Selasa, 13 Oktober 2026

Negeri Kaya SDM, 81 Tahun Merdeka: Anak Dikasih Makan, Orang Tua Menganggur, dan Dana Pendidikan Malah "Numpang Lewat"

Ini adalah artikel yang telah diperbarui dengan memasukkan elemen anomali terbaru—termasuk isu dana pendidikan yang terserap untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), anak diberi makan sementara orang tua menganggur dan daya beli melemah—serta disajikan dengan bahasa yang tajam, sarkastik, dan mudah dipahami:
Pernahkah kita berhenti sejenak dan berpikir waras? Di atas kertas, Indonesia adalah raksasa tidur. Kita punya kekayaan alam yang melimpah ruah, bonus demografi yang luar biasa, dan sumber daya manusia yang potensial. Tapi anehnya, setelah 81 tahun merdeka, arah pendidikan kita justru terasa seperti komedi satir yang bikin elus dada.
Mari bandingkan dengan tetangga dan negara-negara lain di dunia:
 * Amerika Serikat: Kampus-kampusnya mendidik mahasiswa jadi pengusaha global.
 * Singapura: Mencetak profesional ulung yang langsung diserap industri dengan gaji selangit.
 * Jerman: Mengawinkan dunia kuliah dan pabrik lewat sistem Duales Studium untuk mencetak engineer tangguh.
 * China: Super gesit mengubah kurikulum demi mencetak pakar AI dan teknologi robotik masa depan.
Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Alih-alih sibuk merancang kurikulum masa depan yang adaptif dengan zaman, kita masih terjebak di lingkaran setan: jutaan anak putus sekolah, dan arah kebijakan pendidikan yang kerap ganti penanggung jawab ganti pula haluannya.
Anomali Paling Ironic: Dana Pendidikan Terserap MBG dan Daya Beli yang Lemah
Puncak dari komedi satir pendidikan Indonesia hari ini adalah sebuah anomali yang luar biasa mencengangkan: anggaran pendidikan yang seharusnya murni mencerdaskan kehidupan bangsa justru terserap habis untuk proyek Makan Bergizi Gratis (MBG).
Negeri ini seolah dihadapkan pada sebuah ironi tingkat dewa:
 * Anak Dikasih Makan, Tapi Orang Tua Menganggur: Negara bangga bisa menyuapkan makanan ke piring anak-anak di sekolah. Tapi di waktu yang sama, para orang tua mereka banyak yang kehilangan pekerjaan, menganggur, dan terjepit akibat lemahnya daya beli masyarakat.
 * Dana Pendidikan "Numpang Lewat": Alokasi anggaran besar yang diwajibkan undang-undang untuk mencerdaskan otak anak bangsa, membenahi fasilitas sekolah yang reyot, dan menaikkan kesejahteraan guru, malah terpotong dan tersedot untuk program mercusuar di luar esensi utama pendidikan itu sendiri.
 * Kenyang Perutnya, Kosong Masa Depannya: Apa artinya anak-anak diberi makan siang gratis di sekolah jika setelah lulus mereka dihadapkan pada pasar kerja yang hancur, kurikulum yang tidak nyambung dengan kebutuhan industri, serta biaya kuliah yang melambung tinggi karena kampusnya kurang dana?
Mau Dibawa ke Mana Arah Pendidikan Kita?
Negara-negara lain mencetak problem solver, inovator, dan pengusaha. Sementara di Indonesia, kebijakannya terlihat reaktif dan tambal sulam—hari ini bikin program A, besok ganti menteri ganti kebijakan lagi.
Sebagai pendidik, guru, dan orang tua yang akal sehatnya masih berjalan, kita patut bertanya: Sampai kapan Indonesia menjadi penonton di rumah sendiri?
Sudah saatnya kita berhenti pura-pura baik-baik saja melihat anggaran pendidikan diakali demi citra sesaat, sementara jutaan rakyatnya berjuang di tengah himpitan ekonomi dan lemahnya daya beli. Jika tidak segera dibenahi, 81 tahun kemerdekaan ini hanya akan menjadi seremoni tahunan, sementara anak-anak kita hanya disiapkan untuk menjadi penonton di negeri yang kaya raya ini.

Pendidikan Negara Lain Menyesuaikan Kebutuhan Zaman, Pendidikan Indonesia Menyesuaikan Siapa yang Lagi Berkuasa. Mantap Betul!

Kurikulum Ganti Tiap Ganti Menteri, Kebijakan Tambal Sulam Abadi: Selamat Datang di Pabrik Pengangguran Bernama Sistem Pendidikan Indonesia!
Kompassantri-online, Pernahkah kamu berpikir, untuk apa kita sekolah dan kuliah? Apakah tujuannya sekadar mencari nilai rapor yang bagus, atau dipersiapkan untuk menjadi sesuatu setelah lulus nanti?
Jika kita melihat peta pendidikan global, ternyata setiap negara memiliki arah dan tujuan utama yang berbeda dalam mendidik anak-anak mudanya. Mari kita bedah satu per satu dengan cara yang santai dan mudah dimengerti!

