Kompassantri.Online - Ibadah puasa bukan sekadar memindahkan jam makan atau menahan haus. Ia adalah sebuah seni spiritual yang keindahannya terletak pada detail-detail kecilnya. Syekh Muhammad ibn ‘Umar Nawawi al-Bantani dalam kitab Nihâyah al-Zain mengingatkan kita bahwa meski amalan sunnah tidak menentukan sah atau tidaknya puasa, ia adalah kunci kesempurnaan dan rahasia di balik melimpahnya pahala.
Berikut adalah 10 tuntunan luhur untuk menghidupkan kualitas puasa kita:
1. Merengkuh Keberkahan Sahur
Sahur bukan sekadar pengganjal perut agar kuat berpuasa. Rasulullah SAW menyebut ada "barakah" di dalamnya. Secara teknis, sahur sudah dianggap sah meski hanya dengan seteguk air setelah tengah malam. Sunnahnya, sahur dilakukan mendekati waktu fajar (diakhirkan) selama tidak sampai menyentuh batas keraguan (syak). Di sinilah letak kebaikan umat ini: disiplin dalam waktu.
2. Menyegerakan Berbuka dengan Kelembutan
Begitu azan Maghrib berkumandang dan waktu sudah pasti, segeralah membatalkan puasa. Urutan idealnya adalah mengikuti ritme alamiah tubuh: mulailah dengan kurma basah (ruthab), jika tak ada gunakan kurma kering (tamar), dan jika tak ada pula, air putih adalah penawar terbaik yang menyucikan. Jika pilihannya adalah madu atau susu, maka madu yang manis lebih didahulukan.
3. Melangitkan Doa di Kala Berbuka
Momen berbuka adalah waktu mustajab. Ucapkanlah rasa syukur melalui doa-doa yang diajarkan Nabi. Di balik kata-kata "Dzahabaz zhama'u..." (telah hilang rasa haus), tersimpan pengakuan hamba bahwa segala kekuatan untuk bertahan seharian penuh hanyalah berkat taufik dan rezeki dari-Nya.
4. Kesucian Diri Sebelum Fajar
Sebaiknya, mandi besar (janabah, haid, atau nifas) dituntaskan sebelum fajar menyingsing. Selain agar kita memasuki waktu ibadah dalam keadaan suci paripurna, hal ini juga demi menghindari risiko masuknya air ke dalam rongga tubuh saat mandi di siang hari yang berpotensi membatalkan puasa.
5. Diplomasi Lisan: Puasa Kata-Kata
Puasa lisan jauh lebih berat daripada puasa perut. Menahan diri dari dusta, ghibah (gunjing), dan perkataan sia-sia adalah harga mati. Tanpa penjagaan lidah, puasa kita berisiko gugur pahalanya dan hanya menyisakan lapar yang tak bernilai di sisi Allah.
6. Menjinakkan Hasrat Nafsu
Hakikat puasa adalah pengendalian diri. Sunnah hukumnya menjauhi segala hal yang "memanjakan" panca indra secara berlebihan, meskipun itu halal. Musik yang melalaikan, tontonan yang tak bermakna, hingga wangi-wangian yang menggoda syahwat sebaiknya dikurangi agar hati tetap fokus pada tujuan ukhrawi.
7. Memperluas Jejak Kedermawanan
Ramadhan adalah bulan berbagi. Perbanyaklah sedekah kepada keluarga dan sesama. Memberi makan orang berbuka—meski hanya sebutir kurma—akan mengalirkan pahala orang yang berpuasa tersebut kepada kita tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Selain harta, "sedekah" waktu untuk tadarus dan menuntut ilmu juga sangat dianjurkan.
8. I'tikaf: Menepi dari Hiruk Pikuk Dunia
Gunakanlah waktu untuk berdiam diri di masjid (i'tikaf). Jika tak mampu sebulan penuh, kejarlah di sepuluh malam terakhir. Inilah saatnya "mengencangkan ikat pinggang"—sebagaimana teladan Rasulullah—untuk menjemput malam kemuliaan dengan kesungguhan total.
9. Menuntaskan Rindu pada Al-Qur'an
Targetkanlah untuk mengkhatamkan Al-Qur'an setidaknya satu kali selama Ramadhan. Mari meneladani para ulama seperti Imam al-Syafi‘i yang saking cintanya pada wahyu Tuhan, mampu mengkhatamkannya berulang kali sebagai bentuk penghormatan pada bulan turunnya Al-Qur'an.
10. Merawat Napas Istiqamah
Puncak dari segala amalan Ramadhan adalah keberlanjutannya. Kesuksesan puasa seseorang terlihat dari bagaimana ia membawa ritme ibadahnya ke bulan-bulan berikutnya. Ramadhan bukanlah akhir, melainkan titik start untuk menjadi pribadi yang baru dan konsisten dalam kebaikan.
Social Plugin