Senin, 27 April 2026

Lembaga Pendidikan dan Guru sebagai Penentu Arah Bangsa

Kompassantri-online, Kegelisahan publik terhadap maraknya praktik korupsi, ketimpangan dalam penegakan hukum, serta fenomena “hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas” bukanlah persoalan yang berdiri sendiri. Dalam perspektif sosiologis dan pendidikan, realitas tersebut dapat ditelusuri akarnya pada proses panjang pembentukan karakter warga negara—yang salah satunya berlangsung di lembaga pendidikan. Ketika hukum seakan dapat “ditawar” oleh kekuatan ekonomi atau popularitas, sesungguhnya kita sedang menyaksikan refleksi dari krisis nilai yang tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses pendidikan yang kurang optimal.

Pendidikan dapat dianalogikan sebagai ruang pembentukan (shaping process) yang sangat menentukan arah masa depan individu. Ibarat seorang tukang cukur yang membentuk model rambut pelanggan, kualitas hasil sangat ditentukan oleh kompetensi, integritas, dan profesionalitas pelakunya. Dalam konteks pendidikan, guru bukan sekadar penyampai materi, melainkan agen pembentuk karakter (character builder) dan penanam nilai (value inculcator). Lembaga pendidikan yang diisi oleh guru-guru profesional, berintegritas, dan berorientasi pada pembentukan akhlak akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan spiritual.

Berbagai kajian dalam bidang sosiologi pendidikan menegaskan bahwa pengalaman belajar di sekolah—baik yang bersifat kurikuler maupun non-kurikuler—akan membentuk pola pikir, sikap, dan perilaku peserta didik dalam jangka panjang. Lingkungan belajar yang kondusif, interaksi yang sehat antara guru dan siswa, serta sistem yang adil dan transparan akan menjadi “hidden curriculum” yang sangat kuat dalam membentuk karakter. Sebaliknya, lingkungan pendidikan yang permisif terhadap pelanggaran, minim keteladanan, dan lemah dalam penegakan aturan akan melahirkan generasi yang cenderung pragmatis dan oportunistik.

Realitas pendidikan di Indonesia hari ini menunjukkan adanya paradoks. Di satu sisi, pemerintah terus melakukan berbagai reformasi seperti implementasi Kurikulum Merdeka, peningkatan kompetensi guru melalui program Pendidikan Profesi Guru (PPG), serta digitalisasi pembelajaran. Namun di sisi lain, masih ditemukan praktik-praktik yang kontraproduktif terhadap tujuan pendidikan itu sendiri. Misalnya, fenomena “jual beli nilai”, ketidakobjektifan dalam penilaian, praktik perundungan (bullying) di sekolah, hingga lemahnya penegakan disiplin terhadap pelanggaran siswa maupun oknum tenaga pendidik. Bahkan dalam beberapa kasus, ada sekolah yang lebih menekankan pencapaian administratif dibandingkan pembentukan karakter peserta didik.

Selain itu, ketimpangan kualitas pendidikan antar wilayah juga menjadi tantangan serius. Sekolah-sekolah di perkotaan dengan akses sumber daya yang memadai cenderung lebih unggul dibandingkan sekolah di daerah terpencil yang masih kekurangan fasilitas dan tenaga pendidik berkualitas. Kondisi ini secara tidak langsung menciptakan ketidakadilan struktural yang berdampak pada kualitas lulusan dan kesempatan masa depan mereka.

Dalam konteks penegakan aturan, sekolah sejatinya merupakan miniatur negara. Ketika aturan disusun secara jelas, disepakati bersama, dan ditegakkan secara konsisten tanpa diskriminasi, maka peserta didik akan belajar tentang pentingnya keadilan, tanggung jawab, dan integritas. Namun sebaliknya, jika aturan hanya menjadi formalitas tanpa implementasi yang tegas, atau bahkan diterapkan secara tidak adil, maka peserta didik akan menyerap pesan bahwa pelanggaran dapat ditoleransi dan keadilan dapat dinegosiasikan. Inilah yang kemudian berpotensi melahirkan perilaku koruptif di masa depan.

