Selasa, 28 April 2026

Tangerang, Kompassantri+ Tak Pakai Helm hingga Lawan Arus? Kini Langsung Tertangkap ETLE Handheld di Kota Tangerang

ETLE Handheld Mulai Diterapkan di Kota Tangerang, Pelanggar Langsung Ditilang di TempatSatlantas Polres Metro Tangerang Kota Terapkan ETLE Genggam, Pelanggar Tak Bisa Lagi Mengelak

TANGERANG — Penegakan hukum lalu lintas di wilayah Kota Tangerang kini semakin modern dan tegas. Satuan Lalu Lintas Polres Metro Tangerang Kota mulai menerapkan sistem Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) Handheld, yakni perangkat tilang elektronik genggam yang memungkinkan penindakan dilakukan langsung di lapangan.

Dengan alat ini, petugas dapat secara cepat mengidentifikasi dan menindak pelanggaran kasatmata, seperti pengendara yang tidak menggunakan helm, melawan arus, hingga parkir di area terlarang. Seluruh proses dilakukan secara digital, lengkap dengan bukti pelanggaran yang dapat langsung dicetak di lokasi.

Kasatlantas Polres Metro Tangerang Kota, Nopta Histaris Suzan, menegaskan bahwa penerapan ETLE Handheld merupakan bagian dari transformasi penegakan hukum berbasis teknologi.

“Ini adalah upaya kami meningkatkan ketertiban dan keselamatan berlalu lintas. Dengan sistem digital ini, penindakan menjadi lebih cepat, tepat, dan efisien,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).
Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih disiplin dalam berlalu lintas demi keselamatan bersama di jalan raya.

Sementara itu, Kasubnit 2 Gakkum Satlantas Polres Metro Tangerang Kota, Febby Septian, menjelaskan bahwa ETLE Handheld bersifat mobile, sehingga petugas dapat aktif bergerak dan menemukan pelanggaran secara langsung di berbagai titik.

“Begitu terlihat pelanggaran, seperti tidak pakai helm, melawan arus, atau parkir di tempat terlarang, petugas langsung melakukan penindakan dan mengeluarkan tilang di lokasi,” kata Febby.

Dalam satu perangkat, lanjutnya, ETLE Handheld mampu melakukan sekitar 50 hingga 60 kali tangkapan pelanggaran (capture) sekaligus mencetak bukti tilang. Saat ini, Satlantas Polres Metro Tangerang Kota mengoperasikan dua unit perangkat yang digunakan oleh dua tim di lapangan.

Febby juga menjelaskan perbedaan antara ETLE Handheld dan ETLE statis. Jika ETLE statis mengandalkan kamera tetap di titik tertentu, maka ETLE Handheld memungkinkan petugas memberikan penindakan sekaligus edukasi langsung kepada pelanggar.

“Dengan cara ini, pelanggar langsung paham kesalahannya, tidak hanya terekam kamera,” tambahnya.

Adapun pelanggaran yang paling sering ditemukan di wilayah Kota Tangerang antara lain melawan arus, tidak menggunakan helm, serta parkir sembarangan di lokasi yang telah dipasang rambu larangan.

Penerapan ETLE Handheld dinilai cukup efektif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat. Seiring penerapannya, tingkat kepatuhan pengendara mulai menunjukkan peningkatan.

Satlantas Polres Metro Tangerang Kota pun mengimbau seluruh pengguna jalan untuk selalu mematuhi aturan demi terciptanya keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas.(alwi)

Senin, 27 April 2026

Komplotan Curanmor Lintas Tangerang Dibongkar, Polisi: Sudah Beraksi Belasan Kali

 


Dua Pelaku Ditangkap, Jaringan Curanmor R2 dan R4 di Tangerang Raya Terkuak*

Spesialis Curanmor Mobil dan Motor Dibekuk, Polisi Kejar Sisa Komplotan*

kompassantri, TANGERANG — Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Tangerang Kota berhasil membongkar komplotan pencurian kendaraan bermotor (curanmor) yang beroperasi lintas wilayah di Tangerang Raya. Dua pelaku berhasil diamankan, sementara anggota jaringan lainnya masih dalam pengejaran.


