Rabu, 08 April 2026

Resensi Film Blast from the past 1999

Wah, video ini benar-benar membawa kita kembali ke era film klasik ya! Cuplikan tersebut berasal dari film **"Blast from the Past"** (1999) yang dibintangi oleh Brendan Fraser.
Meskipun ceritanya sangat menyentuh tentang pengorbanan dan kasih sayang keluarga, ada beberapa hal yang perlu kita **koreksi dan evaluasi** dari sisi fakta ilmiah dan sejarah agar kita tidak salah paham:
## 1. Mitos "Radiasi Hilang dalam 35 Tahun"
Di video disebutkan bahwa radiasi akan hilang total setelah 35 tahun. Secara ilmiah, ini **kurang tepat**:
 * **Waktu Paruh:** Unsur radioaktif seperti *Cesium-137* memang memiliki waktu paruh sekitar 30 tahun, namun bukan berarti radiasi langsung hilang total. Beberapa material radioaktif lain bisa bertahan ratusan hingga ribuan tahun.
 * **Kenyataan:** Jika benar-benar terjadi ledakan nuklir, area tersebut mungkin masih akan memiliki tingkat radiasi yang tinggi atau memerlukan dekontaminasi serius jauh lebih lama dari 35 tahun untuk benar-benar aman tanpa perlindungan.
## 2. Salah Sangka "Ledakan Nuklir" vs "Kecelakaan Pesawat"
Ini adalah *plot twist* utama film tersebut. Tokoh utama (sang ayah) adalah ilmuwan yang sangat paranoid karena ketegangan Perang Dingin.
 * **Faktanya:** Tidak ada ledakan nuklir. Yang jatuh menimpa rumah mereka hanyalah sebuah **pesawat jet tempur** yang mengalami kecelakaan.
 * **Evaluasi:** Karena mereka langsung mengunci diri di bungker kedap suara dan sangat dalam, mereka tidak tahu bahwa dunia di luar baik-baik saja. Mereka menghabiskan 35 tahun di bawah tanah hanya karena sebuah kesalahpahaman besar.
## 3. Konteks Sejarah (Krisis Rudal Kuba)
Video menampilkan cuplikan Presiden John F. Kennedy. Ini merujuk pada **Krisis Rudal Kuba** tahun 1962.
 * Pada masa itu, ketakutan akan perang nuklir memang sangat nyata di Amerika Serikat. Banyak orang kaya yang benar-benar membangun bungker di halaman belakang rumah mereka. Jadi, perilaku karakter di film ini adalah satire (sindiran) terhadap ketakutan masyarakat pada era tersebut.
### Kesimpulan & Hikmah
Video ini adalah pengingat betapa **ketakutan yang berlebihan (paranoia)** bisa membuat seseorang kehilangan waktu berharga dalam hidupnya. Sang ayah sangat cerdas (seorang ilmuwan), tapi dia gagal memverifikasi informasi sebelum mengambil keputusan drastis selama puluhan tahun.
**Satu hal yang menarik:** Meskipun mereka "terjebak", sang anak (Adam) tumbuh menjadi pria yang sangat sopan dan beretika karena didikan orang tuanya yang memegang teguh nilai-nilai tahun 60-an di dalam bungker.
Bagaimana menurutmu? Apakah menurutmu tindakan sang ayah itu "antisipasi yang hebat" atau justru "kecerobohan yang menyedihkan"?

Transformasi Digital Pendidikan, Pergunu Depok Bekali Guru dengan Google Workspace for Education

Depok, Kompassantri-online, Pimpinan Cabang (PC) Pergunu Kota Depok menggelar kegiatan Google Workspace Sesi 1 secara daring pada Rabu (8/4/2026) dengan mengangkat tema “Dasar-Dasar Google Workspace for Education”. Kegiatan ini diikuti oleh puluhan guru dari berbagai perwakilan sekolah di Kota Depok sebagai upaya meningkatkan kompetensi digital tenaga pendidik di era transformasi pendidikan.

Acara dipandu oleh Iid Ahmad Dimyathi dari PAC Pergunu Kecamatan Beji yang juga bertindak sebagai moderator. Dalam sambutannya, Ketua PC Pergunu Kota Depok, Heru, menegaskan pentingnya adaptasi guru terhadap perkembangan teknologi dalam dunia pendidikan.

