Rabu, 28 Oktober 2026

Sambut Hari Pangan Sedunia, InJourney Hospitality Perkuat kekayaan Nusantara

Kompassantri, JAKARTA, OKTOBER 2026 –* Dalam rangka memperingati *Hari Pangan Sedunia (World Food Day),* PT Hotel Indonesia Natour (Persero) atau InJourney Hospitality memperkuat komitmennya dalam mengangkat kekayaan kuliner Nusantara sebagai bagian dari pengembangan pengalaman perhotelan yang berkualitas dan bernilai tambah. Melalui tiga unit hotel, yakni *Inna Tretes Hotel & Resort, Truntum Kuta, dan Anara Airport Hotel Jakarta,* InJourney Hospitality menghadirkan beragam sajian khas Indonesia serta penawaran kuliner spesial yang merepresentasikan keragaman cita rasa dan kekayaan pangan lokal.

Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya InJourney Hospitality dalam mengintegrasikan kekuatan layanan perhotelan dengan pelestarian kekayaan kuliner Indonesia. Melalui pengembangan menu berbasis cita rasa lokal, perusahaan tidak hanya menghadirkan pengalaman bersantap yang berkesan bagi pelanggan, tetapi juga memperkuat daya tarik kuliner sebagai salah satu elemen penting dalam ekosistem pariwisata nasional.

*Direktur Utama PT Hotel Indonesia Natour (Persero), Christine Hutabarat,* _menyampaikan bahwa kekayaan pangan dan kuliner Nusantara merupakan aset strategis yang memiliki potensi besar untuk memperkuat identitas pariwisata Indonesia sekaligus meningkatkan nilai tambah layanan perhotelan._

“Kuliner Nusantara bukan sekadar bagian dari layanan perhotelan, melainkan representasi kekayaan budaya, kearifan lokal, dan potensi ekonomi Indonesia. Melalui pengembangan sajian berbasis pangan lokal, kami ingin menghadirkan pengalaman yang autentik bagi pelanggan sekaligus memperkuat posisi industri perhotelan sebagai bagian dari ekosistem pariwisata yang berkelanjutan. Upaya ini sejalan dengan komitmen perusahaan untuk terus menciptakan nilai tambah melalui inovasi layanan dan optimalisasi potensi setiap unit hotel,” ujar Christine Hutabarat.

Dalam momentum Hari Pangan Sedunia, tiga unit hotel InJourney Hospitality menghadirkan pilihan kuliner dengan karakter dan keunggulan masing-masing.

*Inna Tretes Hotel & Resort, Jawa Timur,* menghadirkan Nasi Timbel Khas Jawa Timur dengan tema “Pangan Berkualitas, Masa Depan yang Lebih Baik”. Sajian ini memadukan nasi hangat yang dibungkus daun pisang dengan aneka lauk khas, sayur asam, lalapan segar, dan sambal. Mengutamakan bahan-bahan segar pilihan, hidangan ini ditawarkan dengan harga Rp45.000 net per porsi sebagai bentuk apresiasi terhadap cita rasa tradisional yang dekat dengan keseharian masyarakat.

Sementara itu, *Truntum Kuta Bali,* menghadirkan pengalaman bersantap dalam suasana tropis melalui Lunch Pool Package. Menu Nasi Goreng khas Truntum Kuta disajikan bersama sate ayam, kerupuk, telur, dan hidangan pendamping lainnya. Khusus pada 16 Oktober 2026, tamu dapat menikmati potongan harga sebesar 10% dari harga normal Rp150.000 net per orang. Penawaran ini memadukan kekayaan kuliner Indonesia dengan suasana rekreasi yang menjadi daya tarik destinasi Bali.

Adapun *Anara Airport Hotel Jakarta* melalui Selasih Restaurant menyuguhkan Laksa Tangerang, kreasi Chef de Partie Martin Sagita yang menonjolkan kekayaan rempah dan karakter kuliner lokal. Hidangan ini memadukan kuah santan berbumbu gurih, potongan daging ayam, tauge segar, serta rempah-rempah khas. Untuk menyemarakkan Hari Pangan Sedunia, Selasih Restaurant menghadirkan promo Buy 1 Get 1 Free yang berlaku pada waktu makan siang tanggal 16 Oktober 2026.

