Selasa, 22 September 2026
Menembus Ilusi Dunia: Memahami Hakikat Shalat Sebagai Kesadaran Hidup
September 22, 2026
kompassantri
Pernahkah kita merenungkan, apa sebenarnya hakikat di balik ibadah salat? Mengapa kewajiban ini begitu ditekankan hingga menjadi amalan pertama yang akan dihisab setelah hari kiamat? Di tengah kesibukan rutinitas harian, di manakah posisi kesadaran salat kita saat ini?
Untuk memahami salat secara mendalam, kita perlu menarik pemahaman ini ke titik awal penciptaan. Allah SWT tidak pernah sedikit pun membutuhkan ibadah manusia, melainkan manusialah yang mutlak membutuhkan keterhubungan dengan Sang Pencipta.
Siapa Kita Sebenarnya? Terjebak dalam "Avatar" Dunia
Pertanyaan mendasarnya adalah: Siapa sebenarnya diri kita?
Faktanya, kita bukanlah wujud fisik manusia seutuhnya. Tubuh ini hanyalah sebuah casing atau "avatar" dalam sebuah permainan besar yang dinamakan dunia. Allah Maha Mengetahui bahwa manusia akan mudah terjebak dan terbuai di dalam avatar ini. Itulah sebabnya Al-Qur'an melalui Surah Ali Imran ayat 14 diturunkan—untuk menjelaskan bagaimana cara kerja dunia serta alasan mengapa kita sering kali lupa pada asal-usul sejati kita.
Kata kunci dari jebakan ini adalah ilusi. Ketika seseorang terperangkap sepenuhnya dalam identitas avatarnya, biasanya ia akan mengalami tiga bentuk jebakan psikologis dan spiritual:
* Terjebak pada Identitas Fisik (Peran): Mengira bahwa dirinya adalah peran, bukan kesadaran. Seseorang mendefinisikan dirinya berdasarkan jabatan, pekerjaan, status sosial, hingga pencapaian material ("Aku adalah pekerjaanku, aku adalah statusku").
* Menggantungkan Rasa Aman pada Hal Fana: Menjadikan uang, materi, pasangan, dan rencana hidup sebagai sumber ketenangan serta penopang jiwa utama, alih-alih Sang Pemberi Rezeki.
* Terjebak pada Ilusi Kontrol: Merasa bahwa dirinya harus dan mampu mengontrol segalanya. Tahap yang paling berbahaya adalah ketika seseorang tidak hanya ingin mengontrol hidupnya sendiri, tetapi juga mencoba memegang kendali atas hidup orang lain, pasangan, hingga anak-anaknya.
Salat: Momen Melepaskan Diri dari Ilusi
Di sinilah salat hadir mengambil peran krusialnya. Salat bukan sekadar ritual sesembahan yang kaku, melainkan sebuah momentum sakral untuk melepaskan diri sejenak dari belenggu avatar duniawi, menyambungkan kembali jiwa dengan sang sumber, serta mengingat siapa diri kita yang sebenarnya.
Ingatkah kita pada perjanjian awal di alam roh? Saat itu Allah bertanya:
> "Alastu bi rabbikum?" — Bukankah Aku ini Rabb-mu?
>
Kata Rabb di sini memiliki makna yang sangat luas: Ia bukan sekadar Tuhan yang disembah, melainkan sumber yang merawat, menumbuhkan, mencukupkan, menyembuhkan, dan mengarahkan. Hubungan kita dengan Tuhan sejak awal bukanlah sekadar relasi transaksional antara hamba dan sesembahan, melainkan hubungan erat antara ciptaan dan Sang Pencipta. Setiap kali kita menegakkan salat, kita sedang memperbarui dan mengingat kembali perjanjian awal tersebut.
5 Tingkatan Kesadaran dalam Salat
Perjalanan spiritual dalam salat memiliki esensi yang bertingkat-tingkat. Setidaknya terdapat lima tangga kesadaran dalam beribadah:
* Kesadaran Jasad: Pada tahap ini, salat masih sebatas menjalankan gerakan fisik semata. Tubuh hadir di atas sajadah, bacaan terlafal dengan baik, dan rukun-rukunnya terpenuhi.
* Kesadaran Akal: Salat mulai berfungsi sebagai orientasi kesadaran. Akal berperan aktif mengarahkan fokus pikiran dari hingar-bingar dunia kembali kepada Sang Rabb.