Oleh karena itu, penanaman karakter tidak cukup hanya melalui mata pelajaran tertentu, tetapi harus diwujudkan dalam ekosistem pendidikan secara menyeluruh. Guru harus menjadi teladan (uswah hasanah), lembaga pendidikan harus memiliki budaya yang kuat (school culture), dan sistem harus mendukung terciptanya keadilan serta transparansi. Pendidikan karakter yang efektif adalah pendidikan yang tidak hanya diajarkan, tetapi juga dicontohkan dan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah.
Pada akhirnya, jika kita ingin melihat Indonesia yang bebas dari korupsi, adil dalam penegakan hukum, dan bermartabat di mata dunia, maka investasi terbesar harus diarahkan pada perbaikan kualitas pendidikan. Lembaga pendidikan dan guru bukan sekadar bagian dari sistem, melainkan fondasi utama dalam menentukan arah bangsa. Dari ruang-ruang kelas hari ini, sesungguhnya sedang ditentukan wajah Indonesia di masa depan.

Iid Ahmad Dimyathi-wakil Sekretaris Pergunu Kota Depok.
Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan SMP Lazuardi Al Falah.

Sebuah tulisan yang luar biasa dan menggugah pikiran oleh akademisi Hassan Ahmadian:


Kompassantri-online
, Empat puluh tujuh tahun telah berlalu sejak Revolusi Iran, tahun-tahun yang dihabiskan di bawah rezim sanksi terberat di era modern. Apa yang telah dicapai? Dan apa yang telah kita capai?

Pertama: Di bidang sains dan pengetahuan
Iran melompat dari peringkat ke-52 secara global dalam publikasi ilmiah pada tahun 1996 ke peringkat ke-15 secara global pada tahun 2023, menurut SCImago. Iran sendiri melampaui gabungan hasil penelitian nanoteknologi Turki, Mesir, dan Arab Saudi. Universitas-universitasnya kini meluluskan lebih dari 40.000 insinyur setiap tahun, dan telah menjadi negara keempat di dunia di bidang sel punca.

Kedua: Di bidang swasembada dan kedaulatan
Sebuah negara yang terkepung telah berhasil mencapai swasembada 90% dalam produksi gandum dan 98% dalam produksi farmasi, setelah mengimpor 70% kebutuhannya 30 tahun yang lalu. Hal itu mengubah sanksi menjadi insentif, membangun industri farmasi yang kini mengekspor ke lebih dari 50 negara.

Ketiga: Di bidang ruang angkasa dan energi.
Dari posisi hampir tanpa energi, Iran meluncurkan 13 satelit menggunakan keahlian dalam negeri, menjadi negara kesembilan di dunia yang bergabung dengan klub ruang angkasa. Di bidang energi nuklir damai, Iran membangun reaktor dan bahan bakarnya sendiri meskipun menghadapi semua tekanan, untuk mengamankan masa depan generasi-generasinya.

Sekarang, mari kita lihat lanskap Arab yang lebih luas, dari Atlantik hingga Teluk:
450 juta penduduk Arab, dan PDB gabungan melebihi $3,5 triliun. Kekayaan di atas dan di bawah tanah. Jadi, apa hasil pembangunan yang telah dicapai?

Dengan segala hormat terhadap upaya yang dilakukan di sana-sini, gambaran keseluruhannya menyedihkan:

Perlombaan yang panik untuk membangun menara tertinggi dan pusat perbelanjaan terbesar, dan pameran pabrik susu, minuman ringan, dan es krim yang membanggakan.

Miliaran dolar diinvestasikan untuk mengakuisisi klub dan bintang sepak bola Eropa, sementara negara-negara Arab mengimpor 80% obat-obatan, 90% senjata, dan 60% makanan mereka.

