Selasa, 06 Oktober 2026

NOLAK DATA CENTER JADI TREN GLOBAL? Kenapa Warga di Seluruh Dunia Tiba-Tiba Anti Gedung Server


Dulu, kalau ada investor mau bangun gedung miliaran dolar di dekat rumah kita, pasti disambut karpet merah. Lapangan kerja baru, pajak daerah naik. Tapi sekarang beda cerita.

Gedung itu bernama *Data Center*. Dan di tahun 2026 ini, penolakannya justru meledak di mana-mana.

Bukan cuma di Georgia, Amerika, yang warga sampai teriak airnya keruh. Gelombangnya sudah mendunia.

Angkanya Nggak Main-Main: Ratusan Triliun Terancam

Laporan terbaru dari CNBC Indonesia (6 Oktober 2026) bikin kaget. 

Di Eropa saja, investasi data center senilai *US$42 miliar atau sekitar Rp 752 Triliun* kena dampak penundaan dan pembatalan karena protes warga. Di Amerika Serikat lebih parah lagi, nilainya tembus *US$77 miliar

Bayangin, dari Januari sampai April 2026 saja, sudah ada lebih dari 70 proyek data center di Eropa yang ditolak atau dibatasi. Padahal itu baru 4 bulan, tapi sudah melampaui total penolakan sepanjang tahun 2025.

Kenapa warga tiba-tiba sekolektif itu menolak?

4 ALASAN WARGA BILANG "TIDAK" UNTUK DATA CENTER 
Kalau dirangkum dari berbagai protes di AS, Eropa, sampai Korea, polanya sama:

*1. Listrik Rakus, Tagihan Warga yang Naik
Satu data center hyperscale bisa makan listrik setara satu kota kecil. Akibatnya, jaringan listrik jadi berat dan di beberapa wilayah AS, tarif listrik warga naik sampai 90%.

*2. Air Bersih Disedot
Seperti kasus di Georgia kemarin, AI butuh air jutaan galon untuk pendinginan. Warga yang sumurnya jadi keruh jelas menolak.

*3. Lahannya Besar, Lapangan Kerjanya Sedikit
Data center butuh lahan hektaran, tapi setelah jadi, lapangan kerja permanen yang diciptakan cuma puluhan orang. Warga merasa nggak sebanding.

*4. Manfaatnya Nggak Jelas
Banyak warga bertanya, "Untungnya buat kami apa?" Pajaknya memang masuk ke daerah, tapi polusi suara, pemandangan, dan risiko lingkungan ditanggung warga sekitar.

Olivier Darmouni, profesor dari HEC Paris bilang ini sudah jadi titik kritis.

> "Ini bisa menjadi 'jerami terakhir yang mematahkan punggung unta'," katanya.

DUNIA MULAI KETAT, BUKAN CUMA PROTES
Karena penolakan meluas, pemerintah juga mulai pasang rem:

- *Skotlandia: Menunda semua persetujuan data center hyperscale baru.
- *Denmark: Proyek data center ditaruh di antrean paling belakang untuk dapat akses listrik.
- *Spanyol: Mau mewajibkan data center pakai 80% listrik dari energi terbarukan.
- *Korea Selatan: Ini yang paling ekstrim. Di distrik Geumcheon, Seoul, warga protes pembangunan data center dekat permukiman. Pemerintah setempat bahkan mau bikin aturan: proyek harus dapat persetujuan mayoritas warga dalam radius 200 meter! Padahal Korea lagi nge-push AI dan semikonduktor sebagai proyek nasional.

#Investor Mulai Was-was
Buat investor, ini mimpi buruk baru. Dulu risikonya cuma soal teknologi dan uang. Sekarang ditambah risiko sosial.

Asya Walters, managing director di Alvarez & Marsal, bilang jujur:

> "Kemampuan masyarakat untuk menggagalkan proyek data center senilai US$10 miliar merupakan risiko yang sangat besar."

Di satu sisi pemerintah pusat bilang "ayo bangun AI", di sisi lain pemerintah daerah memperketat aturan karena tekanan warga. Tarik-ulur ini yang bikin investasi jadi serba nggak pasti.

Dominic Ward, CEO Verne, salah satu operator data center besar, mengaku industri mereka sudah tidak bisa sembunyi lagi.

> "Dulu kami sama sekali tidak dikenal. Kami hanya sebuah kotak hitam. Sekarang kami menjadi salah satu lapisan fundamental yang menggerakkan perekonomian," ujarnya.