* Kesadaran Hati: Inilah titik di mana kekhusyukan mulai bersemi. Salat tidak lagi dirasakan sebagai beban kewajiban, melainkan sebagai bentuk kehadiran hati yang nyata dalam ruang pertemuan dengan Allah.
* Kesadaran Roh: Puncak spiritualitas di mana salat tidak sekadar "dilakukan", tetapi "terjadi". Yang menghadap kepada Rabb bukan lagi sekadar tubuh dan pikiran yang lelah, melainkan roh murni yang rindu pulang.
* Kesadaran Hidup (Puncak Akhir): Ketika titik ini tercapai, salat bertransformasi menjadi kesadaran hidup yang utuh. Ia tidak berhenti begitu saja di atas sajadah, melainkan berjalan membersamai keseharian, membimbing langkah, serta menuntun setiap keputusan hidup.
Titik puncak inilah wujud nyata dari komitmen kita dalam menjaga perjanjian awal dengan Allah—sebuah esensi yang kelak akan dipertanggungjawabkan setelah fase kehidupan dunia ini berakhir.
Simak video selengkapnya dan renungkan kembali esensi salat Anda di Apakah sholat benar-benar wajib?.
Solok Dilanda Banjir Bandang, Puan Dorong Antisipasi dan Mitigasi yang Lebih Efektif
September 22, 2026
kompassantri
Kompassantri, Ketua DPR RI Puan Maharani menyampaikan keprihatinan atas bencana banjir bandang yang menerjang kawasan pusat pemerintahan Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Ia pun menekankan pentingnya antisipasi dan mitigasi bencana yang lebih efektif.
“Terkait dengan bencana yang terjadi banjir besar yang terjadi di Solok, kami meminta kepada semua stakeholder untuk bisa betul-betul mengantisipasi dan memitigasi semua hal yang ada di seluruh Indonesia, bukan hanya di Solok saja,” kata Puan.
Hal tersebut disampaikan Puan di Gedung DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Seperti diketahui, banjir bandang dan longsor melanda Solok pada Senin (21/9) malam akibat curah hujan yang tinggi. Banjir menyebabkan 4 orang terluka dan diduga terdapat sejumlah orang tertimbun material longsor.
Saat ini petugas gabungan masih melakukan evakuasi pencarian korban yang tertimbun material maupun terseret arus banjir. Bencana ini juga menyebabkan akses jalan dari Padang menuju Solok terputus, dan sejumlah kantor di kompleks Pemda Solok rusak.
Puan berharap, proses evakuasi dapat berjalan dengan lancar.
“Saat ini kan masih dalam proses pencarian atau evakuasi, kami berharap semoga tidak ada korban. Amin. Ke depannya harus lebih mengantisipasi dari mitigasi yang lebih efektif,” tutur perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR RI itu.
Puan lantas menyoroti kondisi cuaca di sejumlah daerah yang sudah mulai memasuki musim hujan. Ia meminta seluruh stakeholder untuk siaga bencana.
“Ini sudah beberapa kali bahkan sering dibicarakan oleh DPR kepada BNPB, bahkan tim dari kami, tim bencana juga sudah menyampaikan hal ini untuk melakukan mitigasi-mitigasi,” ungkap Puan.
“Sekarang ini curah hujan cukup keras ataupun sangat tinggi juga efektivitas dari semua bendungan yang ada di Indonesia dan hal-hal lain,” sambung mantan Menko PMK tersebut.
Lebih lanjut, Puan menekankan pentingnya memperkuat koordinasi antar instansi dalam menghadapi potensi bencana.
“Dan memang koordinasinya harus lebih diperkuat dan antisipasinya juga harus diperkuat dengan gotong royong yang lebih strategis,” tegas Puan.
Puan pun menyampaikan keprihatinan dan empati mendalam atas bencana di Solok.
“Tentunya kita semua berduka dan merasa prihati atas bencana ini. Pemerintah, terutama petugas di lapangan harus bekerja cepat memberi pertolongan kepada warga terdampak,” ujarnya.
Puan mengatakan, warga yang kehilangan tempat tinggal, mengalami kerusakan harta benda, atau terganggu aktivitas sehari-harinya membutuhkan perhatian dan dukungan nyata.
