.000 pasukan tambahan ke wilayah tersebut, dan Trump bahkan sempat mempertimbangkan untuk mengirim 10.000 pasukan darat lagi. Aset raksasa seperti USS Tripoli, unit ekspedisi marinir ke-31, hingga divisi lintas udara ke-82 telah disiagakan di Timur Tengah.
Namun, menurut laporan para pejabat Gedung Putih, Trump kini tampaknya ingin "kabur" dari palagan peperangan. Alasan yang dikemukakan adalah ketakutan bahwa misi untuk membuka kembali Selat Hormuz akan memperpanjang keterlibatan militer AS melebihi tenggat waktu enam minggu yang telah ditetapkan. Laporan Wall Street Journal menyebutkan adanya pergeseran tujuan yang lebih sempit, yaitu hanya melumpuhkan angkatan laut dan persediaan rudal Iran, bukan lagi memastikan kebebasan navigasi sepenuhnya.

Dampak Ekonomi Global dan Kecaman Sekutu
Kebijakan "setengah hati" ini diambil di saat harga minyak mentah dunia telah meroket melewati angka 100 dolar per barel. Pemblokiran Selat Hormuz telah melumpuhkan pasokan energi global, memukul telak industri yang bergantung pada barang-barang seperti pupuk dan helium untuk cip komputer.
Langkah Trump ini menuai kritik tajam dari para analis internasional. Susan Maloni dari Broking's Institution menyebut penghentian operasi militer sebelum selat terbuka sebagai tindakan yang sangat tidak bertanggung jawab. Ia menegaskan bahwa AS dan Israel, yang memulai konflik ini bersama-sama, tidak bisa begitu saja lepas tangan dari konsekuensi ekonomi yang ditimbulkan.
Analisis dari Stepen Collinson di CNN bahkan menyoroti fenomena "Taco" atau "Trump always chicken out," sebuah sindiran bahwa sang presiden cenderung memilih mundur saat situasi mulai tidak terkendali. Jika AS mundur tanpa memastikan Selat Hormuz terbuka, hal itu akan dianggap sebagai kegagalan strategis yang memalukan di hadapan sekutu NATO dan negara-negara Arab di Teluk, serta menyia-nyiakan pengorbanan miliaran dolar dan nyawa prajurit.

Cerdiknya Taktik Atrisi dan Geopolitik Pilih Kasih Iran
Di tengah kebingungan Washington, Iran dengan cerdik memanfaatkan Selat Hormuz sebagai kunci dari taktik atrisi (perang berbasis kelelahan sumber daya) untuk melemahkan musuh. Teheran tidak mengincar kemenangan militer langsung, melainkan fokus pada penghancuran roda ekonomi global.
Iran kini bahkan berani menerapkan taktik geopolitik pilih kasih yang memecah belah sekutu AS. Mereka membagi negara-negara menjadi status "musuh" dan "bukan musuh". Kapal tanker dari negara-negara seperti Cina, Rusia, India, hingga Malaysia diizinkan melintas mulus, sementara kapal yang terkait dengan AS tetap diblokade total.
Untuk kapal berstatus "non-hostile" yang ingin melintas, Teheran menerapkan dua syarat ketat:
 1. Kapal harus secara terbuka menentang agresi AS dan Israel terhadap Iran.
 2. Kapal tersebut tidak boleh terlibat dalam operasi militer maupun serangan terhadap Iran.

Lebih jauh lagi, Iran berencana memonetisasi selat tersebut dengan menerapkan sistem tarif tol, yang diprediksi bisa menghasilkan ratusan juta dolar per bulan, menyaingi pendapatan Terusan Suez di Mesir.

