Rabu, 28 Oktober 2026

SUMPAH PEMUDA ALA-ALA GENMIL, GENZET & GENPHA| KI UUNG

Menjujut Tiga Generasi Kepemudaan Berdasarkan Norma-norma Kehidupan Nyata dan Maya_

*Oleh: UIS (Uung Ibnu Shobari)*

_1. Santri Kampung, Pendiri Kampung Santri Madeenah Indonesia_

_2. Inisiator LENTERA INDONESIA (Literasi, Ensiklopedia, Teknologi Rumusan AI)_


Kalau kita bicara pemuda, jangan dibayangkan sekadar usia. Pemuda itu soal ruh. Soal keberanian mengambil sikap ketika yang lain masih ragu-ragu.

*Versi Pemuda Ala Santri, Kyai dan Ulama*

Di pesantren, pemuda tidak diukur dari berapa follower-nya, tapi dari seberapa kuat khidmah-nya. Santri diajarkan: _syubbanul yaum rijalul ghad._ Pemuda hari ini adalah pemimpin esok hari. Tapi syaratnya bukan pintar saja, harus punya adab.

Kyai saya dulu bilang, pemuda itu ada tiga cirinya ala santri. Pertama, _himmah aliyah,_ cita-citanya tinggi tapi kakinya tetap membumi. Kedua, _jiddiyah,_ serius, tidak main-main dengan waktu. Ketiga, _wira'i,_ menjaga diri dari yang syubhat. Itu yang hilang di banyak anak muda sekarang.

Ulama kita tidak pernah mendidik pemuda untuk menjadi pembenci. Ulama mendidik pemuda untuk menjadi penjaga. Menjaga agama, menjaga bangsa, menjaga akhlak. Makanya santri ketika disuruh maju, dia maju dengan doa. Ketika disuruh mundur, dia mundur dengan adab. Bukan maju karena viral, mundur karena di-bully netizen. Lebih-lebih kentara saat dikotomikan genmil, genzet dan genfa _(milenia, zet dan alpha, red.)_

Di sinilah bedanya pemuda ala santri dengan pemuda ala tongkrongan. Santri itu kalau bersumpah, sumpahnya diikat dengan Allah. Bukan sekadar konten.

*Catatan Penting Pemuda Berdasarkan Pandangan Zu'ama dan Cendekia*

Zu'ama, para pemimpin, dan cendekiawan kita sepakat: pemuda adalah agen perubahan, bukan agen keributan. Bung Karno pernah berteriak, " beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang dunia." Tapi para cendekia muslim menambahkan: " beri aku sepuluh pemuda yang hafal Al-Quran dan paham teknologi, maka dunia akan tunduk dengan akhlak."

Cak Nur, Nurcholish Madjid, bilang pemuda itu harus _autentik._ Jangan jadi pengekor Barat, jangan juga jadi pengumpat Timur. Pramoedya bilang pemuda harus menulis sejarahnya sendiri. Sementara KH. Hasyim Asy'ari menuturkan pemuda harus cinta tanah air, " hubbul wathan minal iman." Nasionalisme santri itu bukan nasionalisme kosong, tapi nasionalisme yang disambung dengan iman. Alhamdulillah, sangat mengena.

Maka kalau hari ini banyak pemuda yang bingung identitasnya, itu karena ia kehilangan sanad keilmuan dan sanad kebangsaan. Ia tidak tahu harus merujuk kemana. Akhirnya ia merujuk pada algoritma medsos yang belum kenal rasa dan bumbunya, walau kadang telah membius perlakuannya yang kurang filter.

*Napak Tilas Histori Sumpah Pemuda 28 Oktober*

Mari kita tarik lagi ke belakang. Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Bukan sekadar rapat. Itu ijtihad kebangsaan. Pemuda dari _Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Pemuda Kaum Betawi,_ semua melebur. Di rumah Sie Kong Liong, Jalan Kramat 106, Jakarta. Mereka bersumpah: " Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, Indonesia. "

Ingat, saat itu belum ada Indonesia sebagai negara. Yang ada adalah tekad. Para pemuda itu tidak punya Instagram, tidak punya dana APBN, bahkan banyak yang masih ngontrak di kos-kosan. Tapi mereka punya satu yang hari ini langka: keberanian untuk sepakat. Mereka tidak ribut soal khilafiyah. Mereka sepakat pada hal yang fundamental.

