Kamis, 02 Juli 2026

Khotbah di Atas Kuburan: Kisah Empat Ustadz dan Runtuhnya Surga Kami| Ust M. Alatas

By M.Alatas

    Air sungai yang membelah Kampung Sukamaju kembali membawa warna cokelat pekat dari hulu. Banjir kiriman datang lagi, menggenangi pelataran Masjid Jami’ dan sisa-sisa reruntuhan Madrasah Al-Ikhlas yang kini menyerupai fosil purba tengah sekarat.

Namun, di dalam serambi masjid yang kering, aroma persaingan jauh lebih menyengat ketimbang bau lumpur di luar. Di sinilah fanatisme diproduksi secara massal—bukan karena keyakinan yang mendalam, melainkan karena ia adalah komoditas paling laku untuk membalut sebuah sikap pragmatis: isi dompet dan panggung ketenaran.

 *Bab I: Jualan Surga dan Pasar Akidah* 

Pagi itu, Ustadz Khalid berdiri di mimbar subuh dengan wajah sekaku batu kali. Tema ceramah yang dibawakannya sangat radikal: “Bahaya Bid’ah dan Kaum Kemunafikan Modern”. Matanya sesekali melirik ke arah saf tengah, tempat Ustadz Maher duduk sambil memangku tas kamera mirrorless-nya.

"Hati-hati jemaah!" seru Ustadz Khalid, suaranya menggelegar memantul di dinding masjid. "Sekarang banyak ahli agama gadungan yang menjual agama demi likes dan followers! Mengubah manhaj demi menyenangkan penonton! Itu adalah kesesatan yang nyata!"
Jemaah di saf depan, yang rata-rata bapak-bapak sepuh, manggut-manggut dengan wajah tegang. 
Mereka merasa mendapatkan pencerahan yang murni. Mereka tidak tahu bahwa doktrin "paling benar" yang ditiupkan Ustadz Khalid pagi itu punya motif yang sangat sederhana.

Dua hari lagi, pengurus Masjid Jami’ kampung sebelah yang terkenal kaya raya akan memilih khotib Jum'at tetap untuk satu tahun ke depan. Kontraknya bernilai jutaan rupiah per bulan. Dengan mencap Ustadz Maher sebagai "Ustadz Medsos yang menyimpang", Ustadz Khalid sedang membersihkan jalurnya sendiri menuju kursi empuk tersebut. 

Fanatisme golongan sengaja dibakar, agar jemaah mendesak takmir untuk mendepak Maher.

Bab II: *Kontra-Strategi di Balik Layar* 

Ustadz Maher tidak bodoh. Ia tahu persis ke arah mana panah khotbah Ustadz Khalid menghujam.

 Begitu shalat subuh usai dan jemaah mulai bubar, Maher segera memasang tripodnya di sudut teras masjid, membelakangi latar banjir yang dramatis.
Ia memulai Live Streaming dengan judul bombastis: "Menyikapi Golongan Kaku yang Memecah Belah Umat."

"Sahabat hijrah yang dirahmati Allah," ujar Ustadz Maher dengan senyum yang terukur dan suara yang dilembut-lembutkan. "Islam itu luas, dinamis. Jangan mau terjebak oleh pemikiran sekelompok orang yang merasa memonopoli kebenaran dan gemar mengkafirkan sesama. Mereka itu berpikiran sempit, tidak siap menghadapi akhir zaman."
Dalam sekejap, kolom komentar dipenuhi teks bertuliskan "Barakallah Ustadz!" dan ratusan ikon "Hati" beterbangan di layar ponselnya. 

Melalui narasi "inklusif vs eksklusif" ini, Maher berhasil memosisikan dirinya sebagai korban kezaliman Ustadz Khalid.
Apakah Maher peduli pada persatuan umat? Sama sekali tidak.

 Pragmatismenya berkedok keluwesan agama. Semakin ia diserang oleh Khalid, semakin naik engagement akunnya, dan itu berarti semakin banyak tawaran endorse produk herbal dan busana muslim yang masuk ke nomor WhatsApp manajernya.

 *Bab III: Aliansi Taktis Dua Ideolog* 

Di sisi lain kampung, di sebuah rumah joglo yang selamat dari banjir, Ustadz Marwan dan Haji Yazid sedang menikmati kopi luwak. Di atas meja, selembar kertas pembagian jadwal doa tahlil dan santunan kematian untuk wilayah kecamatan terpampang nyata.
"Bagaimana, Ji? Ustadz Khalid dan Ustadz Maher makin tajam berseteru," kata Ustadz Marwan sambil tersenyum sinis.
Haji Yazid menyeruput kopinya lambat-lambat. "Biarkan saja. Makin mereka ribut soal furu'iyah, jemaah makin bingung. Kalau jemaah bingung, mereka butuh kita yang netral. Malam ini, di rumah pengusaha tebu yang meninggal di kampung sebelah, kita pakai narasi 'Islam Nusantara yang Teduh'. Saya pimpin tahlil jahar, sampeyan yang tausiyah kematian."
"Amplopnya bagaimana, Ji?" tanya Marwan, langsung pada inti masalah.
"Aman. Keluarga mereka fanatik dengan tradisi. Kalau kita bungkus doa kita dengan puji-pujian yang menyentuh ego kultural mereka, amplop tebal tidak akan lari ke mana. Kita gunakan sentimen tradisi mereka untuk mengunci proyek tahlilan sampai malam ketujuh," bisik Haji Yazid penuh kemenangan.

Bagi mereka berdua, fanatisme terhadap tradisi leluhur bukanlah soal menjaga kelestarian amalan, melainkan alat proteksi pasar agar ustadz-ustadz muda seperti Khalid dan Maher tidak bisa masuk merusak ladang pencaharian mereka.

 *Bab IV: Korban yang Sebenarnya* 

Sementara keempat pemuka agama itu sibuk merajut jubah fanatisme untuk menutupi sifat pragmatis mereka, realita sosial di Kampung Sukamaju berjalan ke arah yang mengerikan.

Siang itu, beberapa pemuda kampung berkumpul di jembatan darurat yang hampir terendam air. Di tengah-tengah mereka, ada Dullah yang sedang memegang sisa pil koplo. Di sebelah Dullah, seorang remaja lain sedang asyik bertaruh di situs judi bola.

"Heh, lu kagak takut dibilang ahli maksiat sama Ustadz Khalid?" tanya temannya.
Dullah tertawa hambar, matanya merah. "Ah, Ustadz Khalid sibuk ngurusin bid'ah-nya Ustadz Maher. Ustadz Maher sibuk nyari viewer. Kagak ada waktu mereka mikirin perut kita yang kelaparan gara-gara banjir. Agama mereka mah cuma buat di TV sama di mimbar. Buat kita? Kagak ada gunanya."
Tepat saat Dullah berbicara, mobil sedan mewah milik Ustadz Marwan lewat membelah genangan air, hendak menjemput Haji Yazid menuju acara tahlilan mewah di kecamatan seberang. Cipratan air keruh dari ban mobil itu mengenai celana para pemuda di jembatan. Namun, kaca mobil tetap tertutup rapat, hitam dan angkuh.
Di ujung jalan, bangunan Madrasah Al-Ikhlas yang runtuh total minggu lalu kini mulai ditumbuhi tanaman liar. Tempat yang dulu melahirkan ketulusan, kini mati. Di kampung itu, atas nama fanatisme kelompok, kebenaran telah disembelih di atas altar kepentingan pribadi. Semua orang berteriak demi Tuhan, padahal mereka sedang mengantre di depan meja kasir takdir.
Tabik