Kesimpulan: Perjudian Besar dan Hilangnya Kepercayaan Dunia, 
Sikap Donald Trump yang ingin "cuci tangan" dari perang Iran adalah perjudian besar yang berisiko fatal. Meskipun ribuan pasukan telah dikerahkan, ketidakmampuan AS untuk membuka Selat Hormuz menunjukkan kelemahannya di hadapan taktik cerdik Teheran. Dunia kini melihat sebuah ironi: negara dengan armada laut terkuat di dunia justru tercekat oleh ranjau dan keberanian pemain regional yang berhasil menyandera urat nadi energi global. Akibatnya, para sekutu Washington mulai berjalan sendiri-sendiri demi menyelamatkan kepentingan nasional mereka, menandakan hilangnya kepercayaan dunia pada janji-janji Amerika Serikat.
*oleh: alwi sahlan, kompassantri

Kata Kunci SEO (Keywords):
 * Primer: Donald Trump Iran, Konflik Selat Hormuz, Geopolitik Timur Tengah, Kebijakan Luar Negeri AS.
 * Sekunder: Harga Minyak Dunia, Taktik Atrisi Iran, Pentagon Pasukan Timur Tengah, Blokade Energi Global, Hubungan AS-Israel, Sekutu NATO Timur Tengah.
 * Long-tail: Mengapa Trump batal perang dengan Iran, Dampak penutupan Selat Hormuz bagi ekonomi dunia, Taktik pilih kasih Iran di Selat Hormuz, Kegagalan strategis Amerika Serikat di Timur Tengah, Krisis energi global akibat konflik Iran.

Sabtu, 28 Maret 2026

Skandal Kaum Haredi: Beban Ekonomi dan Moralitas Zionisme

*Abstrak:
Kaum Haredi, kelompok ultra-ortodoks Yahudi di Israel, merupakan beban ekonomi dan moralitas bagi negara Zionis. Dengan populasi sekitar 13-14% dari total penduduk Israel, kaum Haredi tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap produk domestik bruto, namun mereka menikmati kemewahan dan subsidi negara. Artikel ini membahas tentang kehidupan kaum Haredi, kebijakan pemerintah Israel, dan dampaknya terhadap masyarakat Palestina.

*Pendahuluan:
Kaum Haredi adalah kelompok ultra-ortodoks Yahudi yang hidup di Israel. Mereka dikenal karena gaya hidup yang sangat religius dan menolak modernitas. Namun, di balik penampilan religius, kaum Haredi merupakan beban ekonomi dan moralitas bagi negara Zionis.

*Kehidupan Kaum Haredi:
Kaum Haredi hidup dalam kemewahan dan subsidi negara. Mereka tidak bekerja dan tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap produk domestik bruto. Sebaliknya, mereka menikmati tunjangan bulanan, subsidi perumahan, dan tunjangan anak yang besar. Lebih dari 50% pria Haredi tidak memiliki pekerjaan dan menghabiskan waktu mereka di lembaga pendidikan agama.

*Kebijakan Pemerintah Israel:
Pemerintah Israel memberikan subsidi besar kepada kaum Haredi untuk menjaga dukungan politik mereka. Anggaran negara Israel setiap tahunnya dikuras habis untuk membiayai kemalasan kaum Haredi. Kebijakan ini juga digunakan untuk memelihara kelompok radikal dan menjaga kekuasaan pemerintah.

*Dampak terhadap Masyarakat Palestina:
Kehidupan kaum Haredi yang mewah dan subsidi negara yang mereka terima merupakan beban bagi masyarakat Palestina. Mereka dirampas hak ekonominya dan hidup dalam kemiskinan. Kaum Haredi juga terlibat dalam kekerasan dan perusakan properti Palestina.

*Kesimpulan:
Kaum Haredi merupakan beban ekonomi dan moralitas bagi negara Zionis. Kebijakan pemerintah Israel yang memanjakan kaum Haredi harus diubah untuk menjaga keadilan dan kesetaraan. Masyarakat internasional harus menyadari bahwa Zionisme bukan hanya ancaman bagi Palestina, tapi juga racun bagi kemanusiaan itu sendiri.


*Kata Kunci: Haredi, Zionisme, Palestina, Ekonomi, Moralitas.

Kamis, 26 Maret 2026

Jet Tempur Amerika Dipaksa Bertarung dengan Cara Tak Terduga: Bom Laser Hadapi Drone Iran


Sebuah jet tempur F15 Eagle Amerika terbang di langit Qatar dengan misi menghentikan gelombang drone dan rudal Iran yang datang. Awalnya, pilot menembakkan rudal satu persatu, menjatuhkan drone musuh satu demi satu. Namun, jumlah drone yang datang terlalu banyak, membuat langit dipenuhi target kecil yang terus berdatangan.