Ia menyampaikan, “Kegiatan ini diharapkan mampu mendorong para guru untuk lebih memanfaatkan media digital dalam pembelajaran, beradaptasi dengan perkembangan zaman, serta memperkuat kolaborasi antar sekolah dalam jejaring pendidikan yang lebih luas.”

Sebagai pemateri utama, Abdul Hakim, guru Islamic Studies (PAI) di Sekolah Islam Lazuardi Al Falah, memaparkan pentingnya membangun ekosistem pendidikan yang terintegrasi dengan teknologi, khususnya melalui Google Workspace for Education. Abdul Hakim yang telah mengantongi sertifikasi Google Educator Level 1 dan Google Gemini ini menekankan adanya perubahan paradigma dalam dunia pendidikan.

“Dulu pendidikan lebih banyak berfokus pada hafalan dan metode pengajaran yang pasif. Namun hari ini, kita dituntut untuk berani bertransformasi ke arah digital, karena karakteristik peserta didik dan tantangan zaman sudah berubah,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa terdapat empat faktor utama yang mendorong guru untuk beradaptasi, yaitu dinamika kurikulum dan keterampilan, karakter siswa sebagai digital native, tuntutan daya saing global, serta evolusi peran guru.
“Guru saat ini harus adaptif, kreatif, inovatif, dan melek digital agar tetap relevan dengan perkembangan zaman,” tambahnya.

Dalam pemaparannya, Abdul Hakim juga memperkenalkan berbagai fitur Google Workspace yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran. Ia memaparkan konsep Matriks Ekosistem Pembelajaran yang mencakup empat komponen utama, yaitu manajemen kelas, penyimpanan data, pembuatan materi, serta komunikasi dan penjadwalan.

“Google Classroom dapat menjadi pusat manajemen kelas yang memudahkan distribusi dan penilaian tugas secara terpusat. Sementara Google Drive berfungsi sebagai ‘brankas digital’ yang aman untuk menyimpan seluruh aset pembelajaran,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa Google Docs, Sheets, dan Slides dapat digunakan sebagai ruang kerja kolaboratif tanpa batas ruang dan waktu. Adapun Google Meet, Gmail, dan Google Calendar menjadi sarana komunikasi serta pengelolaan jadwal yang terintegrasi secara real-time.

“Dengan ekosistem ini, pembelajaran tidak lagi terbatas ruang kelas. Guru dan siswa dapat berkolaborasi secara fleksibel dan produktif,” tegas Abdul Hakim.

Kegiatan ini berlangsung interaktif dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang antusias dari para peserta. Pergunu Kota Depok berharap kegiatan ini menjadi langkah awal dalam membangun komunitas guru yang adaptif terhadap teknologi serta mampu menghadirkan pembelajaran yang inovatif dan relevan di era digital.

Kenaikan Harga Kedelai Impor di Jakarta Picu Kenaikan Harga Tempe dan Tahu


 
Jakarta, Kompassantri- Harga kedelai impor di Jakarta mengalami kenaikan dalam sepekan terakhir. Kenaikan tersebut berdampak langsung pada biaya produksi tempe dan tahu di tingkat perajin.Rabu (8/4/2026)

Berdasarkan pantauan di Pasar Induk Cipinang, harga kedelai impor jenis Amerika Serikat kini mencapai Rp14.200 per kilogram. Angka itu naik sekitar 18 persen dibandingkan dua pekan lalu yang masih berada di kisaran Rp12.000 per kilogram. Para pedagang menyebut kenaikan dipicu oleh terganggunya jalur distribusi global dan melemahnya nilai tukar rupiah.

Dampaknya, harga tempe dan tahu di pasaran ikut terkerek. Di beberapa pasar tradisional Jakarta, harga tempe ukuran 500 gram yang semula Rp9.000 kini menjadi Rp10.500. Sementara itu, harga tahu putih per potong naik dari Rp700 menjadi Rp900. Kenaikan ini dikeluhkan oleh konsumen rumah tangga dan pedagang makanan.