Keberagaman sajian tersebut mencerminkan pendekatan InJourney Hospitality dalam mengembangkan keunggulan produk dan layanan dengan mengedepankan identitas lokal. Setiap unit hotel memiliki peluang untuk mengangkat karakter kuliner daerahnya masing-masing, sehingga pengalaman menginap dan bersantap menjadi bagian dari perjalanan wisata yang lebih kaya, autentik, dan berkesan.

Melalui momentum *Hari Pangan Sedunia,* InJourney Hospitality berharap dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap pangan dan kuliner Nusantara, sekaligus mendorong penguatan daya saing industri perhotelan melalui inovasi produk yang berakar pada kekayaan lokal. Langkah ini juga menjadi bagian dari kontribusi perusahaan dalam mendukung pengembangan pariwisata berkualitas, pelestarian warisan kuliner Indonesia, serta penciptaan nilai berkelanjutan bagi ekosistem pariwisata nasional.

SUMPAH PEMUDA ALA-ALA GENMIL, GENZET & GENPHA| KI UUNG

Menjujut Tiga Generasi Kepemudaan Berdasarkan Norma-norma Kehidupan Nyata dan Maya_

*Oleh: UIS (Uung Ibnu Shobari)*

_1. Santri Kampung, Pendiri Kampung Santri Madeenah Indonesia_

_2. Inisiator LENTERA INDONESIA (Literasi, Ensiklopedia, Teknologi Rumusan AI)_


Kalau kita bicara pemuda, jangan dibayangkan sekadar usia. Pemuda itu soal ruh. Soal keberanian mengambil sikap ketika yang lain masih ragu-ragu.

*Versi Pemuda Ala Santri, Kyai dan Ulama*

Di pesantren, pemuda tidak diukur dari berapa follower-nya, tapi dari seberapa kuat khidmah-nya. Santri diajarkan: _syubbanul yaum rijalul ghad._ Pemuda hari ini adalah pemimpin esok hari. Tapi syaratnya bukan pintar saja, harus punya adab.

Kyai saya dulu bilang, pemuda itu ada tiga cirinya ala santri. Pertama, _himmah aliyah,_ cita-citanya tinggi tapi kakinya tetap membumi. Kedua, _jiddiyah,_ serius, tidak main-main dengan waktu. Ketiga, _wira'i,_ menjaga diri dari yang syubhat. Itu yang hilang di banyak anak muda sekarang.

Ulama kita tidak pernah mendidik pemuda untuk menjadi pembenci. Ulama mendidik pemuda untuk menjadi penjaga. Menjaga agama, menjaga bangsa, menjaga akhlak. Makanya santri ketika disuruh maju, dia maju dengan doa. Ketika disuruh mundur, dia mundur dengan adab. Bukan maju karena viral, mundur karena di-bully netizen. Lebih-lebih kentara saat dikotomikan genmil, genzet dan genfa _(milenia, zet dan alpha, red.)_

Di sinilah bedanya pemuda ala santri dengan pemuda ala tongkrongan. Santri itu kalau bersumpah, sumpahnya diikat dengan Allah. Bukan sekadar konten.

*Catatan Penting Pemuda Berdasarkan Pandangan Zu'ama dan Cendekia*

Zu'ama, para pemimpin, dan cendekiawan kita sepakat: pemuda adalah agen perubahan, bukan agen keributan. Bung Karno pernah berteriak, " beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang dunia." Tapi para cendekia muslim menambahkan: " beri aku sepuluh pemuda yang hafal Al-Quran dan paham teknologi, maka dunia akan tunduk dengan akhlak."

Cak Nur, Nurcholish Madjid, bilang pemuda itu harus _autentik._ Jangan jadi pengekor Barat, jangan juga jadi pengumpat Timur. Pramoedya bilang pemuda harus menulis sejarahnya sendiri. Sementara KH. Hasyim Asy'ari menuturkan pemuda harus cinta tanah air, " hubbul wathan minal iman." Nasionalisme santri itu bukan nasionalisme kosong, tapi nasionalisme yang disambung dengan iman. Alhamdulillah, sangat mengena.

