SKEMA
(Sketsa Masyarakat)
“Ketika saya merasa lelah di Birmingham,
saya ingat bapak yang tidak pernah menyerah
mengayuh becak di jalanan Kendal.”
(Dr. Raeni, S.E., M.Sc.)
Di bawah terik matahari Semarang tahun 2014, sebuah becak tua bergerak perlahan membelah kerumunan wisudawan Universitas Negeri Semarang (UNNES). Raeni, mahasiswi akuntansi 22 tahun, duduk di dalam becak dengan toga. Sang ayah, Mugiyono, mengayuh dengan wajah berseri-seri.
Pemandangan ini bukan bagian _happening art_ apalagi syuting sinetron yang mengeksploitasi kemiskinan.
Menarik becak adalah pekerjaan Mugiyono.Membawa penumpang--yang anaknya sendiri--juga sudah tak terbilang berapa kali. Tetapi mengayuh becak di dalam kampus baru pertama kali ia lakukan. Itupun karena permintaan sang anak.
Awalnya ia menolak, karena tak ingin anaknya malu. Tetapi Raeni terus meminta dan bilang bahwa dia justru bangga dengan pekerjaan ayahnya. Sebab, dari hasil kerja keras itulah ia menjadi lulusan terbaik UNNES 2014 dengan IPK 3,96--selain dengan bantuan beasiswa Bidikmisi sebesar Rp600.000 per bulan.
2/
Kini di usia 34 tahun, Raeni menjadi contoh nyata dari _Self-Determination Theory (SDT)_. Ia menjadi subjek yang memiliki otonomi penuh atas takdirnya sendiri. Raeni telah bertransformasi menjadi seorang intelektual muda yang diperhitungkan di kancah internasional setelah menggondol gelar Ph.D dari Universitas Birmingham, Inggris.
Dalam budaya Jawa, perjuangan Raeni mencerminkan pepatah legendaris:
“ _Wong dhuwur wekasane, wong asor drajate, nanging kanthi ilmu dadi mulyo._” (Orang akan mencapai puncak dan kedudukan mulia melalui ilmu). Ilmu bukan sekadar hiasan gelar, melainkan kendaraan bagi wong cilik untuk melepaskan diri dari perangkap kemiskinan, dan meraih kemuliaan hidup dan martabat yang setara dengan manusia lain.
Kesuksesan Raeni tak semudah membalik telapak tangan. Setiap orang yang pernah kuliah tahu bagaimana beratnya menaklukkan kurikulum dan—terutama--lingkungan kampus yang tak selalu bersahabat. Apalagi bagi mahasiswa dengan banyak kekurangan fasilitas.
“Saya teman sekamar Raeni. Saya saksi kerja kerasnya,” tulis Nina Widodo di akun Instagram. “Raeni bukan hanya pintar di pelajaran tapi aktif di organisasi kampus. Selalu ramah kepada orang lain.”
Dari Semarang, Raeni terbang dengan jalur beasiswa LPDP ke University of Birmingham, Inggris, dan mendapatkan gelar M.Sc. dalam International Accounting and Finance, dengan predikat _Distinction_ (Sangat Memuaskan). Setelah itu ia kembali ke Indonesia dan mengajar di alma maternya selama beberapa tahun.
Masih dengan beasiswa LPDP, Raeni kembali ke Birmingham melanjutkan pendidikan S3. Ia menyelesaikan riset doktoral pada bidang _Climate Finance_, sebuah disiplin ilmu mutakhir yang mempelajari akuntabilitas dan tata kelola pendanaan global untuk mengatasi perubahan iklim. Bidang ini menuntut kedalaman analitis yang tinggi karena menggabungkan kerumitan laporan keuangan dengan isu keberlanjutan lingkungan hidup. Ia lulus pada akhir 2023 dan diwisuda di bulan Juli 2024.
3/
Pendidikan diyakini sebagai jalan keluar dari kemiskinan. Banyak yang menjalani dengan semangat membara pada awalnya, namun banyak juga yang terjebak pada hasil ala kadarnya. Sebagian menyerah di tengah jalan. Setidaknya ada tiga penyebab.
Pertama, mentalitas “penumpang vs pengemudi”. Profesor Rhenald Kasali menekankan bahwa banyak orang memiliki mentalitas “_passenger_” yang sudah merasa cukup berada di dalam kendaraan. Raeni berbeda. Ia seorang “_driver_” yang mengambil kendali penuh atas nasibnya.
