Jumat, 06 November 2026

PESONA SANTRI BANTEN 2026 DIBAWAH SERIUSNYA DIRJEN PESANTREN | Ki U'ung


Menjawab : Santri is Strengthening The Nation and Towarding The Golden of Republic of Indonesia (UIS' Notes HSN Pandeglang, 22/10/2026, red.)

*Oleh : UIS (Uung Ibnu Shobari)

_✓ Sekretaris Jenderal FSPP Kabupaten Pandeglang_ 

_✓ Founder & Presiden Komunitas Pecinta Pesantren (KEREN)_

_✓ Inisiator Literasi, Ensiklopedia & Teknologi Rumusan AI (LENTERA INDONESIA)_

PESONA Santri Banten 2026, kolumnis memaktubkannya dengan pendekatan rooh _Wisata dan Budaya Ala Santri,_ bukan sekadar rangkaian acara Hari Santri. Ia adalah panggung tempat Banten memperkenalkan dirinya kepada Indonesia, sebagai Taman Santri dan Negeri Serambi Madinah. Di Lebak, dalam Puncak Hari Santri Tingkat Provinsi Banten yang digelar Forum Silaturahmi Pondok Pesantren atau FSPP Pusat Provinsi Banten, kita menyaksikan perpaduan yang jarang ditemukan di tempat lain: _khidmatnya silaturahmi santri, kiai, dan Polri, megahnya display marching band, dan hangatnya pentas budaya santri._

*Ijtihad FSPP PUSAT Provinsi Banten Gagas Gelaran HSN yang Mempesona*

Pendekatan wisata dan budaya di sini bukan _kosmetik._ Ia adalah cara baru membaca pesantren. Selama ini pesantren sering dipahami hanya sebagai ruang belajar agama. Padahal pesantren adalah ekosistem hidup: ada masjid, asrama, dapur, sawah, pasar, seni, kuliner, dan jejaring sosial yang kuat. Ketika FSPP Banten membuka panggung PESONA, pesantren berubah menjadi destinasi. Orang datang bukan hanya menonton, tetapi merasakan. Merasakan bagaimana santri disiplin, bagaimana kiai mengasuh dengan cinta, bagaimana masyarakat kampung menyambut tamu dengan hidangan sederhana namun penuh berkah.

*Antara Serambi Madinah, Taman Santri, Kota Santri dan Kampung Santri*

Inilah yang dimaksud Banten sebagai acuan Taman Santri. Taman bukan hanya tempat indah, tetapi tempat tumbuh. Di taman, setiap tanaman dirawat sesuai kebutuhannya, diberi air, cahaya, dan ruang untuk mekar. Begitu pula santri di Banten. Mereka tumbuh dalam tradisi keilmuan yang kuat, dalam akhlak yang dijaga, dan dalam budaya yang hidup. Dari debus, hadroh, marawis, qasidah, silat, kaligrafi, hingga kuliner kampung seperti nasi liwet, angeun lada, dan jajanan pasar pesantren, semuanya adalah warisan yang bisa dinikmati wisatawan tanpa kehilangan sakralitasnya.

Serambi Madinah bukan sekadar julukan. Ia adalah cita rasa. Jika Madinah dikenal sebagai kota yang menenangkan, tempat hijrah menjadi cahaya, maka Banten ingin menghadirkan rasa yang sama: aman, ramah, dan penuh keberkahan. Wisatawan yang datang ke Banten tidak hanya diajak berfoto di depan Masjid Agung atau menara, tetapi diajak menyelami kehidupan. Menginap di pesantren, mengikuti subuh berjamaah, belajar mengaji, makan lesehan bersama santri, dan berdialog dengan kiai.