Maka kalau hari ini banyak pemuda yang bingung identitasnya, itu karena ia kehilangan sanad keilmuan dan sanad kebangsaan. Ia tidak tahu harus merujuk kemana. Akhirnya ia merujuk pada algoritma medsos yang belum kenal rasa dan bumbunya, walau kadang telah membius perlakuannya yang kurang filter.

*Napak Tilas Histori Sumpah Pemuda 28 Oktober*

Mari kita tarik lagi ke belakang. Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Bukan sekadar rapat. Itu ijtihad kebangsaan. Pemuda dari _Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Pemuda Kaum Betawi,_ semua melebur. Di rumah Sie Kong Liong, Jalan Kramat 106, Jakarta. Mereka bersumpah: " Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, Indonesia. "

Ingat, saat itu belum ada Indonesia sebagai negara. Yang ada adalah tekad. Para pemuda itu tidak punya Instagram, tidak punya dana APBN, bahkan banyak yang masih ngontrak di kos-kosan. Tapi mereka punya satu yang hari ini langka: keberanian untuk sepakat. Mereka tidak ribut soal khilafiyah. Mereka sepakat pada hal yang fundamental.

Itulah mengapa Sumpah Pemuda itu dahsyat. Ia mendahului kemerdekaan 17 Agustus 45. Tanpa sumpah itu, mungkin tidak ada proklamasi kemerdekaan yang diproklamirkan di Pegangsaan Timur Nomor 56.

*Bagaimana Pemuda Genmil yang Kini Dalam Kebutaan Generasi dan Kedaulatan Nilai-Nilai?*

Nah, ini yang UIS (Uung Ibnu Shobari) resah. Gen Milenial, atau GenMil, lahir 1981-1996. Mereka generasi transisi. Generasi yang merasakan perangko dan juga merasakan e-mail. Mereka seharusnya menjadi jembatan. Tapi banyak yang terjebak.

Saya sebut ini kebutaan generasi. Secara teknologi mereka melek, tapi secara nilai mereka buta. Buta arah. Mereka tahu cara membuat startup, tapi tidak tahu cara memulai shalat tepat waktu. Mereka jago personal branding, tapi gagap ketika disuruh berkhidmah sosial.

Kedaulatan nilai kita sedang dijajah. Dulu penjajah datang dengan meriam. Sekarang penjajah datang dengan tren. Dengan istilah self-love yang kebablasan, healing yang tidak sembuh-sembuh, dan flexing yang tidak ada ujungnya. Pemuda Milenial banyak yang sudah lelah sebelum berjuang. _Burnout_ padahal belum terbakar apa-apa. 

Padahal milenial itu harusnya tangguh. Harusnya jadi komandan bagi adik-adiknya Gen Z dan Gen Alpha.

*Bagaimana Pemuda Generasi Zet dan Alpha Memahami Sumpah Pemuda*

Gen Z lahir 1997-2012. Gen Alpha lahir 2013 ke atas. Mereka ini penduduk asli dunia maya. Digital native. Sumpah bagi mereka bukan diucapkan di gedung, tapi di kolom komentar.

Gen Zet, begitu UIS menyebutnya, punya kelebihan luar biasa: _kritis, kreatif dan cepat belajar._ Tapi kelemahannya: _mudah cemas, mudah membandingkan diri, dan cepat menyerah._ Sumpah Pemuda bagi Gen Z harus diterjemahkan: Satu Nusa berarti jangan mudah terprovokasi isu SARA di media sosial. Satu Bangsa berarti kolaborasi, bukan saling cancel. Satu Bahasa berarti gunakan bahasa Indonesia dengan literasi, bukan dengan bahasa gado-gado yang merusak.

GenPha, Gen Alpha, lebih unik lagi. Mereka lahir ketika AI sudah ada. Mereka akan hidup bersama robot. Tantangan mereka bukan lagi soal akses informasi, tapi soal memfilter informasi. Maka Sumpah Pemuda bagi mereka adalah sumpah untuk tetap menjadi manusia. Tetap punya hati di tengah kecerdasan buatan. Tetap bisa membaca Al-Quran, bukan hanya membaca caption yang menyita banyak hal. Pada kenyataannya kini ada paradok antara _Genmil, Genzet dan Genpha_ yang kini mulai sulit untuk membedakannya.

