Kamis, 16 April 2026

Timur Tengah Memanas: Bukan Cuma Iran vs Israel, Kini Aliansi Sunni & Nuklir Pakistan Ikut 'Turun Gunung'?

Eskalasi Geopolitik Timur Tengah: Menuju Konvergensi "Pax Iranica" dan Ancaman "Greater Israel"

 

JAKARTA, Kompassantri.Online – Dinamika keamanan di kawasan Timur Tengah memasuki fase krusial seiring dengan meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz dan pergeseran aliansi strategis antara kekuatan regional. Diskusi terbaru para analis hubungan internasional menyoroti potensi transformasi konflik dari peperangan asimetris menuju konfrontasi terbuka yang melibatkan aktor-aktor besar, termasuk wacana pembentukan aliansi militer baru yang mulai mengkhawatirkan eksistensi Israel.

Strategi Selat Hormuz dan Perang Asimetris Iran

Analis keamanan, Ridwan Habib, menekankan bahwa Iran telah terbiasa beroperasi di luar kerangka hukum internasional karena merasa tidak lagi mendapatkan perlindungan dari sistem tersebut. Salah satu instrumen strategis yang digunakan Iran adalah weaponization of Hormuz.

Menurut Ridwan, Iran memiliki keunggulan dalam Asymmetric Maritime Warfare. Meski Amerika Serikat memiliki keunggulan dalam Blue Water Warfare, armada mereka cenderung menghindari konfrontasi jarak dekat di wilayah sempit. Iran mengandalkan taktik kapal cepat untuk menjebak kapal perusak (destroyer) lawan. Di sisi lain, terdapat indikasi strategi Amerika Serikat untuk melakukan invasi darat melalui penerjunan pasukan komando ke titik-titik strategis seperti Pulau Har guna memecah konsentrasi pertahanan Iran.

Munculnya "Emerging Sunni Axis"

Kang Irfan Maulana, pengamat Timur Tengah, memaparkan pergeseran narasi yang dilontarkan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Dalam sebuah pernyataan publik, Netanyahu memperingatkan dunia akan munculnya ancaman baru yang disebut sebagai "Emerging Sunni Axis".

Israel kini mulai memetakan ancaman yang tidak lagi hanya datang dari Poros Syiah (Iran dan sekutunya), tetapi juga dari negara-negara Sunni utama:

  • Turki: Dianggap sebagai ancaman militer yang sedang membangun kekuatan besar.

  • Pakistan: Memberikan payung perlindungan nuklir bagi Arab Saudi, yang secara teoritis mampu menjangkau seluruh wilayah Israel.

  • Mesir: Meningkatkan kehadiran militer di wilayah Sinai dan membangun konektivitas infrastruktur dengan Arab Saudi.

  • Qatar: Mulai dipandang secara skeptis oleh beberapa faksi politik di Israel sebagai entitas lawan.

Kekhawatiran Israel memuncak pada potensi aliansi "Hexagon" atau fakta pertahanan yang melibatkan kekuatan militer Turki, pendanaan Saudi, dan teknologi nuklir Pakistan.

Pak Iranika vs. Greater Israel

Ketegangan ini mempertemukan dua visi geopolitik yang saling berbenturan:

  1. Greater Israel (Eretz Yisrael Hashlema): Ambisi ekspansi wilayah yang saat ini mulai mendominasi narasi politik domestik Israel, bahkan di kalangan oposisi moderat.

  2. Pax Iranica (Wihdatul Ummah): Konsep tandingan yang diprediksi oleh analis sebagai upaya unifikasi umat Islam di bawah pengaruh koordinasi Iran yang menghubungkan Saudi, Turki, dan Pakistan.

Persatuan strategis ini dianggap sebagai ancaman eksistensial bagi Israel. Jika konvergensi antara kekuatan ekonomi (Saudi), militer (Turki/Mesir), dan nuklir (Pakistan) ini terwujud, para analis memperingatkan bahwa stabilitas kawasan akan berubah secara permanen.

Kesimpulan

Eskalasi di Timur Tengah saat ini bukan sekadar konflik perbatasan, melainkan benturan doktrin jangka panjang. Di satu sisi, Israel berupaya menjaga narasi ancaman tetap hidup untuk kepentingan politik domestik dan perluasan wilayah. Di sisi lain, tekanan blokade ekonomi selama 40 tahun justru telah membentuk Iran menjadi aktor yang memiliki daya tahan tinggi dan kemampuan untuk menggalang solidaritas regional yang lebih luas.


Glosarium (Catatan Kaki)

  • Konvergensi: Keadaan menuju satu titik pertemuan; penyatuan.

  • Strategis: Berhubungan dengan rencana yang matang untuk mencapai tujuan (biasanya militer atau politik).

  • Transformasi: Perubahan rupa (bentuk, sifat, fungsi).

  • Peperangan Asimetris: Perang antara dua pihak yang memiliki kekuatan militer tidak seimbang, biasanya pihak yang lebih lemah menggunakan taktik non-tradisional.

  • Asymmetric Maritime Warfare: Peperangan laut dengan taktik tidak biasa (misal: menggunakan kapal kecil untuk melawan kapal besar).

  • Blue Water Warfare: Peperangan di laut lepas atau samudra yang luas dan dalam.

  • Domestik: Berhubungan dengan dalam negeri.

  • Teoritis: Berdasarkan pada teori (perhitungan di atas kertas), bukan praktik langsung.

  • Konektivitas: Hubungan atau keterhubungan satu sama lain.

  • Skeptis: Sikap ragu-ragu atau kurang percaya.

  • Entitas: Satuan yang berwujud atau memiliki keberadaan nyata (pihak).

  • Ekspansi: Perluasan wilayah atau pengaruh.

  • Unifikasi: Proses penyatuan beberapa unit menjadi satu kesatuan.

  • Eksistensial: Berhubungan dengan keberadaan atau kelangsungan hidup suatu pihak.

  • Eskalasi: Peningkatan atau penambahan intensitas (suhu konflik).

  • Doktrin: Ajaran, prinsip, atau pendirian yang dipegang teguh.

Kurator: Alwi Sahlan

Source: https://youtu.be/8ZxZADyS4is?si=HfCiUXFuGiESyvXF



Poin Utama Analisis:

VariabelDeskripsi Strategis
Kekuatan MaritimIran menggunakan taktik asimetris di wilayah pesisir untuk melawan armada besar AS.
Aliansi BaruPotensi pakta pertahanan antara Pakistan, Saudi, Turki, dan Mesir.
Risiko NuklirPernyataan Pakistan mengenai jangkauan rudal nuklir yang mencakup seluruh Timur Tengah.
Narasi PolitikPergeseran dari solusi dua negara (two-state solution) menuju ambisi Greater Israel.
Tags: Geopolitik, Timur Tengah, Iran, Israel, Selat Hormuz, Perang Dunia 3, Analisis Militer, Islam vs Zionis