*Bukti Negara Serius Membaca Potensi Santri dan Entitas Pesantren*

Visi ini sejalan dengan program nyata dari Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama RI, khususnya melalui Direktur Pemberdayaan Pesantren. Ada lima program besar yang menjadi fondasi: SAFESANTRI, Penguatan Rekognisi Ijazah, Pesantren Adaptif dan Mandiri, Santri 5.0, dan Dakwah Digital. SAFESANTRI menjadi yang paling mendasar. Melalui Kepdirjen Pesantren Nomor 13 Tahun 2026 tentang Himayatu Thalabah melalui model safeguarding, pesantren diwajibkan membangun sistem perlindungan santri yang terintegrasi dalam tata kelola. Ada lima mekanisme: _SafeNorma, SafeKader, SafeLapor, SafeMitra, dan SafeIndeks._ Pesantren yang aman adalah syarat pertama bagi wisata pesantren yang bermartabat. Setidaknya sudah berdiri juga perlahan salah satu Pondok Pesantren Model SafeNorma besutan dan ijtihad kolumnis (UIS, red.) di Kampung Santri Blok Cijantung, Bojong Pandeglang Banten: yaitu Noor El-Madeenah, disingkat NORMA.

Program kedua, Pesantren Adaptif dan Mandiri, diwujudkan dalam Expo Kemandirian Pesantren pada Hari Santri 2026. Produk pertanian, makanan dan minuman, fesyen, kerajinan, dan jasa teknologi informasi dari pesantren dipamerkan dan dipasarkan. Inilah ekonomi budaya. Ketika wisatawan membeli produk santri, mereka tidak hanya membeli barang, mereka membeli cerita, ketekunan, dan doa.

Sementara Santri 5.0 menyiapkan santri yang menguasai ilmu agama sekaligus keterampilan zaman: _teknologi, AI, STEM, dan kewirausahaan._ Ditambah Dakwah Digital, santri Banten bisa bercerita tentang kampungnya ke seluruh dunia melalui konten kreatif yang santun dan mencerahkan.

Keberhasilan PESONA ini tidak berdiri sendiri. Ia adalah buah dari keberhasilan event HSN di 8 Kabupaten dan Kota se-Provinsi Banten, masing-masing dengan ciri khas dan rasa pesona kearifan lokalnya. *Pandeglang* tampil sebagai Distrik Kota Santri dengan Kampung-kampung Santri, debus, dan kuliner kampung yang autentik. *Lebak* mempesona dengan harmoni Baduy, alam pegunungan, dan keteguhan adat yang berpadu dengan pesantren. *Kabupaten Serang* mengangkat marwah Kesultanan Banten, Masjid Agung, dan ziarah sejarah. *Kabupaten Tangerang* menyuguhkan santri pesisir yang kreatif, dengan industri kreatif pesantren. *Kota Cilegon* membuktikan santri bisa tumbuh di tengah kota industri, tangguh dan mandiri. *Kota Serang* menghadirkan pesona ibu kota provinsi yang religius dan berbudaya. *Kota Tangerang* menampilkan santri urban yang modern dan multikultural. *Kota Tangerang Selatan* memancarkan pesona santri digital, literasi, dan inovasi muda. Delapan warna ini menyatu menjadi satu lukisan besar: Banten yang utuh, Banten yang santri.

Catatan ini ditulis oleh Kolumnis UIS (Uung Ibnu Shobari, red.) Sekjen FSPP Pandeglang 2021-2026, yang aktif terus menulis update entitas rooh Pesantren di bumi pertiwi, utamanya di Negeri Serambi Madinah Banten, di Distrik Kota Santri Pandeglang dan juga turun bukti di lapangan merintis Kawasan Kampung-kampung Santri bersama Majelis Konsorsium Madeenah Indonesia (MI) Bagi UIS, menulis adalah jihad literasi. Dari Pandeglang, ia merajut narasi bahwa rooh pesantren bukan masa lalu, melainkan masa depan Indonesia.

Karena itu, output PESONA HSN 2026 FSPP Pusat Provinsi Banten harus dibaca sebagai deklarasi budaya dan wisata. Banten menyatakan: _kami siap menjadi rujukan nasional. Datanglah ke Banten, rasakan Taman Santri, dan pulanglah dengan hati yang lebih teduh, seperti pulang dari Serambi Madinah. Santri Menguatkan Negeri, Menuju Indonesia Emas._ Jadikan Banten destinasi iman, budaya, dan kebanggaan bangsa Indonesia. Wallaahu A'lamu Bisshowwab, Wahdinasshiraathal Mustaqeem. _(oenkmms4826)_

