Jakarta, Kompassantri - Film horor tak lagi hanya soal hantu dan kegelapan. Lewat film *"Aku Harus Mati"*, Rollink Action menghadirkan teror yang justru terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: utang, ambisi, dan kebutuhan akan pengakuan sosial.
Disutradarai oleh Hestu Saputra, film ini menggambarkan bagaimana tekanan sosial dapat mendorong seseorang mengambil keputusan ekstrem, bahkan hingga “menjual jiwa”.
Tokoh utama Mala yang diperankan Hana Saraswati menjadi representasi generasi urban yang terjebak gaya hidup glamor. Demi terlihat “berhasil”, ia terjerat pinjaman online dan paylater hingga kehilangan kendali atas hidupnya.
Eksekutif Produser Irsan Yapto menyebut cerita ini bukan sekadar fiksi.
“Fenomena ini nyata. Banyak orang memaksakan diri demi validasi sosial, bahkan sampai mengorbankan masa depan mereka sendiri,” ujarnya.
Kisah semakin mencekam saat Mala kembali ke panti asuhan dan menemukan fakta bahwa hidupnya terkait dengan perjanjian iblis yang mengerikan.
Menurut Hestu Saputra, horor dalam film ini justru berasal dari manusia itu sendiri.
“Yang kami tampilkan adalah sisi gelap manusia. Ketika keinginan lebih besar dari kendali diri, di situlah teror sebenarnya dimulai,” katanya.
Ditulis oleh Aroe Ama, film ini juga menyuguhkan konflik emosional yang kuat, bukan sekadar jump scare.
Dengan deretan pemain seperti Amara Sophie, Prasetya Agni, dan Bambang Paningron, film ini diharapkan menjadi salah satu horor paling relevan tahun ini.
"Aku Harus Mati" bukan hanya tentang siapa yang akan menjadi korban, tetapi juga tentang pilihan hidup yang membawa konsekuensi tak terelakkan.(dsp).
Social Plugin