Dan kalau sudah jadi lapisan fundamental, sorotan publik pasti makin terang. Kasus air keruh di Georgia hanyalah trailer. Film utamanya adalah pertarungan global antara kebutuhan akan AI dan hak warga untuk hidup nyaman.

Jadi, menurut kamu, data center di dekat rumah itu berkah atau petaka?

*REFERENSI & SUMBER DATA:
1.  Dewi, Intan Rakhmayanti. (2026, 6 Oktober). _Gerakan Penolakan Data Center Meluas, Muncul di Seluruh Dunia_. CNBC Indonesia. [cnbcindonesia.com]
2.  CNBC International. (2026, 5 Oktober). Wawancara dengan Olivier Darmouni, HEC Paris & Dominic Ward, CEO Verne.
3.  Data Center Watch. (2026). Data penundaan & pembatalan proyek data center global.
4.  Laporan BBC News Indonesia (5 Okt 2026) tentang dampak lingkungan pusat data di Georgia, AS sebagai konteks.

Kurator: Awikid

BENCANA LINGKUNGAN, KENAPA AI MENYERAP BEGITU BANYAK AIR BERSIH? Alwi Sahlan

"Air bersih disemprotkan ke menara pendingin, ia menyerap panas dari server, lalu menguap ke udara. Air itu hilang selamanya."
DI BALIK AWAN: Ketika Rumah Impian Bertemu Raksasa Data

Cloud sering kita bayangkan melayang ringan di angkasa. Tak kasat mata, tak berbobot. Namun bagi Beverly Morris, cloud itu punya wujud yang sangat nyata: sebuah bangunan raksasa tanpa jendela, berdiri hanya 360 meter dari teras rumahnya.

Pada 2016, saat pensiun, Morris mengira ia telah menemukan surga terakhirnya. Sebuah petak pedesaan yang tenang di Mansfield, Georgia, dikelilingi pepohonan dan keheningan. Kini, keheningan itu digantikan dengung server, lampu yang berkedip, dan air keruh dari kerannya sendiri.

"Saya tidak bisa tinggal di rumah saya jika setengah bagian rumah tidak berfungsi dan tidak ada air," katanya. "Saya tidak bisa minum airnya."

Morris yakin pembangunan pusat data milik Meta - induk Facebook - telah merusak sumur pribadinya. Endapan tebal menumpuk. Tekanan air hilang. Ia harus mengangkut air dengan ember hanya untuk menyiram toilet. Untuk memasak dan menyikat gigi, ia tetap terpaksa memakai air itu, dengan rasa takut.

> "Dulu ini adalah tempat yang sempurna bagi saya. Tapi, sekarang tidak lagi."

HAUSNYA KECERDASAN BUATAN
Kisah Morris bukan satu-satunya. Ia adalah wajah dari pertarungan baru di Amerika.

Kita hidup di zaman AI. ChatGPT, perbankan online, video, semua butuh rumah. Rumah itu bernama pusat data. Saat ini ada lebih dari 10.000 pusat data di dunia, mayoritas di AS. Dan jumlahnya meledak.

Di seluruh AS, penolakan warga semakin keras. Laporan Data Center Watch mencatat proyek pusat data senilai US$64 miliar tertunda atau diblokir karena protes lokal.

KENAPA AI MENYEDOT BEGITU BANYAK AIR BERSIH?
Jika pusat data biasa sudah haus, pusat data AI itu kehausan. Ada 3 alasan utama kenapa AI jauh lebih rakus air dibanding internet biasa:

1. Otaknya Terlalu Panas - Butuh Mandi Terus
Server AI tidak pakai prosesor biasa. Ia pakai GPU dan chip khusus AI yang bekerja ribuan kali lebih keras. Hasilnya, panasnya luar biasa.

Untuk mencegah chip itu meleleh, sebagian besar pusat data di Georgia masih pakai sistem paling murah: *pendinginan evaporatif*. Air bersih disemprotkan ke menara pendingin, ia menyerap panas dari server, lalu menguap ke udara. Air itu hilang selamanya. Dalam satu hari yang sangat panas, satu gedung bisa menguapkan jutaan galon air - setara kebutuhan ribuan rumah.

2. Listriknya Haus Air Juga
AI tidak hanya minum air langsung, tapi juga secara tidak langsung. Chip AI butuh listrik dalam jumlah gila. Dan di Amerika, 40% listrik masih dihasilkan oleh pembangkit yang butuh air untuk mendinginkan turbinnya. Jadi setiap kali kamu bertanya ke ChatGPT, kamu juga ikut menyalakan pembangkit listrik yang butuh air di hulu.