Senin, 02 November 2026

Menakar Proporsionalitas Penggeledahan Kasus Warung Mie Babi Sukoharjo dalam Perspektif Bahagia Hari Santri Nasional ke-12 yang Belum Usai di Oktober 2026

*2 ANGGOTA BRIMOB TERLUKA DAN 19 SAKSI TRAUMATIS DI PESANTREN*
_Menakar Proporsionalitas Penggeledahan Kasus Warung Mie Babi Sukoharjo dalam Perspektif Bahagia Hari Santri Nasional ke-12 yang Belum Usai di Oktober 2026_

*Oleh: Uung Ibnu Shobari (UIS)*

_✓ Santri Kampung di Kampung Santri Madeenah Indonesia (KAMPUS DEENA)_

_✓ Sekjen FSPP Kabupaten Pandeglang_

_✓ Anggota Pengurus ICMI ORWIL BANTEN, Bidang Kepesantrenan_
 
_✓ Founder & Presiden Komunitas Pecinta Pesantren (KEREN)_

Belum selesai euphoria Hari Santri Nasional ke-12 pada 22 Oktober 2026. Spanduk ucapan terima kasih kepada santri sebagian masih terpampang seantero Bumi Pertiwi. Namun di penghujung Oktober yang sama, Sukoharjo justru menyisakan dua luka yang bertolak belakang: 2 (dua) anggota Brimob terluka karena melawan pelaku pembakaran, dan 19 perempuan serta anak dari sebuah asrama tahfiz di Laban, Mojolaban mengalami trauma karena penggeledahan.

Kasus ini berawal dari pembakaran dan perusakan Warung Mie dan Babi Tepi Sawah di Desa Parangjoro, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, pada 12 September 2026 dini hari. Warung milik Jodi Sutanto itu didatangi empat orang bermotor berpenutup wajah. Dua karyawan ditodong senjata tajam, lalu gudang disiram bensin dan dibakar.

Penyelidikan melibatkan Bidlabfor Polda Jateng, Jatanras, dan Densus 88. Pada 19 Oktober 2026 malam, tersangka ST alias AS ditangkap di kontrakan Purbayan, Baki. ST melawan dengan samurai hingga dua anggota Brimob terluka. Kapolda Jateng Irjen Roy Hardi Siahaan pada 30 Oktober menegaskan ST adalah eks napiter kasus Polsek Pasar Kliwon 2015.

Dari ST, mengembang ke DPO I yang ditetapkan 24 Oktober 2026. I juga eks napiter. Berdasarkan keterangan pendamping Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Sukoharjo, Endro Sudarsono (Juga Humas SDKS, red.), kepada awak media di Mapolres Sukoharjo pada 31 Oktober 2026, bahwa inisial " I " adalah salah satu pengurus lembaga tersebut.

Untuk memburu I, pada 27 Oktober 2026 pukul 03.20 WIB, tim gabungan dengan izin penetapan pengadilan menggeledah dua lokasi yang mengatasnamakan RTQ / Hamalatul Qur'an di Laban, Mojolaban, Sukoharjo dan di Trengguli, Jenawi, Karanganyar. Hasilnya nihil. DPO tidak ditemukan. Yang ditemukan samurai, pedang, celurit, busur panah, cairan asam, dan literatur. Yang tertinggal trauma pada 12 santriwati usia 10-16 tahun, 4 ustazah, dan 2 balita yang berstatus saksi dari hasil analisis data sumber literatur di media sosial, media online dan video pernyataan yang tersebar luas.

Kapolres Sukoharjo AKBP Andika Dharma Sena pada 31 Oktober menegaskan ada empat pelaku. Satu ditahan, satu DPO, dua masih dalam penyelidikan intensif. Dua pelaku misterius itu yang membuat publik bertanya: apakah deradikalisasi di Solo Raya jebol?

