Senin, 27 April 2026

BUKAN CUMA RUMAH, DUNIA DIGITAL JUGA MEMBENTUK ANAK SEJAK USIA DINI


Karya : Ziana Zanjabila Anwar, Seksi Bidang Dakwah PAC Fatayat NU Banjaranyar.

Kompassantri-online, Terkadang kita sudah merasa cukup menjaga anak didalam rumah dengan memberikan contoh yang baik, brbicara dengan lembut, mengajarkan mana hal yang baik dan tidak baik, apakah pernah terpikir itu semua sudah cukup untuk memberikan lingkungan rumah aman serta terarah dan anak akan tumbuh sesuai dengan apa yang sudah kita bayangkan?.
Tapi hari ini, lingkungan anak tidak sampai dilingkungan rumah atau sekolah saja, kita mungkin tidak menyadari adanya lingkungan baru yang ikut hadir seiring berjalannya zaman -layar kecil yang selalu menemani anak-anak disetiap waktunya. Dari situlah anak melihat banyak hal, mendengar banyak suara, dan pelan-pelan akan ikut mengambil peran untuk ikut memberi pelajaran bagaimana dunia ini bekerja.
Ya, awalnya semua terlihat sepele. Anak diberikan layar ajaib agar tenang, agar tidak rewel, atau sekedar agar si ibu biasa tenang dengan dunia kerjanya yang hampir 24 jam. Tidak ada yang salah memang akan hal tersebut, bahkan itu bisa menjadi solusi yang instan ditengah-tengah hiruk pikuk yang super padat. Namun pelan tapi pasti, yang awalnya sesekali akan berubah menjadi satu kebiasaan yang selalu dilakukan.
Anak akan mulai terbiasa dengan tontonan tertentu, mengikuti cara bicara serta perilaku yang ada dalam video tersebut, menirukan ekspresi, bahkan akan ada hal yang sebenarnya sudah kita beri tahu itu salah tapi tetap dilakukan sehingga kita bingung semuanya terasa “ asing “ bagi kita karna di rumah itu semua tidak dicontohkan.
Sampai ditahap ini pernahkan ada sebersit dipikiran kita sebagai orang yang berperan dilingkungan rumah “ ini anak belajar dimana ya?” padahal sudah jelas dengan jawaban yang ada di depan matanya sendiri, padahal ini semua sesuatu yang tadinya dianggap “sesekali” itu. 
Anak pada usia emas memang sedang berada di fase meniru, mereka belum mempunyai kemampuan menyaring mana yang layak untuk diikuti dan mana yang tidak boleh diikuti. Anak usia emas berada di fase mana yang sering mereka lihat itu akan dianggap wajar, apa yang mereka dengar itu adalah yang mereka akan rekam.
Di zaman dulu mungkin saja dunia anak-anak itu terbatas hanya ada rumah dan sekolah saja, dimana orang tua serta guru adalah contoh yang baik untuk mereka tiru. Tapi di zaman sekarang ini layar ajaib itu mengambil peran bahkan tidak sedikit ruang yang mereka ambil tapi banyak ruang yang mereka kuasai.
Di dunia digital tidak selalu memberikan tuntunan yang seperti apa kita inginkan, tetapi marak sekali di zaman sekarang konten yang hanya dibuat menarik perhatian saja tanpa ada unsur untuk mendidik, suara yang dibuat berlebihan, ekspresi yang dibuat-buat, respon yang cepat serta instan itu membuat mereka akan mudah untuk menirukan. Akhirnya, anak akan mulai terbiasa dengan hal-hal yang serba cepat, hiburan yang hanya menarik serta respon yang tak perlu jeda. Sehingga ketika anak mulai kembali ke dunia nyata semuanya terasa membosankan, semuanya lambat tidak semenarik dunia layar ajaib.
Tetapi disinih peran orang dewasa terkadang tidak menyadari perubahan yang datang secara pelan-pelan, anak jadi lebih mudah bosan, lebih cepat kesal, sulit focus untuk waktu yang lama, bahkan anak akan menjadi lebih emosional ketika apa yang mereka bayangkan tidak terpenuhui atau apa yang mereka inginkan tidak terwujud.
Stop menyalahkan anak, ini bukan karna mereka berubah menjadi “anak yang bermasalah”, tapi karna satu kebiasaan yang muncul karna kata “sesekali” yang dibentuk oleh lingkungan rumah yang ingin anak anteng dengan memberikan dunia baru untuk anak-dunia layar ajaib. Perubahan ini tidak terlihat langsung membesar tapi ini dapat terlihat dari hal-hal kecil yang sering terulang di kesehariannya seperti nada suara, cara ia berbicara, dan emosi yang tidak setabil. Disisi lain kita ingin anak itu sesuai dengan apa yang kita harapkan, sesuai dengan apa yang kita ajarkan dirumah, sehingga akan terjadi jarak yang pelan-pelan akan melebar menjadikan si anak semakin menjauh dari unsur-unsur yang sering diterapkan dirumah.
Kalau dulu kita sering mendengar istilah “anak adalah cerminan lingkungannya”, maka diwaktu ini kita harus memperluas makna “lingkungan” itu sendiri. Lingkungan saat ini bukan hanya siapa yang ada didekat mereka tetapi juga apa yang mereka lihat di layar ajaib itu sendiri.
Apa layar ajaib harus dijauhkan dari anak? Tentu tidak, karna itu pun tidak realistis di zaman sekarang dimana dunia digital sudah menjadi kehidupan yang berdampingan sehingga anak akan bergesekan dengan dunia tersebut cepat atau lambat. Yang perlu disadari sekarang adalah bagaimana kita menyadari perannya, bahwa apa yang mereka tonton bukan hanya sekedar hiburan tapi tuntunan, setiap karakter yang merreka lihat membawa peran bagaimana si anak harus bersikap. Disinilah peran orang dewasa kembeli menjadi penting, bukan hanya sebagi pemberi aturan tetapi juga mengambil peran sebagai pendamping, bukan hanya membatasi waktu tetapi juga memperhatikan apa yang mereka lihat, bukan melarang tapi menjelaskan kenapa itu dilarang, bukan hanya mengambil gadget tetapi memberikan lingkungan yanglebih menarik dan interaktif. Karna di usia emas anak akan belajar bukan pada “katanya” tetapi “nyatanya”.
Dunia digital memang mengambil peran untuk membentuk karakter anak pada zaman ini tetapi bukan berarti kita kalah peran. Justru seharusnya di Tengah banyaknya pengaruh dari luar kehadiran orang dewasa yang sadar serta terlibat itu dirasa sangat penting . karna jika “anak adalah cerminan lingkungan” maka disaat ini “cermin” bukan soal tentang lingkungan rumah dan sekolah tetapi juga si layar ajaib tersebut. Dan pertanyaannya, sudahkah kita benar-benar tahu apa saja yang sedang membentuk mereka?.