Paradoks yang membingungkan:
Sebuah negara yang terkepung telah membangun satelit, sementara wilayah yang kaya tidak dapat memproduksi satu jarum suntik pun tanpa izin asing. Sebuah negara yang dikenai sanksi telah mencapai swasembada gandum, sementara negara-negara Arab mengimpor gandum untuk membuat roti dan kemudian membanggakan kualitas kemasannya.

Pelajarannya bukanlah memuji Iran atau mengutuk negara-negara Arab. Pelajarannya terletak pada pertanyaan utama:

Mengapa mereka yang terkepung berhasil, sementara mereka yang diberkati gagal?

Jawabannya:

Singkatnya:

Kemauan politik Iran adalah satu keputusan: Kami tidak akan tunduk. Keputusan pihak lain adalah: Kami tidak akan produktif.

Kedaulatan tidak dibeli dengan kesepakatan senjata, juga tidak dibangun di stadion sepak bola. Kedaulatan diraih melalui kehendak bebas, pendidikan yang sejati, dan keyakinan bahwa martabat dimulai dari roti yang Anda tanam dengan tangan Anda sendiri.

#Hassan_Ahmadian.

Rahayu Suwarno dan Arief Zohiril Fikri Terpilih Sebagai Mermaid & Merman Indonesia 2026

Kompassantri-online, Jakarta- Kemegahan Grand Final Mermaid & Merman Indonesia 2026 tersaji di Balai Kartini, Jakarta, Minggu (26/4/2026). 

Ajang ini digelar melalui kerja sama Yayasan EL JOHN Indonesia, EL JOHN Pageant, dan Marine Action Expo (MAX) yang mengusung konsep pageant berbasis mermaiding.

Sebanyak 19 finalis tampil dengan kemampuan terbaik mereka. Penilaian dilakukan oleh lima dewan juri dari berbagai latar belakang, mulai dari pemerintah hingga dunia pageant dan pemerhati lingkungan, dengan mempertimbangkan penampilan, keterampilan, serta pengetahuan peserta.

Pada tahap akhir kompetisi, para finalis menjalani sesi tanya jawab yang menjadi penentu. Pertanyaan yang diajukan dewan juri berfokus pada pariwisata bahari, konservasi laut, serta perkembangan olahraga mermaiding. 

Seluruh peserta mampu menjawab dengan baik, namun dewan juri harus memilih yang terbaik
Akhirnya nama Rahayu Suwarno diumumkan sebagai peraih gelar Mermaid Indonesia 2026, sementara Arief Zohiril Fikri dinobatkan sebagai Merman Indonesia 2026. 

Selain itu, Marelle Lily M Kartodirdjo terpilih sebagai Mermaid Indonesia Teen 2026, dan Vittoria Gea menyabet gelar Mermaid Indonesia Kid 2026. 

Ketua Umum Yayasan EL JOHN Indonesia M. Johnnie Sugiarto memberikan apresiasi kepada seluruh finalis Mermaid & Merman Indonesia 2026. 

Menurutnya, perjalanan hingga ke babak final merupakan pencapaian yang patut dibanggakan.

"Bagi saya, semua finalis Mermaid & Merman Indonesia 2026 adalah pemenang. Mereka telah melalui proses panjang dan menunjukkan dedikasi yang luar biasa,” ujar Johnnie 

Johnnie berharap para finalis tidak hanya berhenti pada ajang kompetisi, tetapi juga mampu mengambil peran aktif dalam menjaga lingkungan dan budaya Indonesia. 

Menurutnya, kepedulian terhadap sungai, laut, serta warisan budaya menjadi bagian penting dari tanggung jawab generasi muda.

"Kami berharap seluruh finalis dapat berperan aktif dalam menjaga sungai, melestarikan laut, serta mempertahankan budaya Indonesia,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa peran tersebut diharapkan dapat membawa Indonesia semakin dikenal di kancah internasional, khususnya dalam sektor pariwisata bahari.

"Dengan begitu, Indonesia bisa lebih dikenal di panggung dunia. Semakin banyak wisatawan mancanegara yang datang untuk menikmati keindahan bawah laut Indonesia,” tutupnya.