Kedua, kurangnya “transfer inspirasi”. Mantan Rektor Universitas Paramadina dan pendiri Gerakan Indonesia Mengajar, Dr. Anies Baswedan, menyatakan pendidikan harus menjadi "transfer inspirasi". Raeni berhasil karena ia menjadikan kesulitan ayahnya sebagai inspirasi, bukan beban yang melemahkan semangat.
Ketiga, beban budaya dan struktural. Guru Besar Studi Gender, Prof. Alimatul Qibtiyah, menjelaskan bahwa perempuan sering menghadapi tantangan berlapis, termasuk beban domestik dan pandangan sosial yang meragukan urgensi pendidikan tinggi bagi perempuan. Raeni mendobrak sekat ini, membuktikan bahwa intelektualitas perempuan adalah modal sosial yang mampu mengubah arah sejarah keluarga.
4/
Saat berhasil memberangkatkan kedua orang tuanya umroh pada Maret 2018—sebuah mimpi yang nyaris mustahil diraih dari pendapatan mengayuh becak—Raeni mengungkapkan rasa syukurnya usai lulus S2 dari Universitas Birmingham sebelum melanjutkan estafet ke jenjang pendidikan doktoral.
Ini dimensi spiritualitas dalam bentuk bakti anak kepada orang tua ( _filial piety_) yang menjadi bahan bakar utama resiliensi Raeni. “Melihat Bapak dan Ibu bisa berdiri di depan Ka'bah adalah puncak kebahagiaan yang jauh melampaui gelar akademik manapun. Saya merasa inilah cara Allah menunjukkan bahwa tidak ada usaha yang sia-sia. Saya ingin membuktikan bahwa anak seorang tukang becak pun, dengan izin Allah, bisa membawa orang tuanya ke tanah suci.”
Sesuai prinsip _Hope Theory_ yang dirumuskan C.R. Snyder, Raeni memiliki _agency_ (kemauan kuat) yang berakar pada bakti, dan mengolahnya menjadi energi yang menjadi sandarannya untuk menghadapi beragam tantangan yang kian berat.
Hingga April 2026, Dr. Raeni telah melampaui fase aktualisasi diri menuju _Self-Transcendence_. Sebagai Asisten Profesor di almamaternya, ia kini aktif mengajar dan melakukan riset tentang akuntansi hijau dan keuangan iklim. Ia kembali ke “akar
untuk membawa generasi berikutnya agar ikut “naik kelas”, seperti telah dibuktikannya dengan kerja keras dan kerja cerdas.
Dari jalanan Kendal sampai kampus Birmingham, *Dr. Raeni, S.E., M.Sc.* kini menjadi simbol baru bahwa pendidikan adalah pengubah nasib yang paling adil bagi mereka yang memiliki kegigihan, disiplin, dan hati yang penuh rasa syukur.
“ _Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving_.” tulis Raeni dalam status bio akun Instagram (@raeni_raeni [centang biru]). Ia menjaga keseimbangan antara pengabdian lokal bagi nusa dan bangsa dan terus mengukir prestasi global.
Melalui riset-risetnya yang dipresentasikan di forum seperti British Accounting and Finance Association (BAFA), Raeni menjadi bagian dari intelektual global yang merumuskan masa depan keuangan hijau ( _green finance_).
Sedangkan keberadaannya sebagai peneliti di University of Birmingham, secara otomatis memasukkannya ke dalam jejaring Russell Group. Dalam konteks dunia akademis internasional, menjadi bagian dari jejaring ini memberikan akses ke kolaborasi riset dengan universitas top dunia lainnya seperti Oxford, Cambridge, dan LSE.
Ini menunjukkan bahwa anak seorang pengayuh becak dari Kendal mampu duduk sejajar dengan para pakar internasional dalam merumuskan solusi atas krisis iklim global—dunia yang kita huni bersama.
Jakarta, 19 April 2026
*Sosiolog, prosais, kolumnis, penerima Anugerah Sastra Andalas 2022 kategori Seniman/Budayawan Nasional. Tanggapan untuk tulisan ini bisa dikirimkan ke e-mail: akmal.n.basral@gmail.com