Sebagai Founder sekaligus Presiden Komunitas Pecinta Pesantren (KEREN, red.) dan juga Sekjen FSPP Pandeglang tidak bisa juga berdiam diri, setidaknya untuk menjaga akuntabilitas, saya kutip utuh pernyataan sikap salah satu organisasi induk kami, *Forum Silaturahim Pondok Pesantren (FSPP) Provinsi Banten* yang diterbitkan resmi di Banten, *20 Jumadil Ula 1448 H / 30 Oktober 2026 M*, dengan tema besar: *"Melindungi Santri, Menegakkan Hukum, Menjaga Marwah Pesantren"*.

Pernyataan sikap yang ditandatangani *Dewan Presidium: Ketua Dr. KH. Fadlullah, M.Si., yang beranggotakan, Drs. KH. Sulaeman Ma'ruf, Dr. KH. Fathurrohman, S.Pd.I., M.Si., Dr. KH. Sulaiman Effendi, M.Pd.I., dan Assoc. Prof. Dr. KH. Soleh Rosyad, MM.* ini menyampaikan keprihatinan serius atas peristiwa pembakaran Warung Mie dan Babi Tepi Sawah dan penggeledahan di lingkungan pesantren. Isinya 6 poin tegas, yang saya jadikan pijakan analisis:

*Poin 1. Menghormati aspirasi masyarakat terhadap produk halal.* Aspirasi masyarakat untuk mengutamakan produk halal adalah bagian dari kesadaran masyarakat sekaligus sejalan dengan upaya pemerintah mengembangkan ekosistem halal nasional.

*Poin 2. Menolak segala bentuk kekerasan dan mendukung penegakan hukum.* FSPP mendukung kepolisian mengusut tuntas tindakan pembakaran dan perusakan berdasarkan bukti di tempat kejadian perkara. Penegakan hukum harus dilakukan secara profesional, transparan, dan adil.

*Poin 3. Mendesak negara memberikan perlindungan kepada santri.* Meminta Kementerian Agama, khususnya Direktorat Jenderal Pesantren, hadir aktif memastikan perlindungan, pendampingan, keamanan, dan keberlangsungan pendidikan santri, terutama santri perempuan dan anak-anak.

*Poin 4. Meminta transparansi dan pemeriksaan atas dugaan pelanggaran prosedur.* Kepolisian harus menjelaskan secara terbuka dan proporsional pelaksanaan penggeledahan, termasuk berbagai keterangan mengenai cara aparat memasuki lokasi dan perlakuan terhadap penghuni pesantren. Dugaan pelanggaran prosedur harus diklarifikasi dan diperiksa secara objektif.

*Poin 5. Menolak stigma dan kriminalisasi kolektif terhadap pesantren.* Perbuatan individu tidak boleh digeneralisasi menjadi kesalahan lembaga atau komunitas pesantren. Proses hukum yang adil harus membuktikan secara individual.

*Poin 6. Mendorong kemitraan kepolisian dengan kiai dan pimpinan pesantren.* FSPP mendorong kemitraan yang kuat dalam deteksi dini, pencegahan konflik, mediasi, serta penyelesaian persoalan sosial melalui dialog dan pendekatan kultural.

FSPP Banten menutup pernyataan itu dengan kalimat emas yang menjadi ruh tulisan Uung Ibnu Shobari, yakni :

*"Penegakan hukum harus menghadirkan keadilan, bukan ketakutan. Melindungi santri, menegakkan hukum, dan menjaga marwah pesantren adalah tanggung jawab bersama."*

Enam poin inilah yang saya pakai untuk menguji proporsionalitas dengan tiga tolok ukur ala UIS.

*Pertama, necessity / seberapa gentingnya. Apakah harus jam 03.20?*

Secara taktis polisi benar, SOP DPO berbahaya. Tetapi secara empiris, objeknya asrama putri. Anak 10-16 tahun yang baru selesai menghafal Qur'an adalah saksi. Jika target satu laki-laki dewasa, apakah tidak bisa pemantauan siang, pemanggilan pengurus, atau penggeledahan selektif ruang pengurus saja? Kebutuhan menangkap DPO itu nyata, kebutuhan melindungi tidur anak itu juga nyata. Ini sejalan dengan Poin 4 FSPP Banten tentang transparansi proporsionalitas.