Pengungkapan ini bermula dari laporan warga terkait hilangnya dua unit sepeda motor di Desa Salembaran Jaya, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, pada Kamis (9/4/2026) dini hari. Korban berinisial ANI menyadari kejadian tersebut saat mendapati gerbang garasi rumahnya terbuka dan kendaraannya raib. Total kerugian ditaksir mencapai Rp47 juta.


Kasat Reskrim Polres Metro Tangerang Kota AKBP Parikhesit menjelaskan, pihaknya langsung bergerak cepat melakukan penyelidikan dengan menganalisis rekaman CCTV serta memetakan titik-titik rawan curanmor.


Upaya tersebut membuahkan hasil. Pada Sabtu (25/4/2026) sekitar pukul 03.30 WIB, tim opsnal yang tengah patroli mencurigai empat orang yang berboncengan menggunakan tiga sepeda motor di wilayah Cipondoh. Petugas kemudian melakukan pembuntutan hingga ke wilayah Cisauk, Tangerang Selatan.


“Dalam operasi tersebut, satu pelaku berinisial DP berhasil kami amankan di lokasi. Tiga pelaku lainnya sempat melarikan diri, namun satu pelaku lain berinisial AA akhirnya diserahkan warga kepada kami,” ujar Parikhesit.


Dari hasil pemeriksaan, kedua pelaku diketahui memiliki peran berbeda dalam menjalankan aksinya, yakni sebagai eksekutor (pemetik) dan joki. Mereka beroperasi secara mobile dengan berpindah-pindah lokasi untuk menghindari deteksi petugas.


Salah satu pelaku bahkan mengaku telah mencuri sekitar 13 unit sepeda motor dalam kurun waktu empat bulan terakhir. Sementara rekannya terlibat dalam pencurian kendaraan roda empat di belasan lokasi berbeda.

Dalam menjalankan aksinya, komplotan ini menggunakan berbagai alat pembobol, seperti kunci letter T, kunci magnet, hingga kunci palsu. Mereka juga membawa benda menyerupai senjata api untuk mengintimidasi warga jika aksinya dipergoki.


Polisi turut mengamankan sejumlah barang bukti berupa dua unit sepeda motor Honda Vario, alat-alat pembobol kendaraan, telepon genggam, serta benda menyerupai senjata api.


Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol. Dr. Raden Muhammad Jauhari menegaskan bahwa pengungkapan ini merupakan bagian dari komitmen kepolisian dalam menekan angka kejahatan jalanan.


“Pengungkapan kasus ini merupakan bentuk komitmen kami dalam memberikan rasa aman kepada masyarakat serta menindak tegas pelaku kejahatan jalanan, khususnya curanmor yang sangat meresahkan,” ujar Jauhari.


Ia juga menegaskan bahwa pihaknya tidak akan memberi ruang bagi pelaku kejahatan serupa.


“Kami tidak akan memberikan ruang bagi pelaku curanmor. Seluruh jajaran kami instruksikan untuk terus meningkatkan patroli, penyelidikan, dan penindakan terhadap jaringan kejahatan,” tegasnya.


Saat ini, kedua pelaku telah diamankan di Polres Metro Tangerang Kota untuk menjalani proses hukum lebih lanjut. Polisi masih memburu pelaku lain yang telah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO), sekaligus mengembangkan jaringan yang diduga lebih  luas.(Alwi)

Lembaga Pendidikan dan Guru sebagai Penentu Arah Bangsa

Kompassantri-online, Kegelisahan publik terhadap maraknya praktik korupsi, ketimpangan dalam penegakan hukum, serta fenomena “hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas” bukanlah persoalan yang berdiri sendiri. Dalam perspektif sosiologis dan pendidikan, realitas tersebut dapat ditelusuri akarnya pada proses panjang pembentukan karakter warga negara—yang salah satunya berlangsung di lembaga pendidikan. Ketika hukum seakan dapat “ditawar” oleh kekuatan ekonomi atau popularitas, sesungguhnya kita sedang menyaksikan refleksi dari krisis nilai yang tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses pendidikan yang kurang optimal.

