Kompassantri-online - Depok – Suasana Ramadan di SMP Lazuardi Al Falah terasa lebih khidmat dengan kegiatan Pesantren Ramadan (Sanlat) yang diisi dengan kajian kitab Mutiara Ramadan. Kitab karya ulama Betawi, KH Abdurrahman Nawi, tersebut menjadi bahan kajian rutin bagi para guru dan siswa setiap pagi sebelum memulai pembelajaran.
Kegiatan ini berlangsung setiap hari selama bulan Ramadan, mulai pukul 07.30 hingga 08.30 WIB di aula sekolah. Seluruh civitas akademika SMP Lazuardi Al Falah berkumpul untuk melaksanakan shalat sunnah dhuha berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan kajian kitab Mutiara Ramadan.
Kitab tersebut merupakan karya ulama Betawi yang dikenal luas di kalangan masyarakat Jabodetabek sebagai rujukan kajian Ramadan. Selain bahasanya ringkas dan mudah dipahami, kitab ini juga menggunakan aksara Arab Melayu yang menjadi ciri khas tradisi keilmuan ulama Nusantara.
Materi yang dikaji mencakup berbagai tema penting seputar Ramadan, mulai dari hikmah puasa, macam-macam puasa, fiqih ibadah, tata cara shalat tarawih, pembahasan Idul Fitri, hingga persoalan zakat. Seluruh pembahasan dilengkapi dengan dalil Al-Qur’an, hadis, serta pandangan para ulama Ahlussunnah wal Jamaah.
Kepala Litbang Agama Lazuardi Al Falah, Hakim Hasan, menuturkan bahwa tradisi mengaji kitab Mutiara Ramadan telah menjadi agenda rutin sekolah setiap bulan suci.
“Alhamdulillah, sudah beberapa tahun ini Lazuardi Al Falah mengagendakan kajian kitab Mutiara Ramadan sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Kitab ini memang sangat populer di kalangan masyarakat Betawi dan Jabodetabek ketika Ramadan karena bahasanya sederhana, tetapi isinya sangat kaya,” ujarnya.
Hakim Hasan juga mengaku memiliki kedekatan emosional dengan kitab tersebut. Ia bahkan pernah bertemu langsung dengan pengarang kitabnya.
“Saya pernah bertemu dengan pengarang kitab ini. Bahkan sejak masa sekolah dasar, saya sudah ikut ngaji kitab Mutiara Ramadan bersama Abah di pesantren dan di beberapa majelis taklim. Jadi ketika tradisi ini dihidupkan di sekolah, rasanya seperti meneruskan sanad keilmuan para ulama,” ungkapnya.
Menariknya, kajian kitab ini tidak hanya dilakukan dengan metode ceramah. Setelah pembacaan kitab secara bersama-sama pada setiap pasal, para siswa diberi kesempatan untuk bertanya dan berdialog langsung dengan para guru.
Dengan metode dialogis dan interaktif tersebut, siswa tidak hanya mendengar materi, tetapi juga terlibat aktif dalam memahami isi kitab dan mengaitkannya dengan praktik ibadah sehari-hari.
Program kajian kitab Mutiara Ramadan ini berlangsung sejak awal pembelajaran Ramadan pada 23 Februari 2026 hingga penutupan kegiatan Pesantren Kilat Ramadan pada 12 Maret 2026.
Melalui kegiatan ini, Lazuardi Al Falah berupaya menanamkan kecintaan siswa terhadap khazanah keilmuan ulama Nusantara sekaligus memperkuat pemahaman keislaman yang berakar pada tradisi Ahlussunnah wal Jamaah. Tradisi mengaji kitab pun menjadi jembatan yang menghubungkan generasi muda dengan warisan intelektual para ulama yang telah lama hidup di tengah masyarakat.
Social Plugin