Jumat, 01 Mei 2026

Pekerja UI Tuntut PKB dan Perlindungan Hak Kerja pada May Day 2026

Kompassantri-online, Depok, 1 Mei 2026 — Memperingati Hari Buruh Internasional (May Day) 2026, Paguyuban Pekerja Universitas Indonesia (PPUI) menegaskan bahwa peringatan tersebut bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum penting untuk memperjuangkan hak kerja yang manusiawi dan bermartabat di lingkungan kampus.
Dalam pernyataan resminya, PPUI mengingatkan bahwa secara historis, May Day lahir dari perjuangan panjang kaum pekerja dalam menuntut batas kerja yang adil, yang kemudian melahirkan standar universal berupa pembagian waktu 8 jam kerja, 8 jam istirahat, dan 8 jam untuk kehidupan pribadi. Prinsip tersebut dinilai sebagai fondasi penting dalam menjamin kerja layak yang harus dilindungi secara hukum dan politik.
Namun, menurut PPUI, semangat tersebut belum sepenuhnya terwujud di Universitas Indonesia (UI). Sebagai institusi pendidikan tinggi yang seharusnya menjadi teladan, UI dinilai masih menyisakan berbagai persoalan mendasar dalam relasi kerja, baik bagi dosen maupun tenaga kependidikan.
PPUI menyoroti meningkatnya beban kerja dosen akibat tuntutan produktivitas akademik yang tinggi, yang dinilai menjadikan dosen sebagai bagian dari “mesin publikasi” dalam industri jurnal ilmiah global. Sementara itu, tenaga kependidikan disebut menghadapi tekanan administratif yang besar tanpa diimbangi apresiasi yang layak, bahkan pernah mengalami praktik disipliner berlebihan seperti kewajiban absensi hingga empat kali sehari.
Situasi tersebut, lanjut PPUI, diperparah oleh belum adanya Perjanjian Kerja Bersama (PKB) maupun Peraturan Perusahaan (PP) di lingkungan UI. Ketiadaan dua instrumen tersebut dinilai membuat pekerja berada dalam posisi rentan karena tidak memiliki dasar hukum yang kuat dalam hubungan kerja.
Dalam momentum May Day 2026, PPUI menyampaikan dua tuntutan utama. Pertama, mendesak pembentukan PKB di Universitas Indonesia sebagai instrumen fundamental untuk menjamin kesejahteraan, kepastian status kerja, serta perlindungan dari pemutusan hubungan kerja sepihak. PKB juga diharapkan mengatur standar upah yang adil serta mekanisme penyelesaian sengketa yang transparan.
Kedua, PPUI menuntut pengakuan penuh atas hak seluruh pekerja di lingkungan UI untuk berserikat dan berunding secara kolektif.
Lebih jauh, PPUI juga mengkritik kecenderungan neoliberalisasi di sektor pendidikan tinggi yang dinilai mendorong orientasi pasar dalam pengelolaan kampus. Hal ini, menurut mereka, berdampak pada fleksibilisasi tenaga kerja, peningkatan beban kerja, serta berkurangnya tanggung jawab institusi terhadap kesejahteraan pekerja.
“Tanpa PKB, tidak ada jaminan bahwa kerja di lingkungan kampus berlangsung secara adil dan manusiawi,” demikian pernyataan PPUI.
Sebagai bagian dari peringatan May Day, PPUI mengajak seluruh pekerja UI untuk bersatu menyuarakan hak-haknya, serta mengundang dukungan publik luas demi terwujudnya sistem pendidikan yang adil dan bermartabat. Aksi peringatan direncanakan berlangsung pada 1 Mei 2026 mulai pukul 11.00 WIB di kawasan Senayan Park.
PPUI menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa universitas yang bermartabat hanya dapat berdiri di atas kerja yang bermartabat. Mereka menyerukan agar UI menunjukkan komitmen nyata terhadap keadilan sosial, tidak hanya dalam wacana akademik, tetapi juga dalam praktik ketenagakerjaan sehari-hari.

Kamis, 30 April 2026

Horor "Budak Korporat": Film Monster Pabrik Rambut Rilis Trailer dan Siap Teror Bioskop 4 Juni

Kompassantri-online, Jakarta – Palari Films resmi merilis trailer, poster, dan lagu tema (*original soundtrack*) untuk film horor terbaru mereka, *Monster Pabrik Rambut*, pada Rabu (29/4/2026)[cite: 1]. Film yang disutradarai oleh Edwin ini menjanjikan pengalaman sinematik unik yang mengangkat sisi kelam dunia kerja dan fenomena *hustle culture* yang akrab bagi generasi masa kini[cite: 1].