Ibu Sari, perajin tempe di Pasar Jatinegara*: “Harga kedelai impor sekarang sudah Rp14.200 per kilogram. Kami terpaksa menaikkan harga tempe dari Rp9.000 menjadi Rp10.500 per papan. Kalau tidak dinaikkan, kami rugi karena biaya produksi sudah naik hampir 20 persen.”

Sejumlah perajin tempe di wilayah Jakarta Timur mengaku terpaksa mengurangi takaran atau menaikkan harga jual agar tidak merugi. Pemerintah v tetap aman bagi pelaku usaha kecil.(Alwi/Foto;Dudut Suhendra Putra).

Selasa, 07 April 2026

Wamen Ekraf Apresiasi Peran HoYoverse Bawa Kreator Lokal Naik Kelas

KEMENTERIAN EKONOMI KREATIF/BADAN EKONOMI KREATIF

*Kementerian Ekraf Perkuat Kreator Lokal Lewat HoYo FEST 2026*
 
*Kementerian Ekraf Nilai HoYo Fest 2026 Jadi Ruang Kolaborasi Kreator Indonesia

Kompassantri-online, Jakarta, 7 April 2026* – Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, menerima audiensi HoYoverse di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta. Pertemuan ini membahas peluang kolaborasi dalam penguatan ekosistem ekonomi kreatif, khususnya melalui keterlibatan kreator lokal serta penyelenggaraan HoYo FEST 2026.

HoYo FEST merupakan bagian dari aktivasi komunitas yang berfokus pada pengembangan ekosistem kreatif berbasis _intellectual property_ (IP). Kegiatan ini menghadirkan pameran IP gim, penjualan _merchandise_, serta ruang kolaborasi bagi kreator Indonesia dalam menghasilkan produk kreatif.

Pada penyelenggaraan sebelumnya, HoYo FEST melibatkan kreator lokal dalam memproduksi berbagai karya berbasis IP yang dipasarkan sebagai merchandise. Inisiatif ini menjadi contoh konkret sinergi antara industri global dengan talenta dalam negeri.

Wamen Ekraf mengapresiasi konsistensi HoYoverse dalam membangun komunitas kreatif di Indonesia, khususnya dalam memberdayakan kreator lokal. Ia menilai kolaborasi tersebut menjadi model pengembangan ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan.

“Untuk mengembangkan ekosistem ekraf, kami sedang mencoba menyusun kurikulum ekonomi kreatif tidak hanya di tingkat universitas, tetapi juga mulai dari sekolah dasar untuk mengasah kreativitas. Tidak harus langsung pada tahap _intellectual property_ (IP), tetapi dari proses penciptaannya juga harus dibangun. Kami berharap HoYoverse dapat berperan dalam mengedukasi kreator dalam proses produksi serta mengolaborasikannya dengan subsektor ekonomi kreatif lainnya,” ujar Wamen Ekraf, Selasa (7/4).

HoYoverse sendiri merupakan perusahaan publisher gim internasional yang berfokus pada pengembangan IP. Pendekatan ini memungkinkan ekspansi karya tidak hanya pada gim, tetapi juga ke berbagai sektor seperti _merchandise_ hingga film.

Associate Brand Director HoYoverse Indonesia, Aswin Antonie, menjelaskan bahwa HoYo FEST 2026 dirancang sebagai ruang temu lintas komunitas dari berbagai judul gim yang dimiliki perusahaan.
 
“Dalam HoYo FEST nanti kami akan kembali menghadirkan Artist Alley sebagai ruang bagi kreator untuk menampilkan karya mereka. Kami juga menyiapkan program pengembangan seniman, karena bagi kami bukan hanya gim yang penting, tetapi juga ekosistemnya, termasuk para kreator lokal yang menjadi bagian di dalamnya,” jelasnya.

HoYo Fest 2026 akan diselenggarakan pada 30 Juli hingga 2 Agustus, di Pondok Indah Mall 3, Jakarta. Dalam audiensi tersebut, Wamen Ekraf didampingi Direktur Kriya, Neli Yana serta Direktur Arsitektur dan Desain, Sabar Norma Megawati Pandjaitan.

*Kiagoos Irvan Faisal*
*Kepala Biro Komunikasi*
*Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif*

Untuk informasi terkini terkait Kementerian Ekonomi Kreatif, 
kunjungi https://ekraf.go.id/news.