Kamis, 02 Juli 2026

Epistemologi Az-Zikr dan Dekadensi Kesadaran Kolektif: Studi Kritis QS. Al-Hijr 10–15| Mahdi Alatas

By: M.Alatas

══════════════════

ABSTRAK
Tulisan ini membahas patologi sosial-epistemik masyarakat penentang kebenaran transendental melalui analisis multidimensi terhadap Surat Al-Hijr ayat 10-15. Dengan mengintegrasikan metode Tafsir Al-Qur'an bil Qur'an, pendekatan epistemologi Islam, tafsir kritis, dan tafsir kemasyarakatan (ijtima'i), studi ini bertujuan mengurai faktor mendasar di balik resistensi kolektif terhadap wahyu.

Melalui pelacakan gramatikal (ruju'ud dhamir), penelitian menetapkan bahwa objek yang diinjeksi (naslukuhu) dan ditolak (la yu'minuna bihi) oleh kaum mujrimin secara konsisten merujuk pada Az-Zikr (Al-Qur'an).

*Hasil penelitian menunjukkan dua temuan utama:

1. Penolakan terhadap kebenaran disebabkan oleh disfungsi instrumen kognitif (hati/qalb) yang dianalogikan sebagai "wadah yang rusak." Kerusakan ini memicu bias konfirmasi dan skeptisisme destruktif akut.
2. Analisis semantik terhadap terma Syi'a' (faksi/aliansi) menyingkap adanya dualitas sosiologis (konsolidasi negatif sekaligus potensi persatuan umat).

══════════════════

*TEKS & TERJEMAHAN (QS. AL-HIJR 10-15)

(10) وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي شِيَعِ الْأَوَّلِينَ
(11) وَمَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ
(12) كَذَلِكَ نَسْلُكُهُ فِي قُلُوبِ الْمُجْرِمِينَ
(13) لَا يُؤْمِنُونَ بِهِ ۖ وَقَدْ خَلَتْ سُنَّةُ الْأَوَّلِينَ
(14) وَلَوْ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَابًا مِنَ السَّمَاءِ فَظَلُّوا فِيهِ يَعْرُجُونَ
(15) لَقَالُوا إِنَّمَا سُكِّرَتْ أَبْصَارُنَا بَلْ نَحْنُ قَوْمٌ مَسْحُورُونَ

*Artinya:
"Dan sungguh, Kami telah mengutus sebelummu (Muhammad) pada umat-umat yang terdahulu. Dan tidak ada seorang rasul pun yang datang kepada mereka, melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. Demikianlah, Kami memasukkannya (Al-Qur'an) ke dalam hati orang-orang yang berdosa. Mereka tidak beriman kepadanya (Al-Qur'an) dan bersambunglah sunnah orang-orang terdahulu."

"Dan kalau Kami bukakan kepada mereka salah satu pintu langit, lalu mereka terus-menerus naik ke atasnya, tentulah mereka berkata, 'Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang-orang yang terkena sihir'."

══════════════════

*1. STRUKTUR TEKSTUAL DAN KONSISTENSI RUJU'UD DHAMIR

• Berdasarkan kaidah gramatikal, kata ganti (*dhamir*) "hu" pada kata *Naslukuhu* (ayat 12) dan *bihi* (ayat 13) konsisten merujuk pada Az-Zikr / Al-Qur'an.
• *Kesimpulan Teologis:* Al-Qur'an sebenarnya telah sampai, masuk, dan dipahami di ruang kesadaran (*qalb*) para penentangnya.
• Kegagalan hidayah bukan karena pesan tidak sampai, melainkan karena penolakan dari "wadah" penerima yang rusak.

═════════════════

*2. SEMANTIK TERM SYI'A' (SYI'AH)

• Secara etimologi, *Syi'a'* bermakna kelompok/faksi yang menyebar namun saling mengikatkan diri berdasarkan ideologi/kepentingan bersama.
• Di satu sisi, ini mengindikasikan aliansi negatif kolektif kaum terdahulu untuk menolak kebenaran.
• Di sisi lain, watak semantiknya netral dan dapat ditransformasikan menjadi instrumen positif: *persatuan umat (kolektivitas) dalam melawan keburukan*.

> *Jika kaum batil bisa solid, pengikut kebenaran wajib lebih terstruktur.

══════════════════

*3. DIMENSI EPISTEMOLOGI: "TEORI WADAH RUSAK"

• Hati (*qalb) adalah instrumen kognitif tertinggi untuk menangkap realitas transendental. Dosa dan takabur bertindak sebagai zat korosif yang merusaknya.
• *Analogi:* Kebenaran wahyu seperti air murni, dan hati adalah bejananya. Jika wadahnya kotor/berkarat, air murni pun akan terdistorsi dan hanya menjadi bahan olok-olok.
• Puncaknya (ayat 14-15), mereka terjebak dalam *positivisme ekstrem* dan *skeptisisme destruktif*: andai diberi bukti kosmologis sebesar menembus pintu langit pun, mereka akan menuduhnya sebagai ilusi/sihir demi kenyamanan subjektif.

══════════════════

*4. PENDEKATAN KRITIS: OPOSISI STATUS QUO & PERTAHANAN MENTAL

• Tindakan memperolok rasul (*istihza'*) dan tuduhan sihir (*mashurun*) adalah *instrumen hegemoni sosial* untuk melawan manifesto emansipatif nabi yang mengancam struktur kelas, ekonomi korup (riba/monopoli), dan feodalisme elit.
• Karena tidak mampu mematahkan argumen wahyu secara rasional, kaum elit melakukan pembunuhan karakter (*character assassination*).
• Tuduhan "disihir" adalah bentuk *gaslighting* kolektif sekaligus mekanisme pertahanan psikologis karena merubah kebiasaan lama terasa berat bagi mental yang korup.

══════════════════

*5. STUDI KOMPARATIF FILOLOGIS

Perbandingan dengan QS. Ash-Shu'ara: 200 menunjukkan perbedaan waktu (*tense*) yang mendalam:

• *Naslukuhu (QS. Al-Hijr):* Menggunakan *fi'il mudhari* (present/continuous), mengindikasikan proses penolakan ini dinamis, segar, dan terus berulang di setiap generasi baru.
• *Salaknahu (QS. Ash-Shu'ara):* Menggunakan *fi'il madi* (past/perfect), menegaskan bahwa penolakan tersebut adalah fakta sejarah yang pasti terjadi dan terkunci sebagai hukum peradaban (*sunnatul awwalin*).

══════════════════

*6. TAFSIR KEMASYARAKATAN (IJTIMA'I): METODOLOGI DAKWAH

• *Dakwah Multi-Sarana:* Perumpamaan "membuka pintu langit" mewajibkan da'i memaksimalkan segala media dan pendekatan ilmiah agar tidak ada celah bagi masyarakat untuk beralasan tidak tahu.
• *Fungsi Tasliyah (Hiburan Spiritual):* Menegaskan pemisahan antara "ikhtiar menyampaikan" dan "hasil akhir". Jika kebenaran ditolak setelah disampaikan total, kegagalan bukan pada pembawa pesan, melainkan ketidaklayakan tempat penampungannya. Formula ini sangat relevan untuk menghadapi era *post-truth.