1. Amerika Serikat: Dicetak Menjadi Pengusaha (Entrepreneur)
Di negara adidaya ini, kampus-kampus terkenal seperti MIT, Harvard, dan Stanford tidak hanya mengajari mahasiswanya teori di dalam kelas. Mereka membekali mahasiswanya dengan program kewirausahaan.
 * Belajar membangun bisnis sudah diajarkan sejak bangku kuliah.
 * Didukung oleh jaringan investor (venture capital) dan inkubator bisnis, membuat para mahasiswa berani melakukan eksperimen bisnis.
 * Hasilnya? Sekitar 62% start-up atau perusahaan rintisan di dunia yang mendapat pendanaan besar, pendirinya berasal dari kampus-kampus di Amerika Serikat.

2. Singapura: Dicetak Menjadi Profesional yang Siap Kerja
Singapura punya fokus yang sangat jelas: melahirkan tenaga kerja profesional yang langsung terserap oleh industri. Melalui program seperti SkillsFuture Work-Study Degree, mahasiswa bisa kuliah sambil bekerja langsung di perusahaan.
 * Mahasiswa bekerja selama 12 bulan di perusahaan, mendapatkan uang saku, dan pengalaman kerjanya dihitung sebagai syarat kelulusan.
 * Hasilnya luar biasa: pada tahun 2025, sekitar 83,4% lulusan baru (fresh graduate) kampus negeri di Singapura sudah bekerja dalam waktu 6 bulan setelah lulus dengan penghasilan yang tinggi.

3. Jerman: Dicetak Menjadi Engineer (Ahli Teknik) yang Handal
Jerman terkenal sebagai rumah bagi raksasa industri otomotif dan mesin dunia seperti BMW, Mercedes-Benz, dan Bosch. Perusahaan-perusahaan ini tentu butuh banyak sekali engineer siap kerja.
 * Jerman menerapkan sistem pendidikan bernama Duales Studium, yaitu sistem di mana pelajar bisa kuliah sekaligus bekerja langsung di pabrik atau perusahaan.
 * Dari ribuan program studi yang ditawarkan, setengahnya adalah jurusan teknik.
 * Hebatnya lagi, sebagian besar lulusan kampus di Jerman sudah mengantongi pengalaman kerja nyata bahkan sebelum mereka resmi diwisuda.

4. China: Dicetak Menjadi Ahli Teknologi Masa Depan
Dulu, produk-produk buatan China sempat dipandang sebelah mata. Namun, mereka melakukan transformasi besar pada dunia pendidikannya. Kampus-kampus di China sangat cepat menyesuaikan diri dengan kebutuhan industri modern.
 * Sepanjang tahun 2021–2025, China membuka 10.200 program studi baru dan menutup 12.200 prodi lama yang sudah ketinggalan jaman.
 * Mereka berfokus pada teknologi mutakhir, seperti menambah jurusan embodied intelligence (kecerdasan buatan untuk robot) dan ekonomi ketinggian rendah (drone untuk ekonomi).
 * Kini, China memimpin dunia dalam hal jumlah riset, terutama di bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI).
Lalu, Bagaimana dengan Indonesia? 🤔
Setelah melihat arah negara-negara lain yang sangat terarah—ada yang jadi pengusaha, profesional, engineer, hingga ahli teknologi—lalu bagaimana dengan arah pendidikan Indonesia?
Sampai hari ini, setelah puluhan tahun merdeka, tantangan terbesar Indonesia masih berputar pada pemerataan pendidikan:
 * Masih Ada Anak yang Belum Sekolah: Berdasarkan data per April 2026, masih ada sekitar 3.966.858 anak di Indonesia yang tidak bisa bersekolah.
 * Fokus Jangka Panjang: Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045 masih menempatkan tema "Pendidikan Berkualitas yang Merata" sebagai fokus utama. Artinya, PR besar kita masih seputar memastikan setiap anak di pelosok negeri bisa mendapat akses sekolah yang layak.
 * Pendidikan yang "Tambal Sulam": Seringkali arah kebijakan pendidikan di Indonesia ikut berganti-ganti seiring dengan pergantian pemerintahan yang berkuasa, sehingga arahnya terasa reaktif dan belum sepenuhnya fokus pada satu cetak biru industri masa depan yang ajek.
Pesan untuk Guru dan Siswa:
Melalui perbandingan ini, kita bisa memahami bahwa pendidikan bukan sekadar duduk di kelas mendengarkan guru dan menghafal pelajaran. Pendidikan adalah jembatan masa depan.
Sebagai guru, kita bisa mengajak para siswa berdiskusi di kelas: Jika kamu diberi kebebasan memilih, mau diarahkan ke mana kemampuanmu? Apakah ingin menjadi inovator teknologi seperti di China, profesional handal seperti di Singapura, engineer tangguh seperti di Jerman, atau pengusaha sukses seperti di Amerika?