Dijadwalkan tayang mulai **4 Juni 2026**, film ini dibintangi oleh jajaran aktor ternama seperti Rachel Amanda, Lutesha, dan menjadi debut film horor bagi Iqbaal Ramadhan[cite: 1].

### Sinopsis: Misteri di Balik Lembar Kerja
Cerita berpusat pada Putri (Rachel Amanda) dan Ida (Lutesha), kakak beradik yang bekerja di sebuah pabrik rambut demi mengungkap misteri kematian ibu mereka yang mencurigakan[cite: 1]. Ida meyakini sang ibu tewas akibat kekuatan supranatural saat bekerja, sementara Maryati (Didik Nini Thowok), pemilik pabrik, bersikeras bahwa itu adalah kasus bunuh diri[cite: 1].

Dalam usahanya membuktikan kebenaran, Ida nekat melakukan lembur ekstrem tanpa tidur berhari-hari untuk memancing sosok hitam misterius yang ia yakini menghantui pabrik tersebut[cite: 1]. Situasi semakin mencekam ketika adik bungsu mereka, Bona (Iqbaal Ramadhan)—yang memiliki kemampuan regenerasi tubuh unik seperti *Axolotl*—justru terseret dalam bahaya dan disandera oleh sosok hitam tersebut[cite: 1].

### Metafora Eksploitasi Pekerja
Sutradara Edwin menjelaskan bahwa film ini merupakan kritik terhadap kondisi kerja modern yang seringkali memperlakukan manusia layaknya mesin produktivitas[cite: 1]. 

"Kami ingin menyampaikan bahwa kondisi kerja seringkali membuat kita menjadi seperti mesin, kerja terus menerus... Malah diharapkan bisa ganti 'spare parts' sendiri," ujar Edwin[cite: 1]. Rachel Amanda pun menambahkan bahwa film ini menyuarakan keresahan tentang pentingnya istirahat sebagai hak asasi manusia di tengah gempuran lembur yang bisa berujung fatal[cite: 1].

### Kolaborasi Internasional dan OST Unik
*Monster Pabrik Rambut* bukan sekadar film lokal biasa, melainkan hasil ko-produksi internasional yang melibatkan lima negara: Indonesia, Singapura, Jepang, Jerman, dan Prancis[cite: 1]. Di balik layar, nama-nama besar seperti Ernest Prakasa, Dian Sastrowardoyo, dan Maudy Ayunda turut andil sebagai produser eksekutif[cite: 1].

Melengkapi nuansa horor yang relevan, Sal Priadi menciptakan dan menyanyikan lagu tema berjudul **"Kepala, Pundak, Kerja Lagi"**[cite: 1]. Lagu ini diprediksi akan menjadi *anthem* bagi para pekerja yang tetap harus berjuang di tengah kelelahan fisik dan mental[cite: 1].

Bagi para penikmat film horor yang mencari cerita dengan isu sosial yang kuat, *Monster Pabrik Rambut* siap memberikan teror yang "lebih horor dari sekadar hantu" mulai Juni mendatang[cite: 1].

*Referensi:
Press Release- Film Monster Pabrik Rambut Merilis Official Trailer, Poster & OST_ Horor Dunia Kerja yang Lebih Horor dari Film Horor.pdf*[cite: 1]

Rabu, 29 April 2026

Fashion Show Nina Nugroho Curi Perhatian di Diskusi NGOBRAS Kartini 2026

Kompassantri-online, Jakarta – Penampilan busana muslim karya desainer Nina Septiana Nugroho mencuri perhatian peserta diskusi NGOBRAS Kartini Film, Musik, dan Seni 2026. Acara kolaborasi FORWAN Indonesia, Kementerian Kebudayaan RI, BNI 46, KAPITA, Mata Langit, dan KEMALA itu digelar di Auditorium Jusuf Ronodipuro LPP RRI Jakarta, Selasa (28/4/2026).

Kepala Bidang Humas dan Informasi Publik Kementerian Kebudayaan RI, Yayuk Sri Budi Rahayu, http://S.Sos., http://M.Pd., mengapresiasi penampilan tersebut. “Busana muslim karya Nina Nugroho sangat menarik dan memberi warna tersendiri. Ada perpaduan seni, budaya, dan kreativitas perempuan Indonesia yang ditampilkan dengan sangat baik,” ujarnya.

