Khutbah Pertama
الْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ فِي تَقَلُّبِ الأَيَّامِ وَالشُّهُورِ عِبْرَةً لِلأَبْصَارِ، وَفِي نَوَازِلِ الدَّهْرِ مَوْعِظَةً لِلأَخْيَارِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، الْعَزِيزُ الْقَهَّارُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْمُصْطَفَى الْمُخْتَارُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الأَطْهَارِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: "وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ" (الأنبياء: 35).
Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT, karena takwa adalah sebaik-baik bekal dalam menghadapi segala kondisi, baik dalam kelapangan maupun kesempitan. Akhir-akhir ini, kita menyaksikan berbagai fenomena alam yang melanda, mulai dari gempa bumi, banjir, hingga musibah lainnya. Di tengah duka tersebut, sering muncul pertanyaan di benak kita: “Apakah ini sebuah ujian dari Allah, peringatan, ataukah azab yang diakibatkan oleh dosa-dosa kita?”
1. Bencana sebagai Ibtila’ (Ujian)
Bagi seorang mukmin, bencana seringkali merupakan bentuk Ibtila’ atau ujian untuk meningkatkan derajat. Allah SWT menegaskan dalam Al-Baqarah ayat 155:
"Dan Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."
Analisis: Jika musibah ini menimpa orang-orang yang taat, maka fungsinya adalah sebagai pembersih dosa (tahish) dan pengangkat derajat. Rasulullah SAW bersabda: "Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan mengujinya (dengan musibah)." (HR. Tirmidzi).
2. Bencana sebagai Tahdzir (Peringatan)
Terkadang bencana adalah sentuhan kasih sayang Allah agar manusia sadar dari kelalaiannya. Dalam Al-Qur'an Surat Ar-Rum ayat 41, Allah berfirman:
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."
Analisis: Kata “agar mereka kembali” (la'allahum yarji'un) menunjukkan bahwa bencana ini adalah bentuk teguran agar kita berhenti dari maksiat, memperbaiki lingkungan, dan kembali bersujud kepada-Nya sebelum datang azab yang lebih besar di akhirat.
3. Bencana sebagai ‘Iqab (Azab/Siksa)
Kita tidak boleh menutup mata bahwa bencana juga bisa bermakna ‘Iqab atau azab, terutama ketika suatu kaum secara terang-terangan menentang syariat dan melakukan kemungkaran secara kolektif. Allah SWT mengingatkan dalam Surat Asy-Syura ayat 30:
"Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)."
Analisis: Azab biasanya ditandai dengan datangnya musibah yang menghancurkan dan tidak menyisakan ruang bagi pelaku maksiat untuk bertobat jika mereka terus-menerus dalam pembangkangan (istidraj). Namun, dalam Islam, jika azab menimpa suatu daerah, orang-orang saleh di dalamnya juga akan terkena dampaknya, namun mereka akan dibangkitkan berdasarkan niat dan amal mereka masing-masing.
Jamaah yang Berbahagia,
Lantas, bagaimana kita membedakan ketiganya?
Ulama menjelaskan bahwa parameternya ada pada respons kita setelah bencana itu terjadi:
Jika bencana membuat kita semakin sabar, semakin dekat dengan masjid, dan semakin giat beribadah, maka itu adalah Ujian (Ibtila’) yang membawa rahmat.
Jika bencana membuat kita tersadar akan kesalahan, berhenti dari kemaksiatan, dan melakukan perbaikan diri (ishlah), maka itu adalah Peringatan (Tahdzir).
Namun, jika setelah bencana kita tetap dalam kemaksiatan, justru menyalahkan takdir, dan tidak ada keinginan untuk bertobat, maka dikhawatirkan itu adalah Azab (‘Iqab) yang menjadi pembuka bagi kesengsaraan yang lebih panjang.
Oleh karena itu, janganlah kita sibuk menghakimi orang lain yang terkena musibah sebagai "orang yang diazab". Sebaliknya, gunakanlah musibah tersebut sebagai cermin bagi diri kita sendiri. Mari kita perbanyak istighfar, karena tidaklah sebuah musibah turun melainkan karena dosa, dan tidaklah musibah itu diangkat melainkan dengan tobat.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
Jamaah yang Dimuliakan Allah,
Sebagai penutup, marilah kita perkuat solidaritas kemanusiaan. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa "Siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin di dunia, Allah akan melepaskan satu kesusahannya di hari kiamat." (HR. Muslim).
Bencana adalah momentum untuk menunjukkan kesalehan sosial kita. Mari kita bantu saudara-saudara kita yang tertimpa musibah, baik dengan doa, harta, maupun tenaga. Semoga Allah SWT menjauhkan negeri kita dari segala bala dan marabahaya, serta menggolongkan kita sebagai hamba-hamba yang sabar dan pandai bersyukur.
إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلاَءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ، وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلادِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
RSS Feed
Twitter
Februari 19, 2026
gardanews