Pendidikan dapat dianalogikan sebagai ruang pembentukan (shaping process) yang sangat menentukan arah masa depan individu. Ibarat seorang tukang cukur yang membentuk model rambut pelanggan, kualitas hasil sangat ditentukan oleh kompetensi, integritas, dan profesionalitas pelakunya. Dalam konteks pendidikan, guru bukan sekadar penyampai materi, melainkan agen pembentuk karakter (character builder) dan penanam nilai (value inculcator). Lembaga pendidikan yang diisi oleh guru-guru profesional, berintegritas, dan berorientasi pada pembentukan akhlak akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan spiritual.

Berbagai kajian dalam bidang sosiologi pendidikan menegaskan bahwa pengalaman belajar di sekolah—baik yang bersifat kurikuler maupun non-kurikuler—akan membentuk pola pikir, sikap, dan perilaku peserta didik dalam jangka panjang. Lingkungan belajar yang kondusif, interaksi yang sehat antara guru dan siswa, serta sistem yang adil dan transparan akan menjadi “hidden curriculum” yang sangat kuat dalam membentuk karakter. Sebaliknya, lingkungan pendidikan yang permisif terhadap pelanggaran, minim keteladanan, dan lemah dalam penegakan aturan akan melahirkan generasi yang cenderung pragmatis dan oportunistik.

Realitas pendidikan di Indonesia hari ini menunjukkan adanya paradoks. Di satu sisi, pemerintah terus melakukan berbagai reformasi seperti implementasi Kurikulum Merdeka, peningkatan kompetensi guru melalui program Pendidikan Profesi Guru (PPG), serta digitalisasi pembelajaran. Namun di sisi lain, masih ditemukan praktik-praktik yang kontraproduktif terhadap tujuan pendidikan itu sendiri. Misalnya, fenomena “jual beli nilai”, ketidakobjektifan dalam penilaian, praktik perundungan (bullying) di sekolah, hingga lemahnya penegakan disiplin terhadap pelanggaran siswa maupun oknum tenaga pendidik. Bahkan dalam beberapa kasus, ada sekolah yang lebih menekankan pencapaian administratif dibandingkan pembentukan karakter peserta didik.

Selain itu, ketimpangan kualitas pendidikan antar wilayah juga menjadi tantangan serius. Sekolah-sekolah di perkotaan dengan akses sumber daya yang memadai cenderung lebih unggul dibandingkan sekolah di daerah terpencil yang masih kekurangan fasilitas dan tenaga pendidik berkualitas. Kondisi ini secara tidak langsung menciptakan ketidakadilan struktural yang berdampak pada kualitas lulusan dan kesempatan masa depan mereka.

Dalam konteks penegakan aturan, sekolah sejatinya merupakan miniatur negara. Ketika aturan disusun secara jelas, disepakati bersama, dan ditegakkan secara konsisten tanpa diskriminasi, maka peserta didik akan belajar tentang pentingnya keadilan, tanggung jawab, dan integritas. Namun sebaliknya, jika aturan hanya menjadi formalitas tanpa implementasi yang tegas, atau bahkan diterapkan secara tidak adil, maka peserta didik akan menyerap pesan bahwa pelanggaran dapat ditoleransi dan keadilan dapat dinegosiasikan. Inilah yang kemudian berpotensi melahirkan perilaku koruptif di masa depan.

Oleh karena itu, penanaman karakter tidak cukup hanya melalui mata pelajaran tertentu, tetapi harus diwujudkan dalam ekosistem pendidikan secara menyeluruh. Guru harus menjadi teladan (uswah hasanah), lembaga pendidikan harus memiliki budaya yang kuat (school culture), dan sistem harus mendukung terciptanya keadilan serta transparansi. Pendidikan karakter yang efektif adalah pendidikan yang tidak hanya diajarkan, tetapi juga dicontohkan dan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah.
Pada akhirnya, jika kita ingin melihat Indonesia yang bebas dari korupsi, adil dalam penegakan hukum, dan bermartabat di mata dunia, maka investasi terbesar harus diarahkan pada perbaikan kualitas pendidikan. Lembaga pendidikan dan guru bukan sekadar bagian dari sistem, melainkan fondasi utama dalam menentukan arah bangsa. Dari ruang-ruang kelas hari ini, sesungguhnya sedang ditentukan wajah Indonesia di masa depan.