Itulah mengapa Sumpah Pemuda itu dahsyat. Ia mendahului kemerdekaan 17 Agustus 45. Tanpa sumpah itu, mungkin tidak ada proklamasi kemerdekaan yang diproklamirkan di Pegangsaan Timur Nomor 56.

*Bagaimana Pemuda Genmil yang Kini Dalam Kebutaan Generasi dan Kedaulatan Nilai-Nilai?*

Nah, ini yang UIS (Uung Ibnu Shobari) resah. Gen Milenial, atau GenMil, lahir 1981-1996. Mereka generasi transisi. Generasi yang merasakan perangko dan juga merasakan e-mail. Mereka seharusnya menjadi jembatan. Tapi banyak yang terjebak.

Saya sebut ini kebutaan generasi. Secara teknologi mereka melek, tapi secara nilai mereka buta. Buta arah. Mereka tahu cara membuat startup, tapi tidak tahu cara memulai shalat tepat waktu. Mereka jago personal branding, tapi gagap ketika disuruh berkhidmah sosial.

Kedaulatan nilai kita sedang dijajah. Dulu penjajah datang dengan meriam. Sekarang penjajah datang dengan tren. Dengan istilah self-love yang kebablasan, healing yang tidak sembuh-sembuh, dan flexing yang tidak ada ujungnya. Pemuda Milenial banyak yang sudah lelah sebelum berjuang. _Burnout_ padahal belum terbakar apa-apa. 

Padahal milenial itu harusnya tangguh. Harusnya jadi komandan bagi adik-adiknya Gen Z dan Gen Alpha.

*Bagaimana Pemuda Generasi Zet dan Alpha Memahami Sumpah Pemuda*

Gen Z lahir 1997-2012. Gen Alpha lahir 2013 ke atas. Mereka ini penduduk asli dunia maya. Digital native. Sumpah bagi mereka bukan diucapkan di gedung, tapi di kolom komentar.

Gen Zet, begitu UIS menyebutnya, punya kelebihan luar biasa: _kritis, kreatif dan cepat belajar._ Tapi kelemahannya: _mudah cemas, mudah membandingkan diri, dan cepat menyerah._ Sumpah Pemuda bagi Gen Z harus diterjemahkan: Satu Nusa berarti jangan mudah terprovokasi isu SARA di media sosial. Satu Bangsa berarti kolaborasi, bukan saling cancel. Satu Bahasa berarti gunakan bahasa Indonesia dengan literasi, bukan dengan bahasa gado-gado yang merusak.

GenPha, Gen Alpha, lebih unik lagi. Mereka lahir ketika AI sudah ada. Mereka akan hidup bersama robot. Tantangan mereka bukan lagi soal akses informasi, tapi soal memfilter informasi. Maka Sumpah Pemuda bagi mereka adalah sumpah untuk tetap menjadi manusia. Tetap punya hati di tengah kecerdasan buatan. Tetap bisa membaca Al-Quran, bukan hanya membaca caption yang menyita banyak hal. Pada kenyataannya kini ada paradok antara _Genmil, Genzet dan Genpha_ yang kini mulai sulit untuk membedakannya.

Kalau GenMil menjahit, GenZet mengikat, maka GenPha harus menjaga jahitannya agar tidak lepas.

*Achievement Para Pemuda Ala Rasulullah dan Para Sahabat*

Ini yang paling penting. Jangan kita lupa, Islam dibangun oleh pemuda.

Rasulullah SAW diangkat menjadi Rasul usia 40 tahun, tapi pembela pertamanya adalah pemuda: _Ali bin Abi Thalib, masuk Islam usia sekitar 10 tahun. Mus'ab bin Umair, duta pertama Islam di Madinah, usia 20-an, tampan, kaya, tapi rela miskin demi dakwah. Zaid bin Tsabit, usia belasan tahun, menjadi penulis wahyu dan penerjemah. Usamah bin Zaid, usia 18 tahun sudah menjadi panglima perang memimpin pasukan yang di dalamnya ada Abu Bakar dan Umar._ Allahu Akbar, merinding saat menulis berdasarkan *literasi, ensiklopedia dan teknologi rumusan AI (LENTERA INDONESIA)* menyentuh dunia nyata dan negeri maya yang berada di lentik jemari kita semua para Pemuda.