*Kedua, proportionality / keseimbangan tolak ukur hukum dan bukti. Apakah kekuatannya seimbang?*

Kekuatan Brimob laras panjang seimbang untuk eks napiter bersamurai yang melukai dua anggota. Tetapi tidak seimbang untuk santriwati yang terbangun kaget, belum berjilbab, tidak bersenjata. Fakta bahwa 17 HP, 3 motor, CPU, safety box santriwati sempat disita dan baru dikembalikan 31 Oktober menunjukkan audit diperlukan. Ini yang diminta Poin 4 dan Poin 3: perlakuan objektif dan perlindungan anak.

*Ketiga, humanity / unsur keharmonisan berkemanusiaan dan nilai-nilai. Apakah martabat anak terjaga?*

Wagub Taj Yasin menegaskan lokasi Laban tidak terdaftar di Kemenag dan tidak terkait Hamalatul Qur'an pusat di Jombang. Artinya, anak-anak di Laban korban penyalahgunaan nama pesantren oleh pengurus yang ternyata DPO. Mereka harus dilindungi, bukan ditakuti. Sesuai Poin 5, perbuatan individu tidak boleh menjadi stigma kolektif pesantren.

Hari Santri ke-12 mengajarkan santri adalah *penjaga negeri.* Jika pada 22 Oktober kita mengelu-elukan santri, jangan malah pada 27 Oktober kita membuat santriwati trauma dan jiwanya terluka.

Maka, sekajatinya Kolumnis UIS lentik jemari ini bergetar saat harus menuliskan semua ini, disamping selaku Sekjen FSPP Kota Santri Pandeglang dan Waka Panpel HSN ke-12, mendorong tiga hal sejalan dengan sikap FSPP Banten: _Pertama,_ transparansi nasib dua pelaku lain dari empat pelaku agar publik tahu apakah ini jaringan. _Kedua,_ audit Propam terbuka dengan tolok ukur _necessity, proportionality, humanity._ _Ketiga,_ pendampingan psikologis tuntas bagi 19 anak kita agar bisa kembali menghafal Qur'an dengan tenang.

Mereka, baik Brimob yang terluka maupun santriwati yang trauma, adalah anak-anak bangsa yang wajib dilindungi hukum. Termasuk entitas kelembagaan RTQ yang berbasis Pondok Pesantren menjadi catatan penting di penghujung 2026 ini sebagai tolak ukur hadirnya Dirjen Pesantren di Kementrian Agama RI dan semua kalangan untuk melalukan sesuai tupoksnya dalam melakukan _social controling_ secara utuh memahami rentetan kerapihan UU Pesantren, PMA 30, 31, 32 tahun 2020 serta PP 82 tahun 2021 yang semua hal tersebut menjadi regulasi legal di Bumi Pertiwi Loh Jinawi ini.

Sambil menikmati suasana pagi di Kampung Santri Cijantung, Bojong, Pandeglang, Banten yang 3 hari terakhir ini Allah berikan Rahmat-Nya dengan mulainya guyuran hujan, padahal 4 (empat) bulan terakhir ini ratusan warga antri menikmati jariyah air bersih dari salah satu titipan donor di Kampus Madeenah Indonesia Cijantung yang alhamdulillah setiap pagi hari hingga malam keberkahan air moncer tanpa habis-habisnya, maasyaa Allah.

Sisi lain, dikagetkan dengan kejadian di Sukoharjo yang menyita perhatian semua kalangan khususnya para Pecinta Pesantren. Wallaahu A'lamu Bisshowwab, Wahdinasshiraathol Mustaqeem._(oenkmms4826)

Kamis, 29 Oktober 2026

Rangkul 300 Suporter, Kapolres Metro Tangerang Kota Ajak Jaga Kota Tangerang Tetap Kondusif

Kompassantri-online, TANGERANG — Sekitar 300 suporter sepak bola dari berbagai kelompok berkumpul di Stadion Nambo, Karawaci, Kota Tangerang, Rabu (28/10/2026) malam. Bukan untuk saling beradu rivalitas, mereka justru dipertemukan dalam kegiatan silaturahmi dan mini turnamen yang digelar Polres Metro Tangerang Kota.