“Dalam keadaan darurat, kebutuhan utama masyarakat mencakup tempat tinggal sementara, makanan, air bersih, layanan kesehatan, serta dukungan bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas,” papar Puan.
Puan juga meminta Pemerintah memastikan pendataan korban dan kerusakan dilakukan secara cepat serta akurat mengingat hingga Selasa siang Pemerintah belum dapat memastikan jumlah korban jiwa maupun kerugian material karena proses pendataan secara riil di lapangan masih berlangsung.
“Data tersebut penting agar bantuan tidak tumpang tindih dan dapat menjangkau warga yang paling membutuhkan,” lanjut perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR RI tersebut.
Puan mendorong Pemerintah menyampaikan perkembangan penanganan, termasuk jumlah warga terdampak yang telah menerima bantuan, kebutuhan yang belum terpenuhi, serta kendala distribusi di lapangan.
“Pastikan setiap kebutuhan korban atau warga terdampak dapat terpenuhi. Baik mereka yang mengungsi di tempat-tempat yang telah disiapkan Pemerintah, maupun yang melakukan pengungsian mandiri,” tutup Puan.
Puan Ungkap PDIP Sudah Diajak Bicara Soal Wacana Ambang Batas Parlemen 5% dan Capres Didukung Minimal 2 Fraksi
September 22, 2026
kompassantri
Ketua DPR RI sekaligus Ketua DPP PDIP Puan Maharani menyatakan partainya sudah diajak bicara mengenai wacana angka ambang batas parlemen (parliamentary threshold) 5%. Termasuk mengenai isu calon presiden (Capres) minimal didukung dua fraksi di DPR.
“Terkait dengan ambang batas 5% yang sudah dibicarakan, kami juga sebenarnya sudah diajak berbicara namun tidak dalam forum tersebut,” kata Puan di Gedung DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Seperti diketahui, wacana soal ambang batas parlemen muncul setelah adanya pertemuan sejumlah ketua umum (ketum) partai politik koalisi pemerintah. Dalam pertemuan tersebut, mereka membahas revisi UU Pemilu yang turut mengatur ambang batas parlemen atau parliamentary threshold.
Pertemuan para ketum parpol koalisi pemerintah dikonfirmasi langsung oleh Sekjen Partai Gerindra Sugiono yang mengatakan ada kesepakatan perihal ambang batas parlemen. Sugiono menuturkan partainya yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto sepakat dengan ambang batas parlemen 5%.
Terkait hal ini, Puan mengatakan PDIP juga sudah diajak berbicara secara informal.
“Jadi, pembicaraan informal selalu akan dibicarakan bersama partai-partai politik, dan PDI tentu saja siap untuk selalu ikut bicara,” tegas cucu Bung Karno tersebut.
Selain tentang ambang batas parlemen, belakangan juga mencuat isu tentang pasangan calon presiden minimal didukung oleh dua fraksi di DPR.
“Juga terkait dengan apakah Pilpres hanya dua partai, kami pun sudah diajak bicara namun tidak dalam forum tersebut. Jadi, memang pembicaraan itu, pembicaraan informal yang dibicarakan oleh partai-partai,” ungkap Puan.
Meski tidak tergabung dalam partai koalisi, Puan menyatakan PDIP kerap bertemu dengan partai-partai lain.
“Selalu kumpul. Apakah itu terinfo ke media atau tidak, kita kumpul,” jelas perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR RI itu.
Di sisi lain, Puan menegaskan ambang batas 5% sejauh ini masih sebatas wacana antar partai politik.
“Pembicaraan bahwa ambang batas PT 5% itu kan masih dalam tahap pembicaraan di antara partai politik, belum secara resmi juga,” sebut Puan.
“Bahwa nantinya pilpres itu akan diusung oleh dua partai politik itu juga masih dalam proses wacana informal, jadi belum resmi karena nanti pembahasan resminya itu akan dibahas di DPR,” lanjutnya.
Pada akhirnya, Puan mengatakan keputusan mengenai ambang batas parlemen dan model pencalonan capres-cawapres akan diputuskan melalui pembicaraan di DPR.
“Yang penting adalah nanti pileg dan pilpresnya itu akan bisa efektif, kemudian efisien, bisa bermanfaat bagi bangsa dan negara. Dan kan pemilunya masih 2029,” tutup Puan.
RSS Feed
Twitter