Sebuah studi dari University of California, Riverside menghitung: *10 sampai 50 kali percakapan dengan GPT-3 saja bisa menghabiskan 500 ml air- satu botol kemasan. Kalikan dengan miliaran percakapan per hari.

3. DARI LAHIRNYA CHIP SUDAH BUTUH AIR
Bahkan sebelum dinyalakan, chip AI sudah menghabiskan air. Pabrik semikonduktor seperti TSMC adalah konsumen air bersih terbesar di dunia. Untuk membuat satu chip canggih, dibutuhkan air ultra-murni dalam jumlah besar untuk mencuci wafer silikon berkali-kali. Tanpa air super bersih itu, chip AI tidak akan pernah lahir.

Karena itulah total konsumsi air untuk AI global diperkirakan bisa mencapai 1,7 triliun galon pada 2027

KETIKA SUNGAI BERUBAH COKELAT
Dampaknya sudah terlihat di lapangan.
Gordon Rogers, Direktur Eksekutif Flint Riverkeeper, mengajak tim BBC ke sebuah anak sungai di bawah lokasi pembangunan pusat data baru milik Quality Technology Services (QTS) di Georgia. Relawannya mengambil sampel air. Warnanya bukan jernih, melainkan cokelat keruh.

"Seharusnya warnanya tidak seperti itu," ujarnya. Keruhnya air mengindikasikan limpasan sedimen dan flokulan, bahan kimia konstruksi untuk mengikat tanah yang bisa mencemari perairan.

"Prosesor-prosesor ini sangat panas. Diperlukan banyak air untuk mendinginkannya," kata Mark Mills dari National Center for Energy Analytics dalam kesaksiannya di Kongres AS pada April lalu.

JANJI PARA RAKSASA
Para raksasa teknologi mengatakan mereka sadar.
Meta, menanggapi kasus Morris, membantah merusak air. Mereka mengklaim telah melakukan riset independen dan operasionalnya "tidak berdampak negatif terhadap kondisi air tanah di kawasan bersangkutan."

QTS mengatakan pusat datanya memenuhi standar lingkungan tinggi dan menyumbang jutaan dolar pajak lokal.

Amazon Web Services (AWS), operator pusat data terbesar di dunia, berjanji lebih jauh.

"Tujuan kami adalah agar pada 2030, kami dapat mengembalikan lebih banyak air ke daerah aliran sungai dan komunitas tempat kami mengoperasikan pusat data, daripada yang kami ambil," kata Will Hewes, kepala pengelolaan air global AWS.

AWS menyebut berinvestasi pada perbaikan kebocoran, penampungan air hujan, dan penggunaan air limbah olahan untuk pendinginan. Di AS, mereka mengklaim air hanya dipakai pada 10% hari terpanas dalam setahun.

Profesor Rajiv Garg dari Universitas Emory menyebut pusat data adalah tulang punggung kehidupan modern yang tak bisa dihindari. "Tidak ada jalan untuk mundur." Tapi ia mengakui, dalam jangka pendek, ini adalah "beban yang sangat besar."

Di balik janji keberlanjutan dan ambisi nasional - Presiden Donald Trump bahkan menjanjikan pembangunan infrastruktur AI terbesar dalam sejarah - ada Beverly Morris dengan ember airnya.

Masa depan yang didorong oleh data itu sudah tiba di Georgia. Ia berisik, haus air, dan bagi sebagian orang, membuatnya sulit untuk sekadar tinggal di rumahnya sendiri.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah kita butuh cloud, melainkan bagaimana cara menyalakan dunia digital tanpa menguras sumber daya paling dasar untuk hidup: air.

---
*REFERENSI:
1.  Fleury, Michelle & Jimenez, Nathalie. (2026, 5 Oktober). _Kisah mereka yang hidup di dekat pusat data raksasa – 'Saya tak bisa minum airnya'_. BBC News Indonesia.
2.  Li, P. et al. (2023). _Making AI Less Thirsty: Uncovering and Addressing the Secret Water Footprint of AI Models_. University of California, Riverside & University of Texas at Arlington.
3.  Data Center Watch. (2026). _Laporan Penolakan Lokal terhadap Pembangunan Pusat Data di AS_.
4.  Mills, Mark. (2026, April). _Kesaksian di hadapan Kongres AS_. National Center for Energy Analytics.
5.  Pernyataan resmi Meta & Amazon Web Services (AWS) kepada BBC. 