Kegiatan tersebut dipimpin Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol. Herbin Garbawiyata J. Sianipar. Sejumlah kelompok suporter hadir, mulai dari pendukung Persita Tangerang, Persikota Tangerang, Arema Malang, PSIM Yogyakarta, Persib Bandung, hingga Madura United.

Pertemuan ini menjadi upaya kepolisian membangun komunikasi dengan komunitas suporter sekaligus menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) tetap kondusif.

Dalam arahannya, Herbin mengapresiasi kehadiran para suporter dan mengajak seluruh kelompok menjaga hubungan baik, meski mendukung klub yang berbeda.

"Sepak bola seharusnya menjadi sarana mempererat persaudaraan, bukan menjadi alasan untuk bermusuhan. Kami mengajak seluruh suporter menjaga komunikasi, menghormati perbedaan dukungan, dan bersama-sama menciptakan suasana yang aman serta kondusif di Kota Tangerang," ujar Herbin.

Kapolres juga mengingatkan para suporter agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya. Ia meminta seluruh kelompok menghindari tindakan yang berpotensi memicu konflik, termasuk konvoi maupun pergerakan massa yang dapat mengganggu ketertiban umum.

Herbin turut mengimbau para suporter agar menyampaikan aspirasi melalui komunikasi dan jalur yang tertib, tanpa melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

"Kami berharap teman-teman suporter menjadi pelopor keamanan dan keselamatan. Jangan mudah terpancing hoaks atau ajakan yang bisa memicu keributan. Tunjukkan kecintaan terhadap klub dengan cara yang positif, kreatif, dan tetap menjunjung sportivitas," tegasnya.

Setelah penyampaian arahan dan foto bersama, kegiatan dilanjutkan dengan simbolis sepak mula oleh Kapolres. Para suporter kemudian mengikuti pertandingan antarkelompok yang berlangsung sejak malam hingga penentuan juara.

Enam tim yang bertanding berasal dari kelompok suporter Persikota, PSIM, Arema, Madura United, Persita, dan Persib. Pertandingan berlangsung dengan semangat kompetisi dan sportivitas.

Dalam hasil akhir turnamen, suporter Persib Bandung meraih juara pertama, sedangkan suporter Persita Tangerang menempati posisi kedua. Panitia kemudian menyerahkan piala, penghargaan pencetak gol terbanyak, serta uang pembinaan.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kasat Binmas AKBP Dr. Muhammad Nasir, Kasat Samapta AKBP Ubaidillah, Kasat Intelkam Kompol Dr. Dodi Abdulrohim, Kapolsek Karawaci Kompol Anggoro Winardi, serta jajaran pejabat Polres Metro Tangerang Kota lainnya.

Melalui kegiatan ini, Polres Metro Tangerang Kota berharap rivalitas dalam sepak bola tetap berada di lapangan dan tidak berkembang menjadi perselisihan di luar pertandingan.

Kapolres juga mengajak seluruh suporter menjaga nama baik Kota Tangerang dengan mengedepankan persaudaraan, menghormati kelompok lain, dan segera menyelesaikan persoalan melalui dialog apabila muncul perbedaan.

Rabu, 28 Oktober 2026

Sambut Hari Pangan Sedunia, InJourney Hospitality Perkuat kekayaan Nusantara

Kompassantri, JAKARTA, OKTOBER 2026 –* Dalam rangka memperingati *Hari Pangan Sedunia (World Food Day),* PT Hotel Indonesia Natour (Persero) atau InJourney Hospitality memperkuat komitmennya dalam mengangkat kekayaan kuliner Nusantara sebagai bagian dari pengembangan pengalaman perhotelan yang berkualitas dan bernilai tambah. Melalui tiga unit hotel, yakni *Inna Tretes Hotel & Resort, Truntum Kuta, dan Anara Airport Hotel Jakarta,* InJourney Hospitality menghadirkan beragam sajian khas Indonesia serta penawaran kuliner spesial yang merepresentasikan keragaman cita rasa dan kekayaan pangan lokal.

Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya InJourney Hospitality dalam mengintegrasikan kekuatan layanan perhotelan dengan pelestarian kekayaan kuliner Indonesia. Melalui pengembangan menu berbasis cita rasa lokal, perusahaan tidak hanya menghadirkan pengalaman bersantap yang berkesan bagi pelanggan, tetapi juga memperkuat daya tarik kuliner sebagai salah satu elemen penting dalam ekosistem pariwisata nasional.

*Direktur Utama PT Hotel Indonesia Natour (Persero), Christine Hutabarat,* _menyampaikan bahwa kekayaan pangan dan kuliner Nusantara merupakan aset strategis yang memiliki potensi besar untuk memperkuat identitas pariwisata Indonesia sekaligus meningkatkan nilai tambah layanan perhotelan._

“Kuliner Nusantara bukan sekadar bagian dari layanan perhotelan, melainkan representasi kekayaan budaya, kearifan lokal, dan potensi ekonomi Indonesia. Melalui pengembangan sajian berbasis pangan lokal, kami ingin menghadirkan pengalaman yang autentik bagi pelanggan sekaligus memperkuat posisi industri perhotelan sebagai bagian dari ekosistem pariwisata yang berkelanjutan. Upaya ini sejalan dengan komitmen perusahaan untuk terus menciptakan nilai tambah melalui inovasi layanan dan optimalisasi potensi setiap unit hotel,” ujar Christine Hutabarat.

Dalam momentum Hari Pangan Sedunia, tiga unit hotel InJourney Hospitality menghadirkan pilihan kuliner dengan karakter dan keunggulan masing-masing.

*Inna Tretes Hotel & Resort, Jawa Timur,* menghadirkan Nasi Timbel Khas Jawa Timur dengan tema “Pangan Berkualitas, Masa Depan yang Lebih Baik”. Sajian ini memadukan nasi hangat yang dibungkus daun pisang dengan aneka lauk khas, sayur asam, lalapan segar, dan sambal. Mengutamakan bahan-bahan segar pilihan, hidangan ini ditawarkan dengan harga Rp45.000 net per porsi sebagai bentuk apresiasi terhadap cita rasa tradisional yang dekat dengan keseharian masyarakat.

Sementara itu, *Truntum Kuta Bali,* menghadirkan pengalaman bersantap dalam suasana tropis melalui Lunch Pool Package. Menu Nasi Goreng khas Truntum Kuta disajikan bersama sate ayam, kerupuk, telur, dan hidangan pendamping lainnya. Khusus pada 16 Oktober 2026, tamu dapat menikmati potongan harga sebesar 10% dari harga normal Rp150.000 net per orang. Penawaran ini memadukan kekayaan kuliner Indonesia dengan suasana rekreasi yang menjadi daya tarik destinasi Bali.

Adapun *Anara Airport Hotel Jakarta* melalui Selasih Restaurant menyuguhkan Laksa Tangerang, kreasi Chef de Partie Martin Sagita yang menonjolkan kekayaan rempah dan karakter kuliner lokal. Hidangan ini memadukan kuah santan berbumbu gurih, potongan daging ayam, tauge segar, serta rempah-rempah khas. Untuk menyemarakkan Hari Pangan Sedunia, Selasih Restaurant menghadirkan promo Buy 1 Get 1 Free yang berlaku pada waktu makan siang tanggal 16 Oktober 2026.

Keberagaman sajian tersebut mencerminkan pendekatan InJourney Hospitality dalam mengembangkan keunggulan produk dan layanan dengan mengedepankan identitas lokal. Setiap unit hotel memiliki peluang untuk mengangkat karakter kuliner daerahnya masing-masing, sehingga pengalaman menginap dan bersantap menjadi bagian dari perjalanan wisata yang lebih kaya, autentik, dan berkesan.

Melalui momentum *Hari Pangan Sedunia,* InJourney Hospitality berharap dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap pangan dan kuliner Nusantara, sekaligus mendorong penguatan daya saing industri perhotelan melalui inovasi produk yang berakar pada kekayaan lokal. Langkah ini juga menjadi bagian dari kontribusi perusahaan dalam mendukung pengembangan pariwisata berkualitas, pelestarian warisan kuliner Indonesia, serta penciptaan nilai berkelanjutan bagi ekosistem pariwisata nasional.