Apresiasi kepada finalis juga disampaikan Founder Marine Action Expo (MAX) Nunung Hasan. Penyelam senior ini, menyampaikan apresiasi kepada para finalis Mermaid & Merman Indonesia 2026 atas perjuangan mereka hingga mencapai tahap akhir kompetisi. 

Menurutnya, seluruh finalis yang berhasil tampil di Grand Final merupakan individu terpilih yang telah melalui proses panjang dan kompetitif. Karena itu, mereka dinilai layak menjadi representasi generasi muda yang tidak hanya berbakat, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan laut.

"Saya percaya bahwa tidak mudah untuk melewati setiap tahapan hingga akhirnya menjadi finalis, apalagi meraih gelar juara dalam Mermaid & Merman Indonesia,” ujar Nunung.

Keberhasilan penyelenggaraan tahun ini semakin menegaskan posisi Mermaid & Merman Indonesia 2026 sebagai ajang pageant inovatif yang tidak hanya menonjolkan keindahan, tetapi juga membawa dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.(dsp) Foto: El John Indomesia

BUKAN CUMA RUMAH, DUNIA DIGITAL JUGA MEMBENTUK ANAK SEJAK USIA DINI


Karya : Ziana Zanjabila Anwar, Seksi Bidang Dakwah PAC Fatayat NU Banjaranyar.