Persenjataan jet tempur itu semakin menipis, hingga akhirnya rudal habis. Di titik itulah, pilot Amerika melakukan sesuatu yang jarang sekali dilakukan dalam pertempuran udara: menggunakan bom berpemandu laser untuk menyerang target yang terbang di udara.

Insiden ini membuat para jenderal di Pentagon menyadari bahwa dalam perang melawan drone murah, bahkan jet tempur bernilai puluhan juta dolar bisa dipaksa bertarung dengan cara yang tidak pernah mereka bayangkan. Pertanyaan besar muncul: bagaimana jika perang masa depan bukan dimenangkan oleh senjata paling mahal, tetapi oleh senjata yang paling murah?

Militer Amerika telah mulai mengembangkan teknologi laser untuk menghadapi ancaman drone, seperti sistem ODIN dan HELIOS, yang dapat menetralisir ancaman asimetris tanpa menguras stok rudal mahal ¹. 

Kurator: Alwi Sahlan 


Keyword: 
Jet Tempur Amerika, Drone Iran, Bom Laser, Perang Udara, Militer Amerika, Qatar

Sabtu, 21 Maret 2026

"Zionist-Killer" | Jet Triliunan Rupiah Israel VS Mainan Murah Iran


Guncangan di Gurun Negev: Drone "Zionist-Killer" Iran Berhasil Bobol Pangkalan F-35 Israel?

Kompassantri - JERUSALEM – Dunia militer internasional dikejutkan oleh laporan dugaan bobolnya sistem pertahanan udara Israel di Gurun Negev pada 19 Maret 2026. Sebuah pangkalan udara rahasia yang menjadi rumah bagi skuadron elite jet tempur siluman F-35 "Adir" dikabarkan berhasil ditembus oleh gelombang drone kamikaze terbaru milik Iran, yang dijuluki sebagai "Zionist-Killer". 

Jet Triliunan Rupiah vs Mainan Murah
Insiden ini menjadi tamparan keras bagi kredibilitas teknologi pertahanan Barat. Jet tempur F-35 yang memiliki harga fantastis sekitar Rp1,5 triliun per unit, dilaporkan hancur di landasan pacu bukan oleh rudal balistik raksasa, melainkan oleh kawanan drone murah yang mampu bermanuver secara cerdas.
Sistem Iron Dome dan radar canggih yang selama ini dianggap tak tertembus, tampaknya gagal mendeteksi kehadiran penyusup kecil ini. Analis militer menyebut kejadian ini sebagai "misteri strategis" yang memalukan bagi Tel Aviv dan Washington.

Rahasia Shahed-238: AI dan Mode Siluman
Kunci keberhasilan serangan ini diduga terletak pada varian baru drone Shahed-238. Berbeda dengan pendahulunya yang hanya mengikuti rute terprogram, varian ini dilengkapi dengan Kecerdasan Buatan (AI) yang memungkinkannya untuk:
 * Membaca Sinyal Jamming: Drone dapat mendeteksi upaya gangguan sinyal dan mengubah jalur secara mandiri.
 * Kamuflase Radar: Menggunakan material komposit penyerap radar, drone ini memiliki jejak sekecil burung pipit, sehingga sulit dibedakan dari objek sipil atau gangguan alam.
 * Taktik Swarming: Meluncurkan puluhan drone secara bersamaan untuk membanjiri dan membingungkan sistem pertahanan udara.

Pergeseran Paradigma Perang Modern
Teheran secara tersirat merayakan pencapaian ini sebagai kemenangan inovasi asimetris. Strategi "kematian oleh seribu luka kecil" ini membuktikan bahwa anggaran militer yang besar bukan lagi jaminan keamanan mutlak.
"Ini bukan lagi soal siapa yang punya jet tempur termahal, tapi siapa yang bisa berinovasi paling cepat dan efisien," ungkap laporan tersebut. Insiden di Negev ini menandai babak baru dalam sejarah militer, di mana AI mulai mengambil peran sentral dalam menentukan kemenangan di medan tempur.