Semoga kelak pendidikan di Indonesia bisa semakin merata, dan setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk terbang menggapai cita-citanya! 🇮🇩✨

DAFTAR REFERENSI SUMBER DATA
 * Amerika Serikat (Sektor Pendidikan & Kewirausahaan)
   * PitchBook (2026): Data statistik mengenai persentase pendiri start-up global (global start-up founders) yang mendapatkan pendanaan dari Venture Capital (VC) dan berasal dari kampus-kampus di Amerika Serikat.
 * Singapura (Sektor Pendidikan Profesional & Ketenagakerjaan)
   * Ministry of Education (MOE) Singapore / Kemendikbud Singapura (2025): Laporan data terkait tingkat serapan lulusan baru (fresh graduates) kampus negeri Singapura di dunia kerja dalam waktu 6 bulan setelah kelulusan, serta program SkillsFuture Work-Study Degree.
 * Jerman (Sektor Pendidikan Vokasi & Industri)
   * Data Industri & Vokasi Jerman (2024): Statistik penawaran lowongan kerja sama industri untuk sistem pendidikan Duales Studium serta data komposisi program studi teknik di perguruan tinggi Jerman yang bermitra dengan raksasa industri seperti BMW, Mercedes-Benz, dan Bosch.
 * China (Sektor Pendidikan Teknologi & Riset Global)
   * Laporan Kebijakan Transformasi Kurikulum & Industri China (2021–2026): Data pembukaan serta penutupan program studi di kampus China (pembukaan 10.200 prodi baru dan penutupan 12.200 prodi lama), penambahan prodi mutakhir tahun 2026 seperti embodied intelligence dan low-altitude economy, serta data kepemimpinan riset AI global.
 * Indonesia (Data Pendidikan & Tantangan Pemerataan)
   * Data Statistik Pendidikan Indonesia per April 2026: Catatan jumlah anak yang tidak bersekolah di Indonesia (3.966.858 anak).
   * Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045: Dokumen resmi arah kebijakan pembangunan nasional yang mengusung tema fokus "Pendidikan Berkualitas yang Merata" serta tantangan kebijakan pendidikan yang bersifat reaktif dan jangka panjang.

Kurator: Awikid 

12 Personel Polres Metro Tangerang Kota Terima Penghargaan Kapolda atas Pengungkapan 25 Kg Sabu

Kompassantri, TANGERANG — Sebanyak 12 personel Satresnarkoba Polres Metro Tangerang Kota menerima piagam penghargaan dari Kapolda Metro Jaya atas keberhasilan mengungkap kasus peredaran narkotika jenis sabu seberat 25 kilogram.

Penghargaan tersebut diserahkan Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol. Herbin Garbawiyata Jaya Sianipar, S.I.K., S.H., dalam apel jam pimpinan di Lapangan Presisi Mako Polres Metro Tangerang Kota, Selasa (13/10/2026).

Pemberian penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi pimpinan Polri terhadap dedikasi, kerja keras, dan keberhasilan personel dalam memberantas peredaran narkotika. Para penerima penghargaan terdiri atas jajaran pimpinan dan anggota Satresnarkoba yang terlibat dalam pengungkapan kasus tersebut.

Dalam kesempatan itu, Kapolres menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi kepada seluruh personel yang menerima penghargaan. Ia menilai keberhasilan pengungkapan 25 kilogram sabu tersebut merupakan hasil kerja keras, profesionalisme, dan komitmen anggota dalam menjalankan tugas.

“Saya mengucapkan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada rekan-rekan atas prestasi yang telah diraih. Penghargaan dari Kapolda Metro Jaya ini merupakan bentuk perhatian dan penghargaan pimpinan kepada anggota yang telah bekerja dengan baik serta memberikan hasil nyata,” ujar Herbin.

Menurutnya, penghargaan tersebut tidak hanya menjadi bentuk penghormatan atas prestasi yang telah dicapai, tetapi juga menjadi motivasi bagi seluruh personel untuk terus meningkatkan kinerja dan profesionalisme dalam memberikan pelayanan serta perlindungan kepada masyarakat.

Herbin berharap penghargaan itu dapat mendorong para penerima untuk mempertahankan dan meningkatkan prestasi. Ia juga mengajak seluruh personel Polres Metro Tangerang Kota menjadikan keberhasilan tersebut sebagai teladan dalam melaksanakan tugas, khususnya dalam memberantas peredaran narkotika.

“Prestasi ini harus menjadi motivasi bagi seluruh anggota untuk terus bekerja secara profesional, penuh integritas, dan memberikan kontribusi terbaik bagi institusi serta masyarakat,” katanya.

Pemberian penghargaan tersebut sekaligus menegaskan komitmen Polres Metro Tangerang Kota dalam mendukung upaya pemberantasan narkoba. Keberhasilan pengungkapan 25 kilogram sabu diharapkan dapat mempersempit ruang gerak jaringan peredaran narkotika dan melindungi masyarakat dari bahaya penyalahgunaan narkoba.

Pengunaan Don't dan Don't Be