Kurator; Awikid

Wamenpar: Poparnas 2026 Buka Peluang Ekonomi dan Promosi Wisata Daerah

Kompassantri, Jakarta, 29 September 2026* - Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa mendorong penyelenggaraan Pekan Olahraga Pariwisata Nasional (Poparnas) ke-5 Tahun 2026 menjadi momentum untuk memperkuat sport tourism sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di daerah.

Poparnas 2026 yang diselenggarakan Politeknik Pariwisata Palembang pada 29 September hingga 2 Oktober 2026 diharapkan dapat mendorong pergerakan wisatawan, memperkenalkan potensi destinasi, serta meningkatkan aktivitas ekonomi lokal melalui penyelenggaraan ajang olahraga.

Dalam sambutannya secara daring dari Jakarta, Selasa (29/9), Wamenpar mengatakan Palembang memiliki potensi besar untuk mendukung pengembangan sport tourism. Selain memiliki kekayaan budaya dan kuliner, Palembang juga berpengalaman menjadi tuan rumah berbagai ajang olahraga berskala nasional maupun internasional, termasuk Pekan Olahraga Nasional (PON).

“Selain itu, kota ini memiliki pengalaman panjang dalam menyelenggarakan berbagai ajang olahraga besar, termasuk Pekan Olahraga Nasional (PON). Palembang juga memiliki kekayaan budaya dan kuliner yang menjadi bagian dari daya tarik wisata Sumatra Selatan,” ujar Wamenpar Ni Luh Puspa.

Wamenpar mengatakan _sport tourism_ memiliki potensi besar dalam pengembangan industri pariwisata. Berdasarkan data UN Tourism, _sport tourism_ menyumbang sekitar 10 persen dari pengeluaran pariwisata dunia dan menjadi salah satu segmen yang terus berkembang pesat.

Oleh karena itu, penyelenggaraan ajang olahraga seperti Poparnas diharapkan mampu menciptakan dampak ekonomi yang lebih luas bagi daerah. Kehadiran peserta dan pengunjung dapat meningkatkan pergerakan wisatawan, memperpanjang lama tinggal, mendorong konsumsi kuliner dan produk lokal, memperkenalkan kekayaan budaya, serta menghidupkan sektor transportasi dan akomodasi.

“Di sinilah UMKM kita akan hidup. Manfaat _event_ olahraga dapat bergerak jauh melampaui arena pertandingan, membuka peluang usaha, dan menggerakkan ekonomi masyarakat di destinasi. Inilah semangat pariwisata yang ingin terus kita bangun, yakni pariwisata berkualitas dan berkelanjutan yang memberikan pengalaman bermakna bagi wisatawan, manfaat bagi masyarakat, sekaligus tetap menjaga lingkungan,” kata Wamenpar.

Wamenpar Ni Luh Puspa berpesan kepada seluruh kontingen dan peserta dari berbagai daerah agar menunjukkan kemampuan terbaik dengan tetap menjunjung tinggi sportivitas, kejujuran, kerja sama, dan rasa saling menghormati.

“Jangan hanya membawa pulang medali dan prestasi. Bawalah pulang lebih banyak persahabatan, pengalaman, jejaring, dan semangat baru untuk bersama-sama memajukan pariwisata Indonesia,” ujar Wamenpar.

Ia juga mengingatkan bahwa masa depan pariwisata Indonesia tidak hanya ditentukan oleh keindahan destinasi ataupun kekayaan budaya, tetapi juga kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mengelolanya. Tanpa SDM berkualitas, potensi destinasi tidak akan dapat dikelola secara optimal untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.

Poparnas 2026 mengusung tema “_Celebrate Tourism Where Sport Meets the Culture_” sebagai bagian dari semangat perayaan Hari Pariwisata Sedunia melalui kolaborasi olahraga dan budaya Indonesia, dengan _tagline_ _“Competing in the Spirit of Cultural Harmony”._

Sebanyak 896 peserta berpartisipasi dalam Poparnas 2026 yang terdiri atas atlet, pendamping, dan _official_ dari perguruan tinggi, sekolah kejuruan, dinas, instansi, serta pelaku industri pariwisata di Indonesia, khususnya Sumatra Selatan.