Penjelasan Sistematis: Mengapa Kejadian Ini Penting?
Agar lebih mudah dipahami, berikut adalah poin-poin sistematis mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam narasi tersebut:
1. Apa yang Terjadi?
Terjadi serangan drone (pesawat tanpa awak) milik Iran ke pangkalan udara militer Israel di Gurun Negev pada Maret 2026. Targetnya adalah pesawat tempur tercanggih dunia, F-35.

2. Mengapa Sistem Pertahanan Israel Gagal?
Israel dikenal punya pertahanan udara terbaik di dunia (Iron Dome, dsb), tapi gagal karena:
 * Ukuran Drone: Drone Iran terbang rendah dan kecil, sehingga radar sering menganggapnya sebagai burung.
 * Jumlah yang Banyak (Swarming): Jika dikirim 50 drone sekaligus, sistem pertahanan akan kewalahan karena hanya bisa menembak jatuh sebagian, sementara sisanya masuk ke target.
 * Teknologi AI: Drone ini tidak bisa "dibajak" sinyalnya (anti-jamming) karena mereka bisa berpikir sendiri untuk mencari jalan alternatif.

3. Apa Itu Perang Asimetris?
Ini adalah poin inti dari narasi tersebut.
 * Analogi: Seperti menggunakan 1.000 kerikil tajam untuk merusak perisai baja yang sangat mahal.
 * Iran tidak perlu membuat pesawat semahal F-35. Mereka hanya perlu membuat ribuan drone murah yang total harganya jauh lebih kecil dari satu buah F-35, namun bisa menghancurkan pesawat mahal tersebut saat masih di darat.

4. Dampak Geopolitik
 * Posisi Tawar Iran: Iran kini punya bukti bahwa mereka bisa menyerang titik paling rahasia dan kuat milik lawan.
 * Pelajaran bagi Dunia: Negara lain (termasuk Indonesia) diingatkan bahwa membeli senjata mahal saja tidak cukup. Inovasi teknologi lokal dan kesiapan menghadapi drone kecil kini jauh lebih penting.

5. Pesan Moral
Narasi ditutup dengan pengingat bahwa meskipun teknologi semakin pintar (AI), keputusan untuk berperang tetap ada di tangan manusia. Peningkatan teknologi senjata sering kali hanya memicu perlombaan senjata baru yang menjauhkan dunia dari kedamaian.

Kurator: Alwi Sahlan, Kompassantri

Kabut Perang dan Ancaman Konflik Global: Menakar Posisi Indonesia di Tengah Ketegangan Timur Tengah