Apresiasi serupa disampaikan Sub Branch Manager BNI 46, Asiana G. Dyah Buwana. Menurutnya, busana muslim kini berkembang pesat, elegan, dan tetap mengikuti tren tanpa meninggalkan nilai budaya.

Nina Septiana Nugroho mengaku bersyukur karyanya mendapat sambutan positif. “Saya ingin memberi karya terbaik untuk FORWAN. Karena acara ini menghadirkan perempuan inspiratif, saya terpacu menampilkan koleksi spesial,” kata Nina.

Ketua Umum FORWAN Indonesia, Sutrisno Buyil, menegaskan pihaknya selalu memberi ruang bagi pengurus untuk menampilkan karya. “Penampilan Mbak Nina bersama Nana Mardiana dan Panglima Langit menjadi kebanggaan tersendiri bagi organisasi,” ujarnya.

Diskusi NGOBRAS Kartini Film, Musik, dan Seni 2026 berlangsung hangat dan menghadirkan tokoh perempuan kreatif yang berbagi pengalaman tentang peran perempuan dalam pengembangan seni dan budaya Indonesia.

Diskusi NGOBRAS: Kartini Film, Musik, dan Seni Dibuka Kemenkeb

Kompassantri-online, Jakarta-Diskusi Ngobrol Santai (NGOBRAS) bareng Kartini Film Musik dan Seni secara resmi dibuka oleh Yayuk Sri Budi Rahayu. Sos.M.Pd, Kepala Bidang Humas danInformasi Publik Kementerian Kebudayaan RI didampingi Artis dengan memukul drum.

"Sejauh yang pernah hadir di acara diskusi, baru kali ini ada diskusi yang dipadukan dengan fashion show dan musik. Keren, idenya. Sesuatu banget," ujar Yayuk usai diskusi di Auditorium Jusuf Ronodipuro LPP RRi Jakarta. Selasa,(28/4/2026)

Yayuk dalam kata sambutannya, mengaku surprise melihat acara diskusi yang digagas Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) Indonesia berkolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan RI, Bank BNI 46, Nina Nugroho, Mata Langit, Chic's Musik, SAE, KAPITA, Agraria Today, greenblue.id dan JPKP. 

"Menurut saya event ini menarik dan berkelas, perlu dipertahankan dan ditingkatkan. Nanti saya laporkan ke pipimpinan diskusinya berjalan sukses Dan berbeda Dari diskusi pads umumnya. Untuk itu diskusi yang digelar mesti didukung terus, " Ujar Yayuk serius. 

Sementara Asiana G Dyah Buwana Sub Branch Manager PT Bank Negara Indonesia 46 (Persero) Tbk 
Menegaskan kalau Bank BNI 46 mensuport kegiatan Diskusi NGOBROL Santai Bareng Kartini Film, Musik dan Seni karena kegiatan tersebut semangatnya sama dengan BNI 46 yakni memberikan pencerahan serta edukasi kepada masyarakat tentang Wanita hebat masa kini di industry film, musik dan seni berkat perjuangan Ibu Kita Kartini.

“BNI ikut mensuport diskusi ini, karena acaranya keren, narasumbernya Wanita hebatnya dibidangnya yang sangat inspiratip. Apalagi ada balutan hiburan musik dan fashion show oleh disainer kondang, Ibu Nina Nugroho dan penyanyi beken seperti Mbak Ratna Listy, Nana Mardiana dan Panglima,” ujar Asiana G Dyah Buwana dalam kata sambutannya.

Diskusi yang hadiri ratusan ibu-ibu dari komunitas Jalan Jalan Santai (JJS), puluhan awak media juga dihadiri artis senior Niniek L Karim dan Seno M Harjo serta pejabat Bank BNI seperti Lilis Cucu, Elvi / RM Emerald dan Wulan / Pemimpin OBO.

Yang membuat peserta diskusi terhibur dan tidak mau beranjak dari auditorium, karena mereka tidak hanya mendengarkan paparan narasumber perempuan hebat seperti Yayuk Sri Budi Rahayu. Sos.M.Pd, Dr. Nungki Kusumastuti, Dra. Ati Ganda, Nucke Rahma SH serta moderator Telni Rustitantri dan dihibur Ratna Listy, Panglima Langit, Nana Mardiana, Madeena dan Band KBK.

"Syukur Alhamdulillah acara diskusi NGOBRAS Ngobrol Santai Bareng Kartini Film Musik dan Seni berjalan lancar sukses, terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kegiatan ini," ujar Sutrisno Buyil ketua umum FORWAN. (Alwi)