Selama penyelenggaraan, Poparnas 2026 mempertandingkan 11 cabang olahraga dan ketangkasan dalam 14 kategori lomba, antara lain _mini soccer_, bulu tangkis, padel, dan tenis meja. Kompetisi tersebut diharapkan tidak hanya menjadi ruang untuk mengasah kemampuan, tetapi juga menanamkan nilai kejujuran, kerja keras, resiliensi, sportivitas, serta merayakan keberagaman budaya Nusantara.

Direktur Politeknik Pariwisata Palembang Iwan Riyadi mengatakan Poparnas ke-5 menjadi ruang untuk mengintegrasikan nilai-nilai sportivitas dalam olahraga dengan kekayaan tradisi Nusantara.

“Melalui Poparnas ke-5 ini, kita mengintegrasikan nilai-nilai sportivitas olahraga dengan kekayaan tradisi Nusantara. Olahraga mengajarkan kita kedisiplinan dan daya juang, sementara budaya mengajarkan rasa hormat, kerukunan, dan keharmonisan,” kata Iwan.

Ia juga mengajak para atlet muda yang merupakan bagian dari generasi masa depan pariwisata Indonesia untuk menjadikan Poparnas sebagai ruang membangun jejaring dan persaudaraan.

“Kepada para atlet muda, insan pariwisata masa depan Indonesia, selamat bertanding. Jadikanlah ajang Poparnas ini bukan sekadar untuk mengejar keunggulan dan perolehan medali, melainkan sebagai jembatan silaturahmi untuk mempererat persaudaraan antarsesama perguruan tinggi pariwisata di seluruh Indonesia,” kata Iwan.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatra Selatan Rudi Irawan yang mewakili Gubernur Sumatra Selatan menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pariwisata, Politeknik Pariwisata Palembang, seluruh politeknik pariwisata di Indonesia, mitra komunitas olahraga, insan pariwisata, serta seluruh pihak yang berkolaborasi menyelenggarakan Poparnas ke-5 Tahun 2026.

“Semoga kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem pariwisata Indonesia yang berkualitas, inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan,” kata Rudi.

Kata Puan Soal Gugatan Ijazah Gibran: Kita Hormati Proses yang Sedang Berjalan

Ketua DPR RI sekaligus Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Puan Maharani dimintai tanggapan soal sidang gugatan perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden tahun 2024 (PHPU) terkait syarat pendidikan pencalonan Gibran Rakabuming Raka. Sidang putusan gugatan ini akan digelar Mahkamah Konstitusi (MK) malam nanti.

“Kita menghormati proses yang sedang berjalan,” kata Puan saat diminta tanggapan pewarta di Gedung DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (6/10/2026).

Seperti diketahui, gugatan ini diajukan oleh mantan Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Wamenkumham) Denny Indrayana bersama 11 pemohon lainnya. Permohonan diajukan pada 10 September 2026 dan resmi diregistrasi MK pada 17 September 2026 dengan nomor perkara 01/PHPU.PRES-XXIV/2026.

Sidang pemeriksaan pendahuluan permohonan tersebut telah digelar di MK pada Senin (21/9) lalu. Termohon dalam gugatan ini ialah KPU, dengan Bawaslu sebagai pihak turut terkait.

MK sebelumnya juga telah memeriksa sejumlah pihak dari KPU hingga ahli terkait perkara tersebut. Sidang tersebut sempat diwarnai ahli pihak Gibran yang diusir oleh hakim MK dan berbuntut panjang pada pelaporan ke Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi (MKMK).

Terkait hal ini, Puan kembali menegaskan menghormati proses hukum yang sedang berjalan di MK. Ia juga dimintai tanggapan mengenai namanya yang disebut-sebut akan menggantikan Gibran sebagai Wapres bila gugatan tersebut dikabulkan MK.

“Kami sama-sama menghormati proses yang sedang berjalan di MK dan apapun keputusannya kami tentu saja akan menghormati keputusan yang sedang berjalan di MK,” tegas Puan.

Adapun pemohon mengatakan, jika bukti persidangan menunjukkan Gibran memenuhi syarat pendidikan, Mahkamah dapat menegaskan keabsahan pencalonan. Sementara itu, jika bukti menunjukkan bahwa tidak memenuhi syarat, maka Mahkamah harus menjatuhkan diskualifikasi.

Sidang gugatan nomor perkara 01/PHPU.PRES-XXIV/2026 itu bakal di gelar di Mahkamah Konstitusi hari ini. Majelis hakim MK akan membacakan putusan terkait perkara tersebut pada pukul 20.00 WIB.