JAKARTA – Ketegangan di Timur Tengah antara Israel dan Iran kini tidak hanya menjadi urusan militer fisik, tetapi telah bergeser menjadi perang asimetris yang melibatkan teknologi canggih dan manipulasi informasi. Pakar Geopolitik dan Keamanan Nasional, Bebo Anton Nugroho Widodo, mengungkapkan bahwa dunia saat ini sedang berada dalam fase "Fog of War" atau kabut perang yang penuh ketidakpastian.
Berikut adalah poin-poin utama dalam membedah eskalasi konflik global dan posisi strategis Indonesia:
1. Perang Cyber: Dari Teknis hingga Manipulasi Sosial
Menurut prediksi RAND Corporation, peperangan modern kini bertumpu pada delapan teknologi kunci, mulai dari AI, Big Data, hingga sistem otonom. Perang cyber ini terbagi menjadi dua kategori utama:
 * Serangan Teknikal: Menyerang infrastruktur fisik (perangkat keras) dan perangkat lunak. Contoh nyata adalah serangan Stuxnet yang melumpuhkan pengayaan nuklir Iran.
 * Serangan Sosial: Menyerang "lapisan ketiga" ruang cyber, yaitu kognisi manusia. Tujuannya adalah memengaruhi emosi, opini, dan pengambilan keputusan masyarakat melalui informasi yang dikaburkan (disinformasi).
2. Misteri "Hilangnya" Benjamin Netanyahu dan Strategi AI
Terkait simpang siur kondisi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, Bebo menilai hal tersebut bisa jadi merupakan strategi kesengajaan.
> "Kekaburan informasi, termasuk penggunaan video AI yang terlihat palsu, bisa jadi bagian dari Fog of War. Dalam kebingungan itu, terdapat ruang manuver yang tidak terduga bagi pihak yang bertikai," ujarnya.
Strategi ini digunakan untuk mengimbangi posisi pemimpin Iran yang juga sering diselimuti misteri, sekaligus menguji reaksi kognitif lawan.
3. Siklus Perang Dunia: Prediksi 5 hingga 10 Tahun ke Depan
Bebo menyoroti pola historis pasca-pandemi global. Jika berkaca pada jarak antara Spanish Flu dengan Perang Dunia, maka periode pasca-COVID-19 menjadi masa yang sangat rawan.
 * Skenario Regional: Terdapat peluang 40% konflik saat ini tetap berada pada level perang regional terbatas.
 * Skenario Global: Jika perang regional tidak terkontrol dalam satu tahun ke depan, peluang pecahnya Perang Dunia III diprediksi bisa meningkat hingga di atas 50% dalam rentang tahun 2026 hingga 2032.
4. Tantangan Domestik Amerika Serikat
Faktor politik internal AS turut menentukan durasi konflik. Dengan adanya Midterm Election (Pemilu paruh waktu) pada November mendatang, pemerintahan Joe Biden dari Demokrat berada di posisi sulit. Jika perang terus menguras sumber daya AS dan memicu inflasi, peluang kemenangan Partai Republik akan semakin besar, yang secara langsung berdampak pada peta geopolitik dunia.
5. Kesiapan Indonesia: Militer dan Ketahanan Nasional
Menghadapi situasi global yang tidak menentu, Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden terpilih Prabowo Subianto ditekankan untuk memperkuat tiga pilar pertahanan:
 * Homeland Defense: Kesiapan menghadapi invasi fisik atau serangan rudal nyasar.
 * Homeland Security: Peran militer dalam membantu sektor sipil, seperti ketahanan pangan dan pengamanan sumber daya alam.
 * Diplomasi Internasional: Indonesia harus memiliki akses setara ke seluruh pihak yang bertikai (Yahudi, Arab, dan Persia) untuk menjadi juru damai yang kredibel.
Kesimpulan: Rakyat Harus "Militan"
Bebo menekankan bahwa kunci utama menghadapi ancaman perang bukan hanya pada senjata, melainkan pada Ketahanan Nasional. Hal ini mencakup kepercayaan publik (public trust) terhadap pemerintah, disiplin masyarakat dalam menjaga stok kebutuhan pokok, dan mentalitas yang kuat (militan).
"Komunikasi yang baik dari pemerintah sangat penting untuk 'membuat terang' situasi, sehingga masyarakat tidak terjebak dalam kepanikan namun tetap waspada terhadap segala kemungkinan," tutupnya. 

Kurator: Alwi Sahlan, Kompassantri


Trump Nyerah! AS Pertimbangkan Cabut Sanksi 140 Juta Barel Minyak Iran demi Stabilkan Harga Dunia


kompassantri - WASHINGTON – Pemerintahan Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan langkah strategis besar untuk meredam gejolak pasar energi global. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan bahwa pemerintah sedang mengkaji pencabutan sanksi sementara terhadap stok minyak Iran yang saat ini tertahan di laut.
Upaya Meredam Krisis Energi
Langkah yang diwacanakan pada Kamis lalu ini muncul sebagai respons atas melonjaknya harga energi dunia. Ketegangan yang terus meningkat di wilayah Selat Hormuz menjadi faktor utama yang memicu ketidakpastian pasokan dan kenaikan harga di pasar internasional.
Setidaknya terdapat sekitar 140 juta barel minyak Iran yang saat ini masih tertahan akibat sanksi. Dengan mencabut sanksi ini secara sementara, diharapkan volume minyak yang besar tersebut dapat segera mengalir ke pasar global untuk menyeimbangkan neraca permintaan dan penawaran.
India dan Jepang Jadi Fokus Utama
Kebijakan ini diprediksi akan membawa angin segar bagi negara-negara importir besar di Asia. Jika terealisasi, kilang-kilang minyak di India dan Jepang akan mendapatkan akses kembali ke pasokan minyak Iran tersebut.
Langkah ini dianggap krusial untuk:
 * Meredam dampak krisis energi global yang kian menghimpit ekonomi banyak negara.
 * Memberikan ruang napas bagi industri manufaktur dan transportasi yang bergantung pada bahan bakar fosil.
 * Menurunkan volatilitas harga di bursa komoditas internasional.
Hingga saat ini, para pelaku pasar masih menunggu keputusan resmi terkait teknis dan durasi pencabutan sanksi sementara tersebut. Jika berhasil, ini akan menjadi salah satu manuver ekonomi paling signifikan di awal periode pemerintahan Trump untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik maupun global. 
Kata Kunci SEO: 
Sanksi Minyak Iran, Donald Trump, Harga Energi Dunia, Krisis Energi Global, Scott Bessent, Minyak Mentah, Ekonomi Internasional.