Apa kuncinya para Sahabat Rasulullah? Mereka tidak menunda. Tidak menunggu tua untuk beramal. Tidak menunggu kaya untuk bersedekah. Tidak menunggu viral untuk berjuang. Pemuda ala Rasulullah itu cirinya: _imannya tebal, ilmunya dalam, dan keberaniannya tidak dibuat-buat._

Maka kalau kita ingin mencetak pemuda hebat, jangan hanya diberi pelatihan motivasi. Beri dia sanad. Beri dia masjid. Beri dia guru yang benar.

*Sumber Literatur Tentang Kepemudaan di Indonesia*

Untuk adik-adik yang mau mendalami, jangan hanya baca _thread._ Baca buku. Literatur kepemudaan kita kaya sekali !!.

_Pertama,_ naskah otentik Sumpah Pemuda 1928 dan tulisan Mohammad Yamin tentang ikrar tersebut. _Kedua,_ buku Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, untuk melihat gejolak pemuda idealis. _Ketiga,_ buku Ahmad Syafii Maarif tentang Islam dan keindonesiaan. _Keempat,_ karya Yudi Latif, Negara Paripurna, tentang asal-usul bangsa. _Kelima,_ manuskrip Babad Banten dan Sejarah Banten yang ditulis Abah Adung Abdul Haris, karena di sana ada jejak pemuda Banten yang melawan kolonial. _Keenam,_ literatur pesantren seperti Adabul 'Alim wal Muta'allim-nya KH. Hasyim Asy'ari, tentang adab pemuda pencari ilmu.

Dari pelbagai literatur tersebut kita tahu, pemuda Indonesia tidak pernah miskin gagasan, hanya kadang miskin keberanian untuk mengeksekusi gagasan.

*Asumsi Usia Pemuda Menurut Organisasi Dunia dan Ekspektasi Indonesia Emas 2045*

Secara definisi, PBB atau UN menyebutkan pemuda adalah usia 15-24 tahun. WHO menyebut 10-24 tahun sebagai remaja dan pemuda. ASEAN Youth: 15-35 tahun. Sedangkan Undang-Undang Kepemudaan Indonesia No. 40 Tahun 2009 menyebut pemuda adalah warga negara usia 16-30 tahun.

Artinya apa? Bonus demografi kita sedang di puncak. Tahun 2030-2045, 70% penduduk Indonesia adalah usia produktif. Inilah modal Indonesia Emas 2045, 100 tahun Indonesia merdeka.

Tapi emas tidak akan jadi emas kalau tidak ditempa. Pemuda harus ditempa. Kalau GenMil, GenZet, GenPha tidak kompak, tidak menjujut, tidak bersatu dalam norma nyata dan maya, maka Indonesia Emas hanya akan menjadi Indonesia dala kecemasan. jangan sampai itu terjadi, karena akan sirna dan sia-sia apa yang telah disumpahkan dalam format Sumpah Pemuda.

Ekspektasi UIS sebagai kolumnis, bahwa tahun 2045, pemuda kita bukan hanya jadi penonton di negeri sendiri. Ia harus jadi tuan rumah yang beradab, yang menguasai teknologi tapi tidak kehilangan tahleel, yang menguasai pasar global tapi tidak kehilangan pasar akhlak.

Akhir kata, Sumpah Pemuda bukan untuk dikenang setahun sekali. Ia untuk dijalani setiap hari. Di dunia nyata kita bersalaman, di dunia maya kita saling menjaga lisan. Kita jahit kembali persatuan itu dengan _keikhlasan, ketulusan, dan keberanian._ Insya Allah, dengan begitu, Indonesia tidak hanya emas secara ekonomi, tapi emas juga akhlaknya dan jiwanya untuk selama-lamanya. _(oenkmms4826)._