Kalau GenMil menjahit, GenZet mengikat, maka GenPha harus menjaga jahitannya agar tidak lepas.

*Achievement Para Pemuda Ala Rasulullah dan Para Sahabat*

Ini yang paling penting. Jangan kita lupa, Islam dibangun oleh pemuda.

Rasulullah SAW diangkat menjadi Rasul usia 40 tahun, tapi pembela pertamanya adalah pemuda: _Ali bin Abi Thalib, masuk Islam usia sekitar 10 tahun. Mus'ab bin Umair, duta pertama Islam di Madinah, usia 20-an, tampan, kaya, tapi rela miskin demi dakwah. Zaid bin Tsabit, usia belasan tahun, menjadi penulis wahyu dan penerjemah. Usamah bin Zaid, usia 18 tahun sudah menjadi panglima perang memimpin pasukan yang di dalamnya ada Abu Bakar dan Umar._ Allahu Akbar, merinding saat menulis berdasarkan *literasi, ensiklopedia dan teknologi rumusan AI (LENTERA INDONESIA)* menyentuh dunia nyata dan negeri maya yang berada di lentik jemari kita semua para Pemuda.

Apa kuncinya para Sahabat Rasulullah? Mereka tidak menunda. Tidak menunggu tua untuk beramal. Tidak menunggu kaya untuk bersedekah. Tidak menunggu viral untuk berjuang. Pemuda ala Rasulullah itu cirinya: _imannya tebal, ilmunya dalam, dan keberaniannya tidak dibuat-buat._

Maka kalau kita ingin mencetak pemuda hebat, jangan hanya diberi pelatihan motivasi. Beri dia sanad. Beri dia masjid. Beri dia guru yang benar.

*Sumber Literatur Tentang Kepemudaan di Indonesia*

Untuk adik-adik yang mau mendalami, jangan hanya baca _thread._ Baca buku. Literatur kepemudaan kita kaya sekali !!.

_Pertama,_ naskah otentik Sumpah Pemuda 1928 dan tulisan Mohammad Yamin tentang ikrar tersebut. _Kedua,_ buku Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, untuk melihat gejolak pemuda idealis. _Ketiga,_ buku Ahmad Syafii Maarif tentang Islam dan keindonesiaan. _Keempat,_ karya Yudi Latif, Negara Paripurna, tentang asal-usul bangsa. _Kelima,_ manuskrip Babad Banten dan Sejarah Banten yang ditulis Abah Adung Abdul Haris, karena di sana ada jejak pemuda Banten yang melawan kolonial. _Keenam,_ literatur pesantren seperti Adabul 'Alim wal Muta'allim-nya KH. Hasyim Asy'ari, tentang adab pemuda pencari ilmu.

Dari pelbagai literatur tersebut kita tahu, pemuda Indonesia tidak pernah miskin gagasan, hanya kadang miskin keberanian untuk mengeksekusi gagasan.

*Asumsi Usia Pemuda Menurut Organisasi Dunia dan Ekspektasi Indonesia Emas 2045*

Secara definisi, PBB atau UN menyebutkan pemuda adalah usia 15-24 tahun. WHO menyebut 10-24 tahun sebagai remaja dan pemuda. ASEAN Youth: 15-35 tahun. Sedangkan Undang-Undang Kepemudaan Indonesia No. 40 Tahun 2009 menyebut pemuda adalah warga negara usia 16-30 tahun.

Artinya apa? Bonus demografi kita sedang di puncak. Tahun 2030-2045, 70% penduduk Indonesia adalah usia produktif. Inilah modal Indonesia Emas 2045, 100 tahun Indonesia merdeka.

Tapi emas tidak akan jadi emas kalau tidak ditempa. Pemuda harus ditempa. Kalau GenMil, GenZet, GenPha tidak kompak, tidak menjujut, tidak bersatu dalam norma nyata dan maya, maka Indonesia Emas hanya akan menjadi Indonesia dala kecemasan. jangan sampai itu terjadi, karena akan sirna dan sia-sia apa yang telah disumpahkan dalam format Sumpah Pemuda.