Kamis, 19 Februari 2026

Khamenei: Jika AS Memulai Perang berpotensi berubah menjadi perang regional.

 


1 Februari 2026 — Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatullah Ali Khamenei, memperingatkan Amerika Serikat untuk tidak memulai perang terhadap Iran. Ayatullah Khamenei menyatakan, jika perang dimulai, konflik tidak akan terbatas pada satu negara dan berpotensi berubah menjadi perang regional.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan ribuan orang dari berbagai lapisan masyarakat pada hari pertama dekade Fajr Suci. Laporan kantor berita IRNA pada Minggu (1/2/2026) menyebut Ayatullah Khamenei menilai ancaman-ancaman terbaru dari pejabat AS mengulang pola lama, termasuk ungkapan “semua opsi ada di meja”.

“Amerika harus tahu, jika mereka memulai perang kali ini, itu akan menjadi perang regional,” kata Ayatullah Khamenei, sebagaimana dikutip IRNA.

Konfrontasi Iran-AS dan Kritik terhadap “Dominasi”

Dalam pidato itu, Ayatullah Khamenei menilai konflik panjang Iran-Amerika Serikat selama sekitar 47 tahun bersumber dari upaya Washington untuk “menelan” Iran, sedangkan Iran menolak untuk tunduk. Ayatullah Khamenei menyebut penolakan terhadap dominasi asing membuat permusuhan terus berlanjut.

Ayatullah Khamenei juga menyebut berbagai potensi Iran, seperti minyak, gas, tambang, serta posisi geografis strategis, sebagai alasan munculnya “keserakahan” negara-negara besar. Dalam narasinya, Ayatullah Khamenei menyebut isu lain yang sering dibawa AS, seperti hak asasi manusia, yang menurutnya hanya dalih politik.

Menurut Ayatullah Khamenei, Iran tidak akan menjadi pihak yang memulai perang, namun akan memberikan respons keras jika diserang.

“Kami bukan pihak yang memulai dan tidak ingin menyerang negara mana pun. Namun bangsa Iran akan memberikan pukulan keras terhadap siapa pun yang ingin menyerang dan mengganggu,” tegas Ayatullah Khamenei.

Peristiwa 12 Bahman dan Sejarah Revolusi

Ayatullah Khamenei menyebut 12 Bahman dalam kalender Persia sebagai tanggal penting dalam sejarah Revolusi Islam. Tanggal tersebut diperingati sebagai momentum bersejarah terkait proses perubahan sistem pemerintahan Iran dari era monarki ke Republik Islam.

Ayatullah Khamenei membandingkan pemerintahan Pahlavi yang disebutnya “individualis, otoriter, anti-agama, dan bergantung” dengan sistem baru yang “berbasis rakyat, berdasarkan agama, dan menentang penindasan”.

Dalam bagian lain, Ayatullah Khamenei menyinggung kedatangan Imam Khomeini ke Teheran yang disebutnya disambut massa besar. Ayatullah Khamenei menyatakan dukungan publik kala itu menjadi faktor penting dalam perubahan politik yang menghapus monarki.

