Kultum Ramadhan: Agar Puasa Tak Hanya Menjadi Rutinitas Tahunan|Menakar Hakikat Puasa: Transformasi Jiwa atau Sekadar Ritual Lapar?


 Kompassantri.Online-Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri, sudah berapa kali Ramadhan menyapa lalu pergi? Tahun demi tahun kita lalui dengan menahan haus dan lapar, namun sudahkah ibadah tersebut membekas dalam karakter kita? Jangan-sampai, puasa kita hanya menjadi rutinitas mekanis yang kehilangan ruhnya, sehingga yang tersisa hanyalah rasa lapar di perut tanpa ada perubahan di hati.

Hal ini sejalan dengan peringatan Rasulullah SAW bahwa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa pun kecuali rasa lapar semata (HR. Ahmad).

Puasa sebagai Madrasah Ketakwaan

Tujuan utama puasa, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah: 183, adalah untuk membentuk pribadi yang bertakwa. Menariknya, menurut pakar tafsir Ibnu Asyur, kata "agar kamu bertakwa" dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa puasa didesain sebagai sarana untuk mencapai tujuan tersebut secara sistematis.

Takwa bukan sekadar konsep, melainkan tindakan nyata menjauhi maksiat. Ibnu Asyur membagi maksiat menjadi dua kategori:

  1. Maksiat Intelektual: Yang bisa ditinggalkan lewat perenungan (seperti judi atau mencuri).

  2. Maksiat Instingtual: Yang lahir dari dorongan amarah dan syahwat.

Di sinilah peran puasa. Ia berfungsi menyeimbangkan dorongan biologis manusia, mengangkat derajat kita dari sekadar makhluk yang didikte nafsu "kebinatangan" menuju kemuliaan spiritual layaknya sifat malaikat.

Enam Kunci Puasa yang Berkualitas

Agar puasa tidak sekadar sah secara formalitas fikih, Imam Al-Ghazali (dalam ringkasan Ihya Ulumuddin) menawarkan enam panduan etika agar puasa kita lebih bermakna:

  1. Puasa Mata: Menjaga pandangan dari hal-hal yang tidak bermanfaat atau yang dapat memalingkan hati dari mengingat Allah.

  2. Puasa Lisan: Membentengi mulut dari ghibah, dusta, debat kusir, dan ucapan kasar.

  3. Puasa Telinga: Menghindari mendengarkan hal-hal yang dilarang, karena pendengar adalah "sekutu" dari pembicara.

  4. Puasa Anggota Tubuh: Menjaga tangan, kaki, dan perut. Sangat kontradiktif jika seseorang menahan makanan halal di siang hari, namun berbuka dengan sesuatu yang syubhat atau haram.

  5. Puasa dari Ketamakan: Tidak menjadikan waktu berbuka sebagai ajang "balas dendam" dengan makan berlebihan. Esensi puasa adalah melemahkan nafsu, bukan memindah jam makan dengan porsi ganda.

  6. Sikap Rendah Hati Pasca-Ibadah: Merasakan kekhawatiran yang positif (khauf) apakah amalan kita diterima atau justru ditolak oleh Allah.

Kesimpulan

Puasa yang berhasil adalah puasa yang mampu mentransformasi perilaku. Ia melatih kita mengendalikan hal yang halal agar kita punya kekuatan ekstra untuk menjauhi yang haram. Jika dilakukan dengan adab yang benar, puasa akan melahirkan kontrol diri yang kuat, integritas meski tanpa pengawasan manusia, serta pola hidup yang bersahaja.