Ekspektasi UIS sebagai kolumnis, bahwa tahun 2045, pemuda kita bukan hanya jadi penonton di negeri sendiri. Ia harus jadi tuan rumah yang beradab, yang menguasai teknologi tapi tidak kehilangan tahleel, yang menguasai pasar global tapi tidak kehilangan pasar akhlak.

Akhir kata, Sumpah Pemuda bukan untuk dikenang setahun sekali. Ia untuk dijalani setiap hari. Di dunia nyata kita bersalaman, di dunia maya kita saling menjaga lisan. Kita jahit kembali persatuan itu dengan _keikhlasan, ketulusan, dan keberanian._ Insya Allah, dengan begitu, Indonesia tidak hanya emas secara ekonomi, tapi emas juga akhlaknya dan jiwanya untuk selama-lamanya. _(oenkmms4826)._

Sabtu, 24 Oktober 2026

Regina Art Angkat Kisah Auw Tjoei Lan dalam Pementasan Njonja Ati Soetji

Kompassantri-online,vJAKARTA — Perjuangan Auw Tjoei Lan, perempuan keturunan Tionghoa yang dikenal dengan nama Njonja Ati Soetji, dalam menolong perempuan dan anak-anak pada masa kolonial diangkat ke panggung teater oleh Regina Art. Pementasan bertajuk Njonja Ati Soetji dijadwalkan berlangsung pada 30–31 Oktober 2026 di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan.

Melalui pertunjukan ini, Regina Art berupaya memperkenalkan sosok Auw Tjoei Lan yang mendedikasikan hidupnya untuk menolong sesama. Perjuangannya tidak hanya menjadi bagian dari sejarah Yayasan Hati Suci, tetapi juga merefleksikan nilai kemanusiaan, keberanian, dan kepedulian terhadap perempuan serta anak-anak yang membutuhkan perlindungan.

Pendiri Regina Art, Joane Win, memerankan tokoh utama Njonja Ati Soetji. Dalam mini showcase yang digelar di The Forest, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Selasa (20/10/2026), Joane tampil mengenakan kain batik dan membawakan salah satu adegan dari pertunjukan tersebut.

“Kami tak butuh uangmu, tetapi bagaimana cara baik mendapatkannya,” ujar Joane dalam dialognya.

Wakil Ketua Yayasan Hati Suci, Wenny, mengapresiasi inisiatif Regina Art yang mengangkat kisah pendiri yayasan tersebut melalui seni teater. Menurutnya, perjalanan hidup Auw Tjoei Lan bukan sekadar catatan sejarah, melainkan juga teladan yang relevan bagi generasi masa kini.

“Kami mengapresiasi Regina Art karena mengangkat tentang pendiri kami. Buat kami, ini bukan saja hanya sejarah, namun juga sebuah teladan. Melalui seni, kami harapkan nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Njonja Ati Soetji bisa terus terpelihara,” kata Wenny dalam konferensi pers di The Forest, Jakarta Selatan, Kamis (22/10/2026).

Ia menilai keberanian, kasih yang diwujudkan melalui tindakan nyata, serta kepedulian sosial merupakan nilai penting yang dapat dipetik dari perjalanan Auw Tjoei Lan. Wenny berharap pementasan tersebut dapat memperluas pengenalan masyarakat terhadap sosok dan perjuangannya.

Di balik penggarapan pertunjukan, penulis naskah Endah D. Jenura mengungkapkan bahwa proses riset dan penelusuran bahan sejarah berlangsung selama dua tahun. Tim mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, termasuk arsip surat kabar dan dokumentasi sejarah, untuk memahami kehidupan Auw Tjoei Lan serta kondisi sosial pada masanya.

Salah satu referensi yang ditemukan ialah artikel surat kabar De Locomotief tertanggal 23 Juni 1925 yang memuat informasi mengenai perdagangan manusia. Dokumen tersebut menjadi salah satu bahan untuk memahami konteks sosial yang melatarbelakangi cerita.