Baca juga : Forum Internasional Kebangkitan Islam Kecam Uni Eropa yang Tetapkan IRGC sebagai Organisasi Teroris

Kemajuan Negara dan “Kepercayaan Diri”

Ayatullah Khamenei menekankan konsep “kepercayaan diri bangsa” sebagai kekuatan utama revolusi. Dalam pernyataanya, perubahan politik tersebut membangkitkan keyakinan nasional dari “tidak bisa” menjadi “bisa”.

Ayatullah Khamenei juga mengangkat kemajuan Iran dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam pernyataannya, Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa Iran mencapai tahapan kemampuan yang membuat negara-negara besar memperhitungkan kekuatan Iran.

Pada bagian lain, Ayatullah Khamenei menolak narasi yang menyebut generasi muda Iran tidak punya masa depan. Ditegaskannya, Ayatullah Khamenei menyatakan anak muda Iran tetap memiliki tekad dan akan membangun masa depan negara.

Hasutan dan Operasi yang Dikomandoi Asing

Ayatullah Khamenei turut menyinggung kerusuhan yang disebut terjadi pada 18 dan 19 Diy bulan Persia (8-9 Januari 2026). Dalam pernyataannya, Ayatullah Khamenei menyebut kerusuhan tersebut memiliki corak Amerika dan Zionis, serta dijalankan oleh kelompok yang terdiri dari “pemimpin” dan “prajurit”.

Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa sebagian pemimpin kerusuhan tersebut telah ditangkap dan mengaku menerima pendanaan serta pelatihan, termasuk untuk menyerang pusat-pusat keamanan dan melakukan mobilisasi massa.

Ayatullah Khamenei juga menyebut keterlibatan lembaga intelijen asing, dan menerima informasi mengenai pengerahan sumber daya CIA dan Mossad dalam situasi tersebut.

Selain itu, Ayatullah Khamenei menilai pola kerusuhan itu mirip upaya kudeta. Dalam penegasannya, sasaran serangan meliputi kantor polisi, sejumlah pusat IRGC, pusat pemerintahan, bank, serta simbol-simbol keagamaan seperti masjid dan Al-Quran.

Peran Aparat dan Mobilisasi Publik

Ayatullah Khamenei menyebut lembaga keamanan, termasuk kepolisian, Basij, IRGC, dan instansi lain telah menjalankan tugas dengan baik. Namun, Ayatullah Khamenei menilai faktor kunci pemadaman kerusuhan adalah kehadiran massa pendukung di lapangan.

Menurut Ayatullah Khamenei, aksi publik seperti peristiwa 2009 menjadi preseden bahwa mobilisasi masyarakat dapat mengakhiri situasi krisis.

Ayatullah Khamenei juga menyebut musuh mencoba mengadu domba rakyat dengan sistem, tetapi kehadiran jutaan orang dalam aksi-aksi tertentu menjadi respons yang, menurutnya, menggagalkan tujuan tersebut.

Mengaitkan Kekerasan dengan Teroris ISIS

Dalam bagian lain pidatonya, Ayatullah Khamenei menyebut kekerasan dalam kerusuhan itu mirip dengan tindakan ISIS, dan narasi tersebut selaras dengan pengakuan Presiden AS pada periode jabatan pertamanya terkait pembentukan ISIS.

Ayatullah Khamenei menyebut tindakan brutal, termasuk pembakaran dan kekerasan ekstrem, sebagai bagian dari metode kelompok yang disebutnya terpengaruh pola teroris ISIS.

Perang Regional Bila AS Memulai Perang

Menutup pidatonya, Ayatullah Khamenei kembali menegaskan Iran tidak akan memulai agresi, namun akan membalas keras pihak yang menyerang. Ayatullah Khamenei mengulang peringatan bahwa langkah militer AS akan berujung pada konflik lebih luas.

“Amerika juga harus tahu, jika mereka memulai perang kali ini, itu akan menjadi perang regional,” tegas Ayatullah Khamenei.

Pernyataan-pernyataan tegas Ayatullah Khamenei muncul di tengah ketegangan politik dan keamanan kawasan, serta meningkatnya retorika politik AS terkait konflik dan pengaruh regional. Hingga berita ini disusun, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Amerika Serikat maupun pihak-pihak yang disebut dalam pidato tersebut. [HMP/IRNA]