Iid Ahmad Dimyathi-wakil Sekretaris Pergunu Kota Depok.
Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan SMP Lazuardi Al Falah.

Sebuah tulisan yang luar biasa dan menggugah pikiran oleh akademisi Hassan Ahmadian:


Kompassantri-online
, Empat puluh tujuh tahun telah berlalu sejak Revolusi Iran, tahun-tahun yang dihabiskan di bawah rezim sanksi terberat di era modern. Apa yang telah dicapai? Dan apa yang telah kita capai?

Pertama: Di bidang sains dan pengetahuan
Iran melompat dari peringkat ke-52 secara global dalam publikasi ilmiah pada tahun 1996 ke peringkat ke-15 secara global pada tahun 2023, menurut SCImago. Iran sendiri melampaui gabungan hasil penelitian nanoteknologi Turki, Mesir, dan Arab Saudi. Universitas-universitasnya kini meluluskan lebih dari 40.000 insinyur setiap tahun, dan telah menjadi negara keempat di dunia di bidang sel punca.

Kedua: Di bidang swasembada dan kedaulatan
Sebuah negara yang terkepung telah berhasil mencapai swasembada 90% dalam produksi gandum dan 98% dalam produksi farmasi, setelah mengimpor 70% kebutuhannya 30 tahun yang lalu. Hal itu mengubah sanksi menjadi insentif, membangun industri farmasi yang kini mengekspor ke lebih dari 50 negara.

Ketiga: Di bidang ruang angkasa dan energi.
Dari posisi hampir tanpa energi, Iran meluncurkan 13 satelit menggunakan keahlian dalam negeri, menjadi negara kesembilan di dunia yang bergabung dengan klub ruang angkasa. Di bidang energi nuklir damai, Iran membangun reaktor dan bahan bakarnya sendiri meskipun menghadapi semua tekanan, untuk mengamankan masa depan generasi-generasinya.

Sekarang, mari kita lihat lanskap Arab yang lebih luas, dari Atlantik hingga Teluk:
450 juta penduduk Arab, dan PDB gabungan melebihi $3,5 triliun. Kekayaan di atas dan di bawah tanah. Jadi, apa hasil pembangunan yang telah dicapai?

Dengan segala hormat terhadap upaya yang dilakukan di sana-sini, gambaran keseluruhannya menyedihkan:

Perlombaan yang panik untuk membangun menara tertinggi dan pusat perbelanjaan terbesar, dan pameran pabrik susu, minuman ringan, dan es krim yang membanggakan.

Miliaran dolar diinvestasikan untuk mengakuisisi klub dan bintang sepak bola Eropa, sementara negara-negara Arab mengimpor 80% obat-obatan, 90% senjata, dan 60% makanan mereka.

Paradoks yang membingungkan:
Sebuah negara yang terkepung telah membangun satelit, sementara wilayah yang kaya tidak dapat memproduksi satu jarum suntik pun tanpa izin asing. Sebuah negara yang dikenai sanksi telah mencapai swasembada gandum, sementara negara-negara Arab mengimpor gandum untuk membuat roti dan kemudian membanggakan kualitas kemasannya.

Pelajarannya bukanlah memuji Iran atau mengutuk negara-negara Arab. Pelajarannya terletak pada pertanyaan utama:

Mengapa mereka yang terkepung berhasil, sementara mereka yang diberkati gagal?

Jawabannya:

Singkatnya:

Kemauan politik Iran adalah satu keputusan: Kami tidak akan tunduk. Keputusan pihak lain adalah: Kami tidak akan produktif.

Kedaulatan tidak dibeli dengan kesepakatan senjata, juga tidak dibangun di stadion sepak bola. Kedaulatan diraih melalui kehendak bebas, pendidikan yang sejati, dan keyakinan bahwa martabat dimulai dari roti yang Anda tanam dengan tangan Anda sendiri.

#Hassan_Ahmadian.