Namun, keterbatasan dokumentasi tertulis dan rekaman visual menjadi tantangan dalam proses penelusuran. Untuk melengkapi informasi, tim juga menggali kesaksian Oma Stela, cucu Auw Tjoei Lan. Dari penuturan keluarga, tim memperoleh gambaran mengenai sisi personal tokoh tersebut, mulai dari cara berjalan dan kebiasaannya berkomunikasi menggunakan bahasa Belanda hingga panggilannya kepada sang suami, yakni “Brur”.

Endah menjelaskan, kesaksian keluarga membantu tim memahami karakter Auw Tjoei Lan secara lebih dekat. Meski demikian, tidak semua detail kehidupannya dapat dipastikan melalui dokumentasi tertulis yang tersedia.

Tantangan berikutnya adalah mengolah bahan sejarah menjadi cerita yang memiliki konflik dan alur dramatik. Tidak seluruh karakter maupun peristiwa yang dibutuhkan untuk membangun pertunjukan ditemukan secara langsung dalam sumber sejarah. Karena itu, tim mengembangkan sejumlah karakter untuk mendukung kebutuhan artistik dan penyampaian cerita di atas panggung.

Pengembangan tersebut merupakan bagian dari interpretasi dramatik, bukan pernyataan bahwa seluruh karakter, dialog, dan peristiwa dalam pertunjukan tercatat secara langsung dalam dokumen sejarah. Pembedaan antara temuan arsip, kesaksian keluarga, dan pengembangan artistik menjadi bagian penting dalam proses adaptasi kisah tokoh sejarah ke dalam seni pertunjukan.

Pementasan ini disutradarai Wawan Sofwan dengan naskah yang ditulis Endah D. Jenura. Keduanya mengolah hasil penelusuran sejarah, kesaksian keluarga, dan kebutuhan dramatik untuk menyusun pertunjukan yang menghubungkan perjalanan masa lalu dengan persoalan kemanusiaan yang masih relevan bagi masyarakat saat ini.

Aktris Maudy Koesnaedi turut terlibat dengan memerankan Sayap Hitam, salah satu karakter dalam pertunjukan. Karakter ini menghadirkan perspektif lain mengenai perempuan, pilihan moral, serta tindakan yang dilakukan seseorang dalam situasi sosial tertentu.

Dalam konferensi pers, Maudy menyampaikan salah satu dialog karakternya, “Aku kan membantu perempuan-perempuan ini untuk mendapatkan penghasilan….”

Dialog tersebut menjadi bagian dari konflik dramatik yang mengajak penonton mencermati alasan di balik suatu tindakan sekaligus mempertanyakan dampaknya terhadap kehidupan orang lain. Karakter Sayap Hitam memberikan ruang bagi penonton untuk melihat persoalan moral melalui sudut pandang yang tidak selalu sederhana.

Selain Joane Win dan Maudy Koesnaedi, pertunjukan ini melibatkan sejumlah pemain, yakni Tika Bravani sebagai Noona Kneefel, Willem Bievers sebagai Van Walsem, Lutfi Ardiansyah sebagai Jirrin, Chloe Gerry sebagai Suyun, Jim Lim sebagai Seng Hoe, Haikal Mubarok sebagai Tuan Lie, Andri Surawan sebagai Buron, dan Andi Solohin sebagai Jagal. Joane Win juga bertindak sebagai produser eksekutif.

Melalui pementasan Njonja Ati Soetji, Regina Art berupaya membawa kisah perjuangan Auw Tjoei Lan lebih dekat kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Pertunjukan ini mempertemukan seni teater dengan penelusuran sejarah sekaligus membuka ruang refleksi mengenai keberanian, kemanusiaan, dan kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan pertolongan.

Pementasan Njonja Ati Soetji akan berlangsung pada 30–31 Oktober 2026 di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan. Pertunjukan ini didukung oleh Indonesia Kaya, Ciputra Artpreneur, BFI Finance, Alcester, Regina Realty, Sariayu Martha Tilaar, dan Le Minerale.

Jumat, 23 Oktober 2026

Cara install Windows 10 di HP Android