Kompassantri-online, Terkadang kita sudah merasa cukup menjaga anak didalam rumah dengan memberikan contoh yang baik, brbicara dengan lembut, mengajarkan mana hal yang baik dan tidak baik, apakah pernah terpikir itu semua sudah cukup untuk memberikan lingkungan rumah aman serta terarah dan anak akan tumbuh sesuai dengan apa yang sudah kita bayangkan?.
Tapi hari ini, lingkungan anak tidak sampai dilingkungan rumah atau sekolah saja, kita mungkin tidak menyadari adanya lingkungan baru yang ikut hadir seiring berjalannya zaman -layar kecil yang selalu menemani anak-anak disetiap waktunya. Dari situlah anak melihat banyak hal, mendengar banyak suara, dan pelan-pelan akan ikut mengambil peran untuk ikut memberi pelajaran bagaimana dunia ini bekerja.
Ya, awalnya semua terlihat sepele. Anak diberikan layar ajaib agar tenang, agar tidak rewel, atau sekedar agar si ibu biasa tenang dengan dunia kerjanya yang hampir 24 jam. Tidak ada yang salah memang akan hal tersebut, bahkan itu bisa menjadi solusi yang instan ditengah-tengah hiruk pikuk yang super padat. Namun pelan tapi pasti, yang awalnya sesekali akan berubah menjadi satu kebiasaan yang selalu dilakukan.
Anak akan mulai terbiasa dengan tontonan tertentu, mengikuti cara bicara serta perilaku yang ada dalam video tersebut, menirukan ekspresi, bahkan akan ada hal yang sebenarnya sudah kita beri tahu itu salah tapi tetap dilakukan sehingga kita bingung semuanya terasa “ asing “ bagi kita karna di rumah itu semua tidak dicontohkan.
Sampai ditahap ini pernahkan ada sebersit dipikiran kita sebagai orang yang berperan dilingkungan rumah “ ini anak belajar dimana ya?” padahal sudah jelas dengan jawaban yang ada di depan matanya sendiri, padahal ini semua sesuatu yang tadinya dianggap “sesekali” itu. 
Anak pada usia emas memang sedang berada di fase meniru, mereka belum mempunyai kemampuan menyaring mana yang layak untuk diikuti dan mana yang tidak boleh diikuti. Anak usia emas berada di fase mana yang sering mereka lihat itu akan dianggap wajar, apa yang mereka dengar itu adalah yang mereka akan rekam.
Di zaman dulu mungkin saja dunia anak-anak itu terbatas hanya ada rumah dan sekolah saja, dimana orang tua serta guru adalah contoh yang baik untuk mereka tiru. Tapi di zaman sekarang ini layar ajaib itu mengambil peran bahkan tidak sedikit ruang yang mereka ambil tapi banyak ruang yang mereka kuasai.
Di dunia digital tidak selalu memberikan tuntunan yang seperti apa kita inginkan, tetapi marak sekali di zaman sekarang konten yang hanya dibuat menarik perhatian saja tanpa ada unsur untuk mendidik, suara yang dibuat berlebihan, ekspresi yang dibuat-buat, respon yang cepat serta instan itu membuat mereka akan mudah untuk menirukan. Akhirnya, anak akan mulai terbiasa dengan hal-hal yang serba cepat, hiburan yang hanya menarik serta respon yang tak perlu jeda. Sehingga ketika anak mulai kembali ke dunia nyata semuanya terasa membosankan, semuanya lambat tidak semenarik dunia layar ajaib.
Tetapi disinih peran orang dewasa terkadang tidak menyadari perubahan yang datang secara pelan-pelan, anak jadi lebih mudah bosan, lebih cepat kesal, sulit focus untuk waktu yang lama, bahkan anak akan menjadi lebih emosional ketika apa yang mereka bayangkan tidak terpenuhui atau apa yang mereka inginkan tidak terwujud.
Stop menyalahkan anak, ini bukan karna mereka berubah menjadi “anak yang bermasalah”, tapi karna satu kebiasaan yang muncul karna kata “sesekali” yang dibentuk oleh lingkungan rumah yang ingin anak anteng dengan memberikan dunia baru untuk anak-dunia layar ajaib. Perubahan ini tidak terlihat langsung membesar tapi ini dapat terlihat dari hal-hal kecil yang sering terulang di kesehariannya seperti nada suara, cara ia berbicara, dan emosi yang tidak setabil. Disisi lain kita ingin anak itu sesuai dengan apa yang kita harapkan, sesuai dengan apa yang kita ajarkan dirumah, sehingga akan terjadi jarak yang pelan-pelan akan melebar menjadikan si anak semakin menjauh dari unsur-unsur yang sering diterapkan dirumah.
Kalau dulu kita sering mendengar istilah “anak adalah cerminan lingkungannya”, maka diwaktu ini kita harus memperluas makna “lingkungan” itu sendiri. Lingkungan saat ini bukan hanya siapa yang ada didekat mereka tetapi juga apa yang mereka lihat di layar ajaib itu sendiri.
Apa layar ajaib harus dijauhkan dari anak? Tentu tidak, karna itu pun tidak realistis di zaman sekarang dimana dunia digital sudah menjadi kehidupan yang berdampingan sehingga anak akan bergesekan dengan dunia tersebut cepat atau lambat. Yang perlu disadari sekarang adalah bagaimana kita menyadari perannya, bahwa apa yang mereka tonton bukan hanya sekedar hiburan tapi tuntunan, setiap karakter yang merreka lihat membawa peran bagaimana si anak harus bersikap. Disinilah peran orang dewasa kembeli menjadi penting, bukan hanya sebagi pemberi aturan tetapi juga mengambil peran sebagai pendamping, bukan hanya membatasi waktu tetapi juga memperhatikan apa yang mereka lihat, bukan melarang tapi menjelaskan kenapa itu dilarang, bukan hanya mengambil gadget tetapi memberikan lingkungan yanglebih menarik dan interaktif. Karna di usia emas anak akan belajar bukan pada “katanya” tetapi “nyatanya”.
Dunia digital memang mengambil peran untuk membentuk karakter anak pada zaman ini tetapi bukan berarti kita kalah peran. Justru seharusnya di Tengah banyaknya pengaruh dari luar kehadiran orang dewasa yang sadar serta terlibat itu dirasa sangat penting . karna jika “anak adalah cerminan lingkungan” maka disaat ini “cermin” bukan soal tentang lingkungan rumah dan sekolah tetapi juga si layar ajaib tersebut. Dan pertanyaannya, sudahkah kita benar-benar tahu apa